Tangerang (ANTARA) - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melakukan koordinasi antar-SAR dan unsur terkait setelah adanya hasil identifikasi korban bernama Sukarman (60), yang merupakan salah satu kru kapal Arupadatu I yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad mengatakan sebagai langkah antisipasi dan pemantauan lanjutan, Basarnas telah membangun komunikasi lintas wilayah dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung, termasuk melibatkan kelompok nelayan lokal di sekitar perairan yang menjadi lokasi penemuan jasad korban.
"Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut," katanya dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Tangerang, Rabu.
Ia mengatakan unsur SAR di Bengkulu masih menjalankan pemantauan serta penyisiran terbatas di sekitar wilayah Pulau Enggano, Bengkulu, guna menindaklanjuti setiap informasi yang masuk dari masyarakat maupun nelayan setempat.
"Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano," ujarnya.
Sebelumnya, Basarnas secara resmi telah menutup operasi pencarian korban insiden hilangnya kapal Arupadhatu I yang membawa lima jurnalis dan tiga orang kru setelah melewati batas ketentuan standar operasi dan masa perpanjangan.
Pelaksanaan operasi SAR mengacu pada prosedur tetap yang berlaku, yakni pencarian dasar selama tujuh hari, yang kemudian dilanjutkan dengan perpanjangan tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.
"Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari," ucapnya.
Amrad menambahkan pada pelaksanaan tujuh hari tersebut, tim SAR mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12 September, kemudian sampai tanggal 14 September dilakukan evaluasi dan operasi diperpanjang selama tiga hari.
Selama masa perpanjangan tiga hari tersebut, tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda korban lain, selain sejumlah objek yang sebelumnya telah diidentifikasi dan dilaporkan dari lapangan.
"Kami tetap membuka ruang tindak lanjut melalui koordinasi intensif dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah perairan yang memiliki keterkaitan dengan area pencarian," ujarnya.
Terkait penemuan jenazah di Pulau Enggano, Bengkulu, sebelumnya informasi tersebut tidak langsung diumumkan sebagai bagian dari korban kapal Arupadhatu I karena Basarnas harus terlebih dahulu menunggu tahapan identifikasi ilmiah secara medis serta proses pencocokan data dengan pihak keluarga.
"Kenapa tidak disampaikan dari awal? Karena seperti yang tadi disampaikan Kapolda, kita harus menunggu hasil identifikasi lebih lanjut dengan data keluarga. Setelah proses identifikasi dan pencocokan dilakukan, hasilnya dapat kita sampaikan bersama," jelasnya.
Operasi pencarian kapal Arupadhatu I melibatkan unsur gabungan multisektoral yang mencakup area perairan luas mulai dari perairan Banten, Lampung, hingga pesisir Bengkulu, dengan pengerahan armada utama secara optimal di berbagai sektor pencarian.
"Ke depan, Polri dan Basarnas berkomitmen untuk terus menjaga sinergi dengan masyarakat pesisir guna menindaklanjuti setiap informasi baru yang berpotensi berkaitan dengan kelanjutan pencarian korban maupun material kapal," katanya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Basarnas koordinasi antar-SAR usai identifikasi kru kapal Arupadhatu I
Pewarta: Azmi Syamsul Ma'arif
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.