Jakarta, CNN Indonesia --
Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, memicu penutupan sementara empat bandara di Indonesia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, sejak Minggu (6/9).
Langkah krusial ini diambil demi mengantisipasi bahaya fatal abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan, sebuah risiko geologi yang telah lama menjadi ancaman nyata dalam sejarah aviasi dunia.
Berdasarkan data AirNav Indonesia, empat fasilitas aviasi yang dihentikan operasionalnya meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erupsi yang bermula sejak Jumat (4/9) malam WIB tersebut melontarkan kolom abu hingga ketinggian 20.000 sampai 50.000 kaki, menyebar melintasi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, hingga kawasan Samudra Hindia.
Pilihan Redaksi
- Garuda Indonesia Batalkan Semua Rute Penerbangan Jakarta sampai Besok
- Daftar 8 Bandara yang Ditutup Imbas Erupsi Anak Krakatau Hari Ini
- Bandara Tutup? Jangan Panik, Ini Cara Refund Tiket Pesawat
Ancaman abu vulkanik terhadap armada udara memiliki rekam jejak kelam. Sejarah aviasi mencatat perubahan standar keselamatan penerbangan global berakar dari bencana erupsi Gunung Galunggung pada 1982, melansir Detik.
Kala itu, pesawat British Airways B747 rute Kuala Lumpur-Perth mengalami mati mesin total di ketinggian 11.300 meter setelah melintasi awan abu.
Pesawat sempat meluncur tanpa daya selama 16 menit sebelum pilot berhasil menyalakan kembali mesin dan melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Kejadian serupa berulang tiga minggu kemudian pada pesawat Singapore Airlines.
Secara teknis, abu vulkanik sangat berbahaya karena mengandung partikel tajam dan asam yang dapat memicu kerusakan beruntun pada pesawat.
Material ini mampu menyebabkan mati mesin mendadak, mengikis komponen avionik dan kaca depan, menyumbat saluran pipa serta filter, menurunkan kualitas bahan bakar, hingga memicu korosi pada permukaan logam pesawat.
Dampak fatal dari krisis Galunggung tersebut pada akhirnya mendorong Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) membentuk International Airways Volcano Watch (IAVW).
Sistem pemantauan global ini bertugas mengawasi sebaran abu vulkanik secara real-time demi menjamin keselamatan jalur penerbangan internasional dari bahaya erupsi gunung berapi.
(wiw)