Basarnas perkuat sistem keselamatan pariwisata Aceh - ANTARA News Aceh

August 2026 · 2 minute read

Banda Aceh (ANTARA) - Badan SAR Nasional (Basarnas) Banda Aceh terus berupaya memperkuat sistem keselamatan pariwisata Aceh menyusul banyaknya kejadian di objek wisata dalam satu dekade terakhir.

Kepala Basarnas Banda Aceh Ibnu Harris Al Hussain di Banda Aceh, Jumat, mengatakan ada sebanyak 123 kejadian dengan 160 korban wisatawan tercatat dalam data operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh sepanjang 2015-2026.

"Dari jumlah tersebut, 102 korban meninggal dunia, 44 korban selamat, sementara 14 lainnya dinyatakan hilang. Karena itu, sistem keselamatan wisata Aceh harus diperkuat guna meminimalisir korban saat berwisata di objek wisata," katanya.

Menurut dia, tingginya angka kejadian dan korban tersebut menjadi perhatian dalam rapat koordinasi pengamanan sistem keselamatan pariwisata nasional yang dilaksanakan melalui Forum Duek Pakat Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh.

Ia mengatakan forum tersebut menjadi ruang koordinasi dan sinergi lintas sektor untuk menyamakan persepsi sekaligus membahas langkah-langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan, mekanisme penanganan keadaan darurat, serta sistem keselamatan di kawasan pariwisata Aceh.

"Berdasarkan data operasi, Kabupaten Aceh Besar menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 60 kejadian atau 48,8 persen dari total kejadian di Aceh," katanya.

Ibnu Harris Al Hussain menyebutkan sejumlah kawasan wisata pesisir seperti Lhoknga dan Lampuuk menjadi perhatian karena kejadian di kawasan tersebut tercatat berulang dari tahun ke tahun.

"Kondisi tersebut menunjukkan keselamatan wisata tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika kecelakaan terjadi. Upaya pencegahan, kesiapan sumber daya manusia, pengawasan, ketersediaan fasilitas keselamatan, serta kejelasan mekanisme penanganan darurat perlu dibangun secara terpadu sebelum risiko berkembang menjadi kejadian," katanya.

Ia menambahkan penguatan kapasitas pengelola destinasi dan masyarakat lokal dinilai penting, termasuk melalui pelatihan keselamatan seperti Balawista dan peningkatan keterampilan menghadapi kondisi darurat di destinasi wisata.

"Kami menilai keselamatan pariwisata merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, pengelola destinasi, masyarakat, aparat keamanan, tenaga kesehatan, hingga pemandu wisata," kata Ibnu Harris Al Hussain.
 

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : M Ifdhal

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.