Apa Saja Merek Tertua di Indonesia?
Berdasarkan narasi sejarah yang menjadi sumber artikel ini, sejumlah merek yang memiliki sejarah panjang di Indonesia antara lain:
Kecap Cap Istana — 1882
Dji Sam Soe — 1913
Jamu Jago — 1918
Njonja Meneer — 1919
Frisian Flag — 1922
Kapal Api — 1927
Bango — 1928
Tolak Angin — 1930
Bir Bintang — 1931
Blue Band — 1934
Jika dihitung dari tahun yang digunakan sebagai penanda awal keberadaan masing-masing merek, Kecap Cap Istana menjadi yang paling tua dalam daftar ini, yakni sekitar 144 tahun pada 2026.
Namun, ada catatan penting. Tahun yang digunakan tidak selalu berarti tahun pendirian perusahaan. Pada Frisian Flag, misalnya, 1922 merupakan awal perjalanan produk tersebut di Indonesia melalui impor dari Belanda. Karena itu, usia merek perlu dibaca sesuai konteks sejarahnya.
Baca Juga: Spider-Man: Brand New Day Diboykot di Dunia Arab
Baca Juga: Hadirkan Garansi hingga 25 Tahun, Changhong Tunjuk Rossa sebagai Brand Ambassador
1. Kecap Cap Istana, Merek Tertua di Indonesia dari Tangerang Sejak 1882
Di antara daftar ini, Kecap Cap Istana memiliki sejarah paling awal. Merek kecap yang berasal dari Tangerang tersebut disebut telah ada sejak 1882, atau sekitar 144 tahun jika dihitung hingga 2026.
Mengutip situs Budaya Indonesia, pabrik kecap tersebut didirikan oleh Teng Hay Soey, pedagang keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar kawasan Pasar Lama, Tangerang.
Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Teng Giok Seng. Produk yang dihasilkan dikenal sebagai Kecap Benteng, nama yang berkaitan dengan sejarah Tangerang sebagai kota benteng.
Kecap tersebut juga dikenal menggunakan label burung atau nama Kecap Benteng Tulen.
Hal menarik dari Kecap Cap Istana bukan hanya usianya, tetapi cara produksinya. Narasi sejarah menyebut proses pembuatan masih mempertahankan cara lama dan menggunakan tenaga manusia, tidak sepenuhnya mengandalkan mesin.
Artinya, ketika industri makanan modern semakin identik dengan otomatisasi, ada usaha yang justru mempertahankan sebagian karakter produksi tradisionalnya.
2. Dji Sam Soe, Merek Rokok yang Lahir pada 1913
Lebih dari tiga dekade setelah Kecap Cap Istana, muncul bisnis yang kelak berkembang menjadi salah satu nama besar industri rokok Indonesia.
Dalam buku The Sampoerna Legacy (2017), Liem Seeng Tee mendirikan bisnis kecil bernama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee pada 1913. Salah satu produk awalnya dikenal dengan nama Dji Sam Soe.
Nama tersebut berasal dari pelafalan angka 2, 3, dan 4 dalam bahasa China.
Perkembangannya berlangsung cepat. Tingginya permintaan membuat perusahaan mempekerjakan ribuan orang untuk melinting rokok.
Puncak kejayaan awalnya tercatat pada 1940. Saat itu, produksinya disebut mencapai sekitar 3 juta batang rokok per minggu.
Kisah Dji Sam Soe menunjukkan bahwa umur panjang sebuah merek tidak selalu dimulai dari perusahaan raksasa. Ia justru dapat berawal dari usaha kecil yang menemukan pasar dan mampu meningkatkan kapasitas ketika permintaan tumbuh.
3. Jamu Jago, Berawal dari Usaha Tradisional pada 1918
Indonesia memiliki tradisi jamu yang panjang, dan Jamu Jago merupakan salah satu merek yang menempati bagian penting dalam sejarah tersebut.
Merek ini dirintis oleh T.K. Suprana pada 1918. Pada awalnya, jamu dibuat secara tradisional dan dijual di sekitar tempat usaha.
Dari Wonogiri, pemasarannya berkembang menuju Solo dan wilayah lain di Pulau Jawa. Pada 1936, pemasaran Jamu Jago disebut telah meluas ke berbagai wilayah Nusantara.
Perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada 1945, pusat kegiatannya dipindahkan ke Semarang.
Jika dilihat dari perjalanan tersebut, ada satu faktor yang menarik: distribusi.
