Harus lebih ekstra bersihin debunya, soalnya kasar dan lengket. Mungkin ditutup dulu ya, bahaya kalau tiap hari ketempelan abu seperti ini
Cimahi (ANTARA) - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah mencapai wilayah Bandung Raya, salah satunya dirasakan warga Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat.
Warga Leuwigajah Yogi Dwi Arianto di Cimahi, Minggu, mengatakan kendaraan miliknya yang masih bersih pada Sabtu (5/9) malam mendadak dipenuhi partikel berwarna keabu-abuan ketika diperiksa pada Minggu pagi.
"Tadi malam mobil masih bersih, masih kinclong. Pagi-pagi sudah penuh debu, warnanya agak keabu-abuan juga. Ini beda sih dengan debu biasa," katanya.
Ia mengatakan partikel yang menempel pada kendaraan terasa lebih kasar dan lengket, sehingga perlu kehati-hatian ketika dibersihkan agar tidak menimbulkan goresan pada permukaan kendaraan.
"Harus lebih ekstra bersihin debunya, soalnya kasar dan lengket. Mungkin ditutup dulu ya, bahaya kalau tiap hari ketempelan abu seperti ini," ujarnya.
Baca juga: Cara benar bersihkan abu vulkanik yang menempel pada kendaraan
Sementara itu Pakar Kebencanaan pada Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu biasa karena partikelnya berasal dari pecahan material vulkanik berukuran sangat halus.
"Abu vulkanik itu berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm)," kata Daryono.
Menurut dia, partikel berukuran sangat halus tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru-paru serta menimbulkan iritasi pada mata dan kulit.
"Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam, seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," ujarnya.
Baca juga: 4 bandara ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau
Daryono mengatakan paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta iritasi mata, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma.
Untuk meminimalkan risiko paparan, ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika terjadi sebaran abu vulkanik.
Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar disarankan menggunakan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi.
"Penggunaan masker sangat dianjurkan karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini," katanya.
Baca juga: BNPB: 15 kecamatan di Lampung & Banten terdampak erupsi Anak Krakatau
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.