B50 dinilai strategis untuk perkuat ketahanan energi nasional

September 2026 · 2 minute read

B50 dinilai strategis untuk perkuat ketahanan energi nasional

Jumat, 18 September 2026 13:11 WIB

Image Print

Ilustrasi - Sampel uji produk bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit 50 persen atau B50. (ANTARA/HO-BPDP/pri.)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ketahanan energi Feiral Rizky Batubara menilai Biosolar B50 bisa menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.

“B50 bukan sekadar kebijakan substitusi BBM (bahan bakar minyak). Ini adalah bagian dari upaya membangun kedaulatan energi, yaitu kemampuan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energinya dengan sumber daya yang dimiliki sendiri,” kata Feiral dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ketahanan energi menjadi fondasi penting dalam membangun sistem transportasi nasional yang tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Momentum Hari Perhubungan Nasional yang diperingati setiap 17 September menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi sektor energi dan transportasi, termasuk melalui pemanfaatan sumber energi domestik dalam memenuhi kebutuhan perhubungan lewat program B50.

Alasannya, karena sebagian kebutuhan energi transportasi dipenuhi dari sumber daya domestik. Menurut Feiral, hal tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan dinamika pasar global.

Sebagaimana diketahui saat ini sektor transportasi menjadi pengguna terbesar BBM secara nasional dengan porsi mencapai sekitar 50 hingga 91 persen dari total konsumsi energi fosil di Indonesia.

Feiral mengatakan momentum Hari Perhubungan Nasional ini bisa menjadi momentum penting bagi Pertamina. Sebagai BUMN penyedia energi di Indonesia, ia mengatakan, hadirnya program B50 ini bisa menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan energi.

“Semakin besar kemampuan memenuhi kebutuhan energi dari dalam negeri, maka semakin kuat kemampuan ekonomi nasional menghadapi tekanan eksternal,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara juga menilai pemanfaatan biodiesel dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan energi. Menurutnya, penggunaan bahan bakar berbasis crude palm oil (CPO) menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya domestik untuk kebutuhan energi nasional.

Namun, Marwan menilai penguatan B50 perlu disertai pengelolaan pasokan bahan baku secara terintegrasi. Hal ini agar kebutuhan energi tetap berjalan seimbang dengan kebutuhan pangan dan industri lainnya.

“Peran pemerintah dalam menjamin ketersediaan pasokan domestik menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan biodiesel,” kata Marwan.

Sebagai informasi, Pertamina Patra Niaga (PPN) telah mengumumkan target distribusi Biodiesel B50 ini akan mencapai 100 persen di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada akhir September atau Oktober 2026.

Saat ini distribusi B50 telah mencapai 95 persen di seluruh SPBU di Indonesia. Sekitar 5 persen wilayah yang belum sepenuhnya beralih berada di Papua dan Maluku, karena masih dalam tahap menghabiskan sisa stok B40.

Pewarta : Suharsana Aji Sasra J C
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.