Sebuah produk tradisional tidak akan menjadi merek nasional jika hanya mengandalkan pelanggan di sekitar tempat produksinya. Perluasan wilayah pemasaran membuat produk yang awalnya bersifat lokal berubah menjadi bagian dari pasar yang lebih luas.
4. Njonja Meneer, Kisah Panjang Ratu Jamu Indonesia
Setahun setelah Jamu Jago, muncul nama besar lain dalam sejarah jamu Indonesia, yakni Njonja Meneer.
Merek ini berkaitan dengan Lauw Ping Nio, perempuan yang kemudian dikenal sebagai Njonja Meneer. Pada 1919, ia mulai memproduksi jamu secara sederhana untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Kisah perkembangannya cukup unik. Lauw Ping Nio disebut bepergian menggunakan dokar untuk mencari bahan baku sekaligus menemukan pasar.
Berbagai produk kemudian dihasilkan, antara lain Djamu Habis Bersalin, Jamu Sakit Kencing, Jamu Galian Rapet, Jamu Mekar Sari, Jamu Pria Sehat, dan Jamu Gadis Remaja.
Pada 1940, pemasaran berkembang hingga Jakarta. Putrinya, Ong Djian Nio atau Nonnie Saerang, pindah ke Jakarta dan membuka gerai di Pasar Baru.
Nama Njonja Meneer bahkan memperoleh julukan “Ratu Jamu”.
Namun, terdapat catatan penting untuk memahami daftar ini secara akurat: Njonja Meneer tidak lagi beroperasi sebagai perusahaan seperti pada masa kejayaannya. Perusahaan jamu tersebut kemudian mengalami kebangkrutan dan berhenti beroperasi pada 2017.
Karena itu, Njonja Meneer lebih tepat disebut sebagai salah satu merek legendaris tertua dalam sejarah Indonesia, bukan contoh merek yang masih aktif beroperasi hingga 2026. Fakta ini justru memperlihatkan bahwa usia panjang tidak otomatis menjamin sebuah merek dapat bertahan selamanya.
5. Frisian Flag, Sudah Hadir di Indonesia Sejak 1922
Tidak semua merek dalam daftar ini bermula sebagai usaha lokal.
Frisian Flag memiliki sejarah berbeda. Berdasarkan sejarah yang dipublikasikan perusahaan, produk dengan merek Frische Vlag mulai diimpor ke Indonesia dari Cooperative Condens Fabriek di Belanda pada 1922.
Dengan demikian, 1922 merupakan penanda awal perjalanan merek tersebut di Indonesia, bukan tahun berdirinya pabrik Frisian Flag di Indonesia.
Perkembangan industrinya baru terjadi beberapa dekade kemudian. Pada 1969, pembangunan pabrik di Pasar Rebo, Jakarta, dimulai. Dua tahun setelahnya, pada 1971, produksi susu kental manis mulai dilakukan dan didistribusikan dari pabrik tersebut.
Perjalanan ini memperlihatkan bagaimana sebuah produk yang awalnya datang melalui perdagangan internasional akhirnya berkembang menjadi merek yang sangat dekat dengan konsumsi keluarga Indonesia.
6. Kapal Api, Kopi yang Berawal dari Surabaya pada 1927
Bagi banyak orang Indonesia, kopi dan Kapal Api seolah menjadi pasangan yang sudah dikenal sejak lama. Sejarah merek tersebut sendiri dapat ditelusuri hingga 1927.
Kapal Api didirikan oleh Go Soe Loet, perantau asal Fujian, China, yang kemudian tiba di Surabaya.
Melihat kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi, ia merintis bisnis dengan memilih biji kopi, menyangrai, menggiling, kemudian menjualnya ke pasar.
Pada awalnya, produk menggunakan nama HAP Hootjan dan dikemas menggunakan kertas berwarna cokelat. Nama Kapal Api kemudian berkaitan dengan pengalaman Go Soe Loet menaiki kapal uap menuju Jawa.
Perkembangan terbesar terjadi ketika bisnis diteruskan generasi berikutnya. Putranya, Go Tek Whie atau Soedomo Mergonoto, melakukan berbagai pembaruan.
Salah satunya adalah mendatangkan mesin pengolahan kopi dari Jerman setelah sebelumnya mencoba membuat mesin sendiri.
Kapal Api kemudian memperluas distribusi ke berbagai wilayah Indonesia dan mulai mengekspor produk pada 1985. Perusahaan juga mengembangkan merek lain seperti Kopi ABC dan Excelso.
Di sini terlihat satu pelajaran penting: Kapal Api tidak mempertahankan usia dengan cara mempertahankan seluruh proses lama. Justru modernisasi menjadi bagian dari cara merek tersebut bertahan.
