Jakarta (ANTARA) - Pekalongan, Jawa Tengah, sedang menjadi perhatian setelah video Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 yang digelar di kota itu, viral di media sosial. Pertunjukan dalam acara yang berlangsung 10 September 2026 tersebut dinilai sejumlah warganet memiliki kemiripan dengan simbol atau ritual satanis. Padahal, kegiatan itu digelar sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal yang digelar masyarakat setempat.
Dalam video yang beredar, terlihat peserta menggunakan kostum dengan tampilan menyeramkan serta sejumlah properti yang kemudian dikaitkan dengan simbol okultisme. Panitia SKNC menyatakan tidak mengetahui secara detail konsep penampilan tersebut. Sementara itu, perwakilan Tim Simone, kelompok yang tampil dalam pertunjukan tersebut, menyampaikan permintaan maaf dan mengaku kurang memiliki literasi mengenai makna kostum yang digunakan. Kostum tersebut disebut disewa dari Malang dan koreografinya disusun sendiri oleh tim.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan pun berencana meminta klarifikasi kepada panitia dan berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI kemudian menilai penampilan yang menyerupai ritual satanis tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam maupun semangat peringatan Maulid Nabi.
Kontroversi tersebut menjadi pengingat bahwa simbol, keyakinan, dan praktik keagamaan perlu dipahami dengan hati-hati. Dalam Islam, salah satu persoalan akidah yang sangat penting untuk dipahami adalah syirik.
Lantas, apa sebenarnya syirik dan apa saja jenisnya menurut ajaran Islam?
Baca juga: 5 hewan yang haram dipelihara menurut syariat Islam & alasannya
Apa itu syirik?
Secara sederhana, syirik adalah menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain dalam hal yang menjadi kekhususan-Nya. Dengan kata lain, seseorang memberikan bentuk keyakinan, ibadah, atau pengagungan tertentu kepada selain Allah yang semestinya hanya ditujukan kepada Allah.
Al-Qur'an secara tegas mengingatkan tentang larangan tersebut. Dalam Surah Luqman ayat 13 disebutkan:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ
Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Dalam ajaran Islam, syirik tidak hanya berkaitan dengan penyembahan terhadap patung atau benda tertentu. Para ulama menjelaskan bentuk syirik berdasarkan kadar dan pengaruhnya terhadap tauhid.
Baca juga: Bagaimanan hukum tidur tanpa pakaian menurut Islam? Ini penjelasannya
1. Syirik akbar
Syirik akbar atau syirik besar merupakan bentuk syirik yang paling berat. Secara umum, syirik ini terjadi ketika seseorang memberikan bentuk ibadah atau sifat ketuhanan kepada selain Allah.
Contohnya adalah meyakini ada selain Allah yang memiliki kekuasaan ilahiah, menyembah selain Allah, atau mempersembahkan ibadah kepada selain-Nya.
Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Surah Al-Kahf ayat 110, umat Islam diperintahkan untuk beramal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Allah.
Syirik jenis ini berkaitan langsung dengan dasar tauhid sehingga memiliki konsekuensi yang sangat serius dalam akidah Islam.
2. Syirik asghar
Berikutnya adalah syirik asghar atau syirik kecil. Istilah ini digunakan untuk perbuatan yang disebut syirik dalam syariat, tetapi tidak sampai pada tingkat menyekutukan Allah dalam perkara ketuhanan.
Salah satu contoh yang sering dijelaskan para ulama adalah riya, yaitu melakukan ibadah atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian atau perhatian manusia.
Dalam penjelasan tafsir atas Surah Al-Kahf ayat 110, riya disebut sebagai salah satu bentuk syirik kecil. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk menjaga niat agar ibadah dilakukan karena Allah, bukan semata-mata demi mendapatkan pengakuan manusia.
Baca juga: Istri bekerja, suami tetap kasih nafkah? Ini penjelasan menurut Islam
3. Syirik dalam niat dan tujuan
Syirik juga dapat dibahas dari sisi niat. Seseorang bisa saja melakukan amal yang secara lahiriah terlihat baik, tetapi tujuan utamanya bukan mencari rida Allah.
Misalnya, seseorang bersedekah bukan karena ingin membantu atau menjalankan perintah Allah, melainkan semata-mata ingin dipuji sebagai orang dermawan.
Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan memperbaiki perbuatan, tetapi juga menjaga niat di balik perbuatan tersebut.
4. Syirik dalam perkataan
Syirik juga dapat berkaitan dengan ucapan. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu berhati-hati ketika menggunakan ungkapan yang berhubungan dengan kekuasaan Allah.
Prinsipnya adalah tidak menyamakan makhluk dengan Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya. Sebab, keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak menjadi bagian penting dari tauhid.
Namun, tidak setiap ungkapan yang terdengar kurang tepat otomatis membuat seseorang menjadi musyrik. Penilaian terhadap seseorang membutuhkan pemahaman mengenai maksud, keyakinan, konteks, dan penjelasan ulama. Karena itu, umat Islam sebaiknya tidak mudah memberikan label "musyrik" kepada orang lain.
Baca juga: Bolehkah arisan di masjid atau mushala?
5. Syirik dalam perbuatan ibadah
Jenis lainnya berkaitan dengan praktik ibadah. Syirik dapat terjadi apabila seseorang mengarahkan ibadah yang semestinya hanya ditujukan kepada Allah kepada selain Allah.
Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 110 kembali memberikan prinsip yang jelas, yaitu manusia diperintahkan beramal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam ibadah kepada Allah.
Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga tujuan dan objek ibadah dalam kehidupan seorang Muslim.
Mengapa syirik dianggap dosa besar?
Syirik memiliki kedudukan yang sangat serius dalam Islam karena menyangkut dasar tauhid. Al-Qur'an dalam Surah An-Nisa ayat 48 menyebut bahwa Allah tidak mengampuni syirik bagi orang yang meninggal dalam keadaan demikian tanpa bertobat, sedangkan dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah.
Ayat tersebut berbunyi:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki."
Pemahaman ini sekaligus menunjukkan bahwa pembahasan syirik bukan sekadar soal istilah, tetapi berkaitan dengan inti keimanan seorang Muslim.
Baca juga: Bolehkah masjid dipakai untuk tidur?
Baca juga: 8 amalan agar terhindar dari siksa kubur menurut Islam
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.