Bapanas catat 6.589 gerakan pangan murah hingga Juli, redam inflasi

August 2026 · 3 minute read

Bapanas catat 6.589 gerakan pangan murah hingga Juli, redam inflasi

Sabtu, 1 Agustus 2026 16:12 WIB

Image Print

Direktur Stabilisasi Pangan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas Maino Dwi Hartono (kedua kanan) dalam pelaksanaan GPM di Tasikmalaya, Jawa Barat yang dilaksana atas sinergi Bapanas dengan pemerintah kota setempat, DPD, dan DPR RI. ANTARA/HO-Bapanas

Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat 6.589 gerakan pangan murah (GPM) terlaksana di 38 provinsi hingga Juli 2026 guna menjaga stabilitas harga pangan sekaligus membantu masyarakat menghadapi tekanan inflasi nasional.

"Dalam catatan Bapanas, total GPM yang telah dimasifkan di seluruh Indonesia sejak Januari sampai akhir Juli (2026) ini telah mencapai 6.589 kali di 38 provinsi dan 448 kabupaten/kota," kata Direktur Stabilisasi Pangan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas Maino Dwi Hartono dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Dia menyampaikan hal itu dalam pelaksanaan GPM di Tasikmalaya, Jawa Barat yang dilaksana atas sinergi Bapanas dengan pemerintah kota setempat, DPD, dan DPR RI.

Ia mengungkapkan instrumen GPM menjadi andalan pemerintah untuk meredam inflasi di daerah.

"GPM Kota Tasikmalaya ini lengkap mulai dari legislator, senator, pemkot, dan tentu Badan Pangan Nasional sendiri," tuturnya.

Ia menekankan GPM menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam membantu masyarakat memperoleh pangan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga.

Menurut dia, pelaksanaan GPM yang dilakukan secara rutin di berbagai daerah terbukti berkontribusi terhadap upaya pengendalian inflasi, sehingga masyarakat dapat mengakses kebutuhan pangan dengan harga lebih terjangkau di tengah fluktuasi harga.

Ia menyebutkan berdasarkan data Juni 2026, tingkat inflasi nasional tercatat sebesar 3,34 persen, sedangkan Jawa Barat berada di level 3,08 persen. Adapun Kota Tasikmalaya mencatat inflasi lebih rendah, yakni 2,72 persen, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,82 persen.

"Inflasi di bulan Juni secara nasional sekitar 3,34 persen. Jawa Barat sedikit lebih rendah di 3,08 persen. Tapi Tasikmalaya hanya 2,72 persen dan ini ternyata turun dari bulan sebelumnya 2,82 persen," beber Maino.

Ia menekankan bagi provinsi yang rajin melaksanakan GPM secara rutin setiap bulannya, tercatat memperoleh tingkat inflasi yang lebih stabil.

Lebih lanjut, Provinsi Jawa Barat telah menyelenggarakan GPM sebanyak 754 kali dan masuk tiga besar terbanyak secara nasional dari segi pelaksanaan terbanyak. Inflasinya masih cukup baik di level 3,08 persen.

Sementara, Provinsi Jawa Tengah yang menjadi daerah GPM terbanyak dengan 910 kali mencatatkan inflasi Juni 2026 di level yang cukup baik, 2,92 persen. Hal itu membuktikan adanya pasar murah seperti GPM dapat meningkatkan keterjangkauan harga pangan pokok bagi masyarakat.

Maino menambahkan hal itu sejalan dengan arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menekankan agar GPM terus digelar bersama pemerintah daerah serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait.

"Sehingga menjadi salah satu instrumen yang signifikan dalam menjaga stabilitas harga pangan," kata Maino.

Adapun komoditas pangan yang dijual dalam program GPM utamanya meliputi bahan pokok seperti beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), minyak goreng kemasan, dan gula pasir.

Selain itu, program itu juga menyediakan pasokan protein hewan seperti telur ayam ras, daging ayam segar, dan daging sapi beku dengan harga di bawah pasar.

Pewarta : Muhammad Harianto
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026