Alumni FK UMS hafiz 30 juz, Dokter Supandi Hasan dorong mahasiswa baru berani bermimpi

September 2026 · 4 minute read

Alumni FK UMS hafiz 30 juz, Dokter Supandi Hasan dorong mahasiswa baru berani bermimpi

Jumat, 11 September 2026 14:16 WIB

Image Print

dr. Supandi Hasan, Sp.PD-Fel (Onk)., saat menyampaikan orasi. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Supandi Hasan, Sp.PD-Fel (Onk) memberikan motivasi kepada mahasiswa baru dalam kegiatan Ekspo UKM UMS yang digelar Kamis (10/9).

Dalam orasinya, dokter yang merupakan alumni Fakultas Kedokteran UMS tersebut mengajak mahasiswa untuk berani menentukan masa depan dan terus mengembangkan diri.

Pada awal penyampaiannya, Hasan sapaan akrabnya, mengajak mahasiswa untuk membayangkan diri mereka dalam sepuluh tahun mendatang.

“Sepuluh tahun yang akan datang akan jadi apa?” tanyanya kepada mahasiswa.

Hasan kemudian menceritakan latar belakang keluarganya yang berasal dari kondisi ekonomi terbatas. Ibunya hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, sedangkan ayahnya tidak mengenyam pendidikan formal.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak bergantung pada latar belakang keluarga dan berani menjadi diri sendiri.

“Tidak peduli anak siapa, jadilah diri sendiri. Karena syubbanul yaum rijalul ghod, pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar mahasiswa memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu berjuang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Katakanlah, inilah saya, saya yang berjuang dan saya akan bermanfaat untuk masyarakat,” kata Hasan sapaan akrabnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasan juga membagikan pengalamannya dalam menghafal Al-Qur’an 30 juz. Ia mulai menghafal ketika menempuh pendidikan di Pesantren Tahfidzul Qur’an Isy Karima. Program pendidikan tersebut ditempuh selama empat tahun, tetapi ia mampu menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu dua tahun.

Menurutnya, pengalaman menghafal Al-Qur’an menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia berharap keberkahan Al-Qur’an dapat menjadi jalan bagi mahasiswa untuk terus berjuang mencapai cita-cita.

Dalam orasinya, Hasan juga menyampaikan harapannya kepada mahasiswa UMS agar kelak menjadi pemimpin masa depan yang lahir dari lingkungan UMS.

“Saya senang melihat tadi ada calon pemimpin masa depan. Saya berharap mereka menjadi pemimpin yang lahir dari rahim UMS,” ungkapnya.

Ia menegaskan menjadi pemimpin tidak selalu berarti harus menjadi pejabat. Mahasiswa dapat memberikan kontribusi melalui berbagai bidang profesi, seperti dokter, engineer, dosen, peneliti, maupun profesi lainnya.

“Jangan pernah berhenti bermimpi. Dari delapan ribu mahasiswa itu saya berharap mereka jadi pemimpin masa depan. Jadi dokter, engineer, insinyur, kemudian jadi dosen, kemudian peneliti. Atau profesi yang hebat lainnya,” tuturnya.

Selain ilmu akademik, Hasan mengingatkan mahasiswa agar mengembangkan keterampilan selama menjalani perkuliahan. Menurutnya, ilmu dan keterampilan menjadi dua hal penting yang dapat membantu mahasiswa menghadapi persaingan sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Selama di UMS jangan cuma mengejar IPK atau akademik saja. Memang ilmu itu penting karena dengan ilmu kita bisa kompeten. Tapi yang kedua adalah skill,” jelasnya.

Ia menyebut sejumlah keterampilan seperti networking dan public speaking sebagai kemampuan yang perlu dikembangkan mahasiswa. Dengan ilmu dan keterampilan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu bersaing sekaligus memberikan kebermanfaatan yang lebih luas.

“Dengan dua hal tersebut, ilmu kemudian skill, kita bisa memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat secara luas,” katanya.

Di akhir penyampaiannya, Hasan memberikan motivasi kepada mahasiswa yang mungkin memiliki keterbatasan ekonomi. Ia menceritakan bahwa dirinya pernah merasa tidak memiliki harapan karena berasal dari keluarga yang kurang mampu.

Namun, ia menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu pegangan dalam perjuangannya. Ia meyakini bahwa keberkahan Al-Qur’an menjadi bagian dari jalan yang membawanya mendekati cita-cita.

“Saya dulu sempat tidak ada harapan karena orang tua dari background orang tua yang tidak mampu. Tapi saya memiliki Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an saya berharap mendapatkan keberkahan dari Al-Qur’an. Makanya Allah membukakan jalan cita-cita saya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejak kelas tiga SMP, dirinya telah menuliskan cita-cita untuk menjadi seorang hafiz Al-Qur’an sekaligus dokter. Cita-cita tersebut kemudian dapat diwujudkannya.

“Ternyata saya dulu di kelas tiga SMP itu saya menulis bahwa cita-cita saya sebagai seorang hafiz Quran dan dokter. Dan Alhamdulillah Allah membukakan itu,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa dari keluarga kurang mampu saat ini memiliki banyak peluang untuk melanjutkan pendidikan melalui berbagai beasiswa. Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk terus belajar, berjuang, dan tidak melupakan Allah.

“Yang paling penting adalah belajar, berjuang, kemudian jangan melupakan Allah,” pungkasnya.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.