Belasan petani Raja Ampat ikit pelatihan budidaya kakao - ANTARA News Papua Tengah

July 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 19 petani kakao di Kampung Wailebet, Kepulauan Batanta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, mengikuti pelatihan budidaya kakao dan manajemen koperasi yang digelar Yayasan EcoNusa untuk meningkatkan produktivitas kebun serta memperkuat kelembagaan petani.

Pelatihan yang berlangsung pada 20-25 Juni 2026 itu juga membekali peserta dengan teknik penanganan pascapanen guna meningkatkan kualitas biji kakao.

"Melalui pelatihan ini, petani memperoleh pemahaman mengenai teknik budidaya yang tepat, mulai dari pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga penanganan pascapanen. Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas biji kakao," kata Staf Yayasan EcoNusa Elvira Lumapuy dalam siaran pers pada Minggu.

Selama enam hari, peserta mendapatkan materi pembibitan, teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, fermentasi biji kakao, serta manajemen koperasi. Pelatihan juga diisi praktik lapangan, termasuk teknik sambung pucuk dan sambung cupon untuk meremajakan tanaman kakao yang kurang produktif tanpa harus melakukan penanaman ulang.

Selain peningkatan keterampilan budidaya, peserta memperoleh pembekalan mengenai tata kelola koperasi, administrasi, dan pengelolaan keuangan. Penguatan kelembagaan tersebut diharapkan membantu petani memperluas akses terhadap pembiayaan, sarana produksi, serta pemasaran hasil panen.

Staf Yayasan EcoNusa Nurdana Pratiwi mengatakan koperasi berperan penting dalam meningkatkan posisi tawar petani melalui pengelolaan usaha secara bersama.

"Koperasi menjadi wadah bagi petani untuk mengelola usaha secara bersama, memperkuat akses pembiayaan, dan meningkatkan nilai jual hasil produksi. Kelembagaan yang kuat akan mendukung pengembangan usaha kakao yang lebih berkelanjutan," katanya.

Salah seorang peserta pelatihan, Deni, mengaku memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan langsung di kebunnya.

"Kami jadi memahami cara merawat tanaman, melakukan fermentasi, dan pentingnya koperasi dalam membantu pengembangan usaha kakao. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil panen kami," ujarnya.

Masyarakat Kampung Wailebet membudidayakan kakao dengan sistem agroforestri yang memadukan tanaman kakao dengan berbagai jenis pohon dalam satu kawasan. Pendekatan tersebut tidak hanya mendukung peningkatan pendapatan petani, tetapi juga membantu menjaga tutupan hutan, kesuburan tanah, dan keanekaragaman hayati di Raja Ampat.

Praktik budidaya kakao berbasis agroforestri di Kampung Wailebet akan menjadi salah satu contoh yang dibahas dalam Papeda Summit di Sorong pada 2-4 September 2026. Forum itu mempertemukan masyarakat adat, pemerintah, akademisi, komunitas lokal, dan organisasi masyarakat sipil untuk berbagi praktik pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di Tanah Papua.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pelatihan kakao perkuat kapasitas petani dan koperasi di Raja Ampat

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.