Jakarta -
Operasi udara terus dilakukan untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Pada Kamis-Jumat, 20-21 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama unsur terkait mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing demi menjangkau titik-titik kebakaran dari udara.
Jumlah air yang dijatuhkan tidak sedikit. Dalam salah satu operasi di Kalimantan Selatan, tiga helikopter melakukan 384 kali penjatuhan dengan total sekitar 1,536 juta liter air.
Pemandangan helikopter membawa muatan air lalu menumpahkannya ke kawasan terbakar mungkin terlihat sederhana. Kenyataannya, menjatuhkan ribuan liter air dari udara tidak bisa dilakukan asal siram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilot harus memperhitungkan ketinggian, kecepatan terbang, angin, medan hingga kondisi kebakaran agar air jatuh dengan pola yang dibutuhkan.
Tiga Helikopter Jatuhkan 1,5 Juta Liter Air
Selain operasi darat, BNPB memperkuat penanganan karhutla melalui operasi udara. Armada yang disiagakan di Lanud Sjamsudin Noor, Kalimantan Selatan, terdiri dari dua unit patroli udara dan tiga helikopter water bombing.
Patroli menggunakan helikopter Bell 206 PK-IWF dan pesawat Cessna Caravan C208 PK-SNK. Dalam waktu terbang 4 jam 35 menit, patroli menemukan 29 titik api dengan estimasi luas lahan terbakar sekitar 536 hektare.
Sementara itu, tiga helikopter dikerahkan khusus untuk menjatuhkan air.
AS 322C1 Super Puma PK-DAN melakukan 245 kali penjatuhan dengan total sekitar 980.000 liter air. Helikopter MI8-AMT RA-22834 melakukan 57 kali penjatuhan dengan total sekitar 228.000 liter, sedangkan Sikorsky Black Hawk N711BF melakukan 82 kali penjatuhan dengan total sekitar 328.000 liter.
Jika dijumlahkan, ketiga helikopter tersebut menjatuhkan sekitar 1,536 juta liter air dalam 384 kali penjatuhan.
Operasi udara diprioritaskan untuk lokasi yang sulit dijangkau lewat darat, terutama area yang mendekati permukiman serta kawasan Ring 1 Bandara Sjamsudin Noor, Banjarbaru. Sementara operasi darat dimaksimalkan pada titik yang berada di area IUP/HGU.
Bagaimana Water Bombing Bisa Tepat Sasaran?
Operasi udara mengatasi karhutla di Kalimantan. Foto: BNPB
Menjatuhkan air dari helikopter tidak sesederhana terbang tepat di atas api kemudian membuka tangki.
Dalam operasi pemadaman kebakaran, helikopter dapat menggunakan tangki internal maupun perangkat seperti helibucket yang digantung di bawah badan helikopter.
Pengujian USDA Forest Service menunjukkan pola air yang mencapai permukaan sangat dipengaruhi kecepatan terbang, ketinggian saat air dilepaskan dan laju aliran air. USDA Forest Service
Artinya, pilot harus menentukan kapan air dilepaskan dengan mempertimbangkan pergerakan helikopter dan kondisi di bawahnya.
Angin juga menjadi faktor penting. Air yang dijatuhkan dari ketinggian akan terbawa angin sebelum mencapai tanah. Semakin kuat angin, pola jatuhnya air dapat semakin melebar dan konsentrasinya pada satu area berkurang.
Karena itu, target water bombing juga tidak selalu berarti pusat kobaran api terbesar.
Air dapat diarahkan ke bagian tertentu untuk menekan penyebaran api, membasahi area di jalur rambatan kebakaran atau membantu tim darat mendekati lokasi dengan lebih aman.
Satu Kali Drop Sekitar 4.000 Liter
Data operasi BNPB di Kalimantan Selatan memberikan gambaran menarik tentang skala water bombing.
Super Puma menjatuhkan 980.000 liter dalam 245 kali drop. Jika dirata-rata, jumlahnya sekitar 4.000 liter dalam sekali penjatuhan.
Angka yang sama terlihat pada MI8-AMT, yakni 228.000 liter dalam 57 kali penjatuhan, atau sekitar 4.000 liter per drop. Black Hawk juga mencatat sekitar 4.000 liter per penjatuhan, berdasarkan total 328.000 liter dalam 82 kali drop.
Helikopter water bombing BNPB melakukan pengeboman air di kawasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) . Foto: dok BNPB
Dengan kata lain, dalam operasi tersebut sebuah helikopter dapat menjatuhkan air yang volumenya kira-kira setara 20 bak mandi berkapasitas 200 liter hanya dalam satu kali pelepasan.
Setelah itu helikopter harus mengambil muatan air lagi sebelum kembali menuju titik kebakaran. Siklus tersebut dapat dilakukan berkali-kali selama kondisi penerbangan dan operasi memungkinkan.
Kenapa Karhutla Tidak Langsung Padam?
Meski jutaan liter air sudah dijatuhkan, water bombing bukan tombol ajaib yang langsung memadamkan seluruh karhutla.
Hal ini terutama berlaku pada kebakaran lahan gambut. Api dapat merambat ke material organik di bawah permukaan sehingga bagian atas terlihat sudah padam, tetapi bara masih bertahan di dalam tanah.
Karena itu pemadaman dari udara harus dikombinasikan dengan operasi darat dan pembasahan area kebakaran.
Helikopter berperan penting untuk menekan api dengan cepat dan menjangkau lokasi yang sulit didatangi petugas, sementara tim darat memastikan api dan bara benar-benar padam.
Jadi ketika sebuah helikopter terlihat menjatuhkan ribuan liter air ke kawasan karhutla, pekerjaan di baliknya jauh lebih rumit dari sekadar menyiram api dari langit. Ketinggian, kecepatan, angin, medan hingga lokasi pelepasan harus diperhitungkan agar setiap tetes air memberikan dampak maksimal.
(afr/afr)
TAGS
LIHAT LAINNYA