Anggota DPR Azis Subekti: Dunia Harus Beralih dari Kemenangan Menuju Koeksistensi

July 2026 · 2 minute read

Bagikan:

JAKARTA — Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti menilai perubahan karakter konflik global menuntut masyarakat internasional meninggalkan paradigma kemenangan mutlak dan mulai membangun paradigma koeksistensi.

Menurut Azis, keterhubungan ekonomi dan kemajuan teknologi telah membuat dampak konflik menjangkau wilayah yang jauh dari pusat peperangan. Gangguan di jalur perdagangan dapat mengerek biaya energi, serangan siber di satu negara bisa mengganggu sistem keuangan negara lain. Sementara penggunaan drone membuat fasilitas bernilai tinggi dapat diserang dengan biaya yang relatif murah.

“Kita hidup dalam dunia yang semakin terintegrasi, tetapi membawa perangkat psikologis yang dibentuk oleh ribuan tahun kompetisi antarkelompok,” ujar Azis dalam keterangannya, Minggu, 26 Juli.

Pernyataan tersebut juga tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Dari Paradigma Kemenangan Menuju Paradigma Koeksistensi”.

Ia menjelaskan dalam konflik modern, keberhasilan di medan perang tidak selalu menghasilkan keuntungan politik dan ekonomi. Negara atau kelompok yang mampu menyerang lawannya juga belum tentu mampu mengendalikan konsekuensi serangan tersebut.

“Semua pihak dapat menyerang. Tetapi semakin sedikit pihak yang mampu menang secara mutlak,” katanya.

Pernyataan itu juga disampaikan Azis di tengah berlanjutnya ketegangan Amerika Serikat–Iran di kawasan Teluk dan meningkatnya kembali pembicaraan diplomatik mengenai perang Rusia–Ukraina.

Azis mengatakan koeksistensi tidak berarti menghilangkan perbedaan maupun menghentikan persaingan antarnegara. Paradigma tersebut, menurut dia, berangkat dari kesadaran persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama.

Ia menilai pendekatan serupa dibutuhkan dalam menghadapi tantangan lintas negara, seperti perubahan iklim, pandemi, keamanan siber, dan tata kelola kecerdasan buatan.

“Tidak ada tembok yang cukup tinggi untuk menghentikan karbon. Tidak ada kapal induk yang dapat memblokade algoritma,” tuturnya.

Pada 6–7 Juli 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar Dialog Global Tata Kelola Kecerdasan Buatan di Jenewa. Forum tersebut membahas pengalaman dan pendekatan bersama dalam mengatur perkembangan teknologi AI.

Azis menyatakan tantangan utama dunia bukan hanya menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi memastikan perkembangan kekuatan manusia diikuti kemampuan bekerja sama dan mengelola perbedaan.

"Keberhasilan sebuah negara pada masa mendatang tidak cukup hanya dinilai dari kekuatan militer atau besarnya perekonomian, tetapi juga kemampuannya menjaga keberlanjutan dan perdamaian," pungkasnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+

Populer

Imigrasi Tanjung Priok Gelar Layanan Paspor Akhir Pekan di Car Free Day Jakarta

27 Juli 2026, 00:05