REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar Abdul Rahman Farisi (ARF) menilai peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela menjadi bukti kemampuan eksekusi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menuntaskan proyek-proyek strategis yang telah lama tertunda.
Menurut ARF, dimulainya pengembangan Blok Masela setelah tertunda selama 28 tahun menunjukkan sinergi yang kuat antara Presiden Prabowo dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam mempercepat realisasi investasi sektor energi.
"Groundbreaking Blok Masela makin memberi bukti yang kuat atas kemampuan dan kekuatan eksekutor Menteri Bahlil Lahadalia di bawah arahan Bapak Presiden Prabowo. Momentum bersejarah ini melengkapi rangkaian keberhasilan besar hilirisasi energi nasional, mulai dari peresmian Pabrik Lotte Chemical hingga penyelesaian proyek RDMP Balikpapan," kata ARF dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
ARF mengatakan keberhasilan mendorong dimulainya proyek Lapangan Abadi Blok Masela tidak terlepas dari kemampuan pemerintah mengatasi berbagai hambatan yang selama ini mengganjal pelaksanaannya. Menurut dia, terdapat empat faktor utama yang mendukung percepatan proyek tersebut.
Faktor pertama, kata ARF, adalah kepastian regulasi dan kelembagaan yang dinilai mampu memberikan jaminan hukum bagi investor dalam menjalankan proyek migas bernilai lebih dari Rp355 triliun tersebut.
"Faktor pertama adalah adanya kesiapan dari aparat serta staf dalam memberikan penilaian secara regulasi dan kelembagaan. Kepastian hukum dan regulasi ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas investasi proyek bernilai fantastis, yakni lebih dari Rp355 triliun tersebut," ujarnya.
Selain itu, ARF menilai kepemimpinan yang solutif serta koordinasi antarkementerian menjadi faktor kedua yang mempercepat penyelesaian berbagai persoalan proyek. Sinergi tersebut, menurut dia, mampu memangkas hambatan birokrasi yang selama ini menghambat proyek-proyek strategis nasional.
Faktor ketiga adalah kemampuan teknokratik dalam menyusun perencanaan berbasis kajian ilmiah sehingga pengembangan Kilang LNG Masela dinilai memiliki dasar teknis yang kuat dan berkelanjutan di tengah transisi energi.
Sementara faktor keempat adalah kecepatan pemerintah dalam merespons dinamika di lapangan, termasuk persoalan sosial, ekonomi, dan logistik di kawasan Saumlaki serta wilayah Maluku secara umum.
"Inilah saya melihat faktor yang sangat mempengaruhi mengapa atas arahan Bapak Presiden Prabowo, Pak Menteri Bahlil dapat mendorong menyelesaikan masalah Blok Masela yang sudah melalui pergantian enam presiden dan 10 Menteri ESDM," kata ARF.
Ia menambahkan, pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela yang memiliki cadangan gas sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur, khususnya Maluku. Menurut ARF, proyek tersebut diperkirakan menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja pada masa konstruksi dan perlu memprioritaskan tenaga kerja lokal agar manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
sumber : Antara