Minggu, 20 September 2026 - 11:40 WIB
VIVA –Mantan penasehat pemerintah Arab Saudi, Nawaf Obaid mengungkap situasi terkini di negara tersebut pasca serangan yang dilancarkan kelompok pemberontak Houthi. Diungkap Obaid, Arab Saudi tengah mempersiapkan serangan Udara besar-besaran yang akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan terhadap kelompok Houthi.
Baca Juga
Selain itu, Obaid mengungkap permintaan bantuan Arab Saudi kepada Amerika Serikat (AS) untuk menghadapi Houthi. Menurutnya, Riyadh meminta bantuan intelijen serta dukungan untuk menentukan dan memastikan target yang akan diserang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Permintaan kepada pihak Amerika bukan soal amunisi. Mereka tidak membutuhkan tambahan senjata militer. Yang mereka butuhkan adalah bantuan dalam menyusun dan memastikan target," ujarnya dikutip dari laman Al Jazeera, Minggu 20 September 2026.
Baca Juga
Obaid menjelaskan, dukungan tersebut mencakup analisis geospasial, pemetaan, serta bantuan teknis lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi militer berskala besar dan berkelanjutan.
Obaid mengatakan hal tersebut membantu menjelaskan mengapa keterlibatan langsung militer AS sejauh ini belum terlihat secara signifikan, meskipun Arab Saudi telah meminta dukungan dari Washington.
Baca Juga
Ia juga mengatakan persiapan tersebut mulai diwujudkan dalam bentuk operasi yang lebih terkoordinasi.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, otoritas Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kelompok pemberontak Hothi di Yaman berupaya menyerang Riyadh pada Sabtu 19 September 2026 menggunakan rudal balistik.
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengaatakan bahwa rudal tersebut berhasil dicegat. Sejumlah warga Riyadh mengaku mendengar suara ledakan sementara beberapa warga lainnya melihat kepulan asap di sekitar bandara. Melansir laman NBC, Minggu 20 September 2026 tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tak sampai di situ, koalisi pimpinan Arab juga menyebut Houthi berupaya menyerang fasilitas sipil di Kota Pelabuhan Yanbu, Laut Merah, tempat salah satu jaringan pipa minyak utama Arab Saudi berakhir. Serangan juga disebut menyasar Taif, Baysh, dan Farasan, tetapi seluruhnya berhasil digagalkan. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai upaya serangan tersebut.
Sebelumnya, Houthi mengklaim, telah menargetkan sejumlah lokasi sensitive di Riyadh serta fasilitas perusahaan minyak milik Arab Saudi, Aramco, di Yanbu. Houthi menyebut serangan tersebut menyebabkan kebakaran besar. Di sisi lain, perusahaan minyak terbesar di dunia yang ada di Arab Saudi, Aramco tidak memberikan komentar terkait klaim tersebut.
Halaman Selanjutnya
Konflik yang semakin meluas di dekat salah satu jalur pelayaran penting dunia tersebut menambah tekanan baru terhadap pasar global.