Menjelajahi kuliner tradisional saat traveling tidak sekadar urusan memanjakan lidah, melainkan bentuk interaksi budaya. Setiap negara menyimpan norma kesopanan (table manners) unik yang sering kali berbanding terbalik dengan kebiasaan di tanah air.
Oleh karena itu, memahami etika makan lokal menjadi kunci utama agar wisatawan terhindar dari kecanggungan sosial sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada tuan rumah. Berikut penjelasannya dilansir dari Cultured Wandered & The Culinary Travel Guide (28/8).
1. Etika Perjamuan di Eropa
Di Eropa, tata krama makan cenderung bersifat formal dan sopan. Seseorang akan dianggap tidak sopan jika meninggalkan meja makan sebelum semua orang selesai. Hal ini mengharuskan kita menunggu sampai tuan rumah memberi isyarat bahwa kita boleh berdiri.
Selain itu, menyembunyikan tangan di bawah meja saat perjamuan dianggap tindakan yang mencurigakan, sehingga kedua pergelangan tangan wajib tetap terlihat di atas meja.
2. Budaya Tip di Amerika
Budaya makan di Amerika Serikat menempatkan kebiasaan memberi tip sebagai sebuah etika penting. Negara ini tidak memasukkan biaya servis langsung ke dalam tagihan akhir seperti kebanyakan negara lain.
Sebagai gantinya, pelanggan membagikan tip sebesar 15% sampai 20% langsung kepada bartender atau pelayan. Tradisi ini menjadi norma umum saat mengunjungi restoran, kedai, maupun bar di sana.
3. Ekspresi Apresiasi dan Hirarki Kehormatan di Asia Timur
Budaya bersantap di Asia Timur sangat dipengaruhi oleh cara menghargai makanan dan orang lain. Di Jepang, menyeruput mi ramen hingga bersuara nyaring atau 'slurping' menjadi bentuk pujian tertinggi kepada koki bahwa masakannya sangat enak. Namun, wisatawan wajib menghindari tindakan menancapkan sumpit secara vertikal di mangkuk nasi karena menyerupai ritual pemakaman.
Sebaliknya, Korea Selatan menekankan hierarki usia di meja makan. Anggota keluarga yang lebih muda dilarang mengangkat alat makan sebelum orang tertua memulainya. Selain itu, saat menerima tuangan minum dari orang yang lebih tua, seseorang wajib memegang gelas menggunakan kedua tangan sebagai simbol penghormatan.
4. Sentuhan Langsung Tangan Kanan dan Kebersihan ala Timur Tengah
Dalam budaya Arab, etika dalam bersantap sangat lekat dengan keramahan dan rasa hormat kepada tamu. Saat duduk di meja makan, mereka sering kali menggunakan tangan, dan bukan alat makan. Hal ini merupakan tanda kedekatan dan keakraban dengan makanan tersebut.
Selain itu, mereka mewajibkan untuk mengambil makanan menggunakan tangan kanan karena tangan kiri secara tegas ditujukan untuk urusan sanitasi pribadi.
5. Etika Unik India Saat Makan
Saat menikmati hidangan India, usahakan selalu menghabiskan makanan di piring. Menyisakan makanan bisa memberi kesan bahwa kita tidak menyukai rasanya atau porsinya terlalu banyak.
Oleh karena itu, ambil porsi secukupnya, habiskan, lalu sampaikan terima kasih atas sajian tersebut. Namun, jika benar-benar kenyang, cukup sisakan sedikit nasi atau roti sebagai tanda bahwa kita telah puas dan menghargai hidangan yang disajikan.
Mempelajari etika makan tradisional dari berbagai negara mengajarkan wisatawan untuk lebih berpikiran terbuka. Keberanian mencoba dan menyesuaikan diri dengan tata cara lokal terbukti ampuh membuka percakapan hangat dengan warga setempat. Oleh sebab itu, sebelum liburan, sempatkan diri untuk mempelajari kebiasaan meja makan di destinasi tujuan agar perjalanan terasa lebih berkesan.