7. Bango, Dari Garasi Rumah hingga Menjadi Merek Besar
Kecap kembali muncul dalam daftar merek tua Indonesia melalui Bango, yang sejarahnya dimulai pada 1928.
Mengutip Detik Finance, Bango bermula sebagai industri rumahan di kawasan Benteng, Tangerang. Pasangan Tjoa Pit Boen atau Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio membuat kecap di garasi rumah.
Nama Bango dipilih dengan harapan produknya dapat terbang hingga mancanegara.
Perjalanan merek tersebut juga tidak selalu mulus. Pada 1939–1947, produksi sempat terhenti karena kesulitan mendapatkan bahan baku akibat perang.
Setelah produksi kembali berjalan, Bango dipasarkan dari pintu ke pintu. Pada periode 1950–1980, distribusinya meluas ke Jawa, Sumatera, hingga Manado.
Pabrik kemudian dikembangkan di Subang pada 1997–1998.
Pada 2001, Unilever mengakuisisi Bango. Meskipun kepemilikannya berubah, nama Bango tetap dipertahankan dan menjadi salah satu merek kecap yang sangat dikenal masyarakat.
Kisah ini memberikan pelajaran menarik: sebuah merek dapat berganti pemilik tanpa kehilangan identitas yang telah dibangun selama puluhan tahun.
8. Tolak Angin, Dari Racikan Jamu hingga Produk Kemasan
Jauh sebelum Tolak Angin dikenal dalam kemasan praktis seperti sekarang, produk ini berawal dari racikan jamu tradisional.
Pada 1930, pasangan Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio merintis toko roti bernama Roti Muncul. Pada periode yang sama, Rakhmat Sulistio mulai meracik jamu untuk mengatasi masuk angin.
Racikan tersebut kemudian dikenal sebagai Tolak Angin.
Pasangan tersebut selanjutnya mengembangkan usaha jamu di Yogyakarta pada 1935. Pada 1940, Tolak Angin dalam bentuk godokan mulai dipasarkan.
Perjalanan berikutnya membawa mereka mendirikan perusahaan bernama Sido Muncul di Semarang pada 1951. Nama tersebut memiliki arti “Impian yang Terwujud”.
Tolak Angin kemudian berkembang menjadi salah satu produk jamu paling dikenal di Indonesia.
Jika melihat sejarahnya, perubahan format produk menjadi salah satu kunci penting. Dari racikan tradisional yang membutuhkan proses panjang, jamu kemudian hadir dalam bentuk yang jauh lebih praktis untuk konsumen modern.
9. Bir Bintang, Berawal dari Industri Minuman pada 1931
Sejarah Bir Bintang bermula pada 1931 ketika berdiri pabrik minuman beralkohol bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Surabaya.
Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan dikenal melalui produk Bir Bintang.
Dalam perjalanannya, perusahaan mengalami berbagai perubahan. Produk juga berkembang mengikuti perubahan preferensi konsumen, termasuk hadirnya varian tanpa alkohol.
Yang menarik dari sejarah Bir Bintang adalah bagaimana nama produk akhirnya menjadi jauh lebih dikenal dibanding nama perusahaan awalnya.
Ini merupakan fenomena umum dalam dunia branding: konsumen sering kali mengingat nama produk, bukan struktur perusahaan di baliknya.
10. Blue Band, Merek Margarin yang Hadir Sejak 1934
Daftar ini ditutup oleh Blue Band, yang masuk ke Hindia Belanda pada 1934.
Pada masa itu, masyarakat Eropa yang tinggal di Hindia Belanda membutuhkan margarin. Blue Band kemudian diperkenalkan dengan identitas pita biru yang dikaitkan dengan kualitas.
Perkembangan berikutnya berlangsung melalui kegiatan industri di Batavia. Pada 1936, tercatat N.V. van den Berghs Fabrieken telah memproduksi minyak goreng dan mentega.
Setahun kemudian, Sidney van den Bergh berkunjung ke Batavia dan melihat besarnya peluang pasar di wilayah tersebut.
Perang sempat mengganggu perkembangan bisnis. Namun setelahnya, Blue Band berkembang menjadi salah satu merek margarin yang dikenal luas.
Strategi komunikasinya juga berubah mengikuti kebutuhan konsumen. Iklan tidak sekadar menjual margarin, tetapi mengaitkannya dengan kebutuhan gizi keluarga, termasuk melalui penonjolan kandungan vitamin A dan D.
Hingga sekarang, Blue Band masih dapat ditemukan di Indonesia dalam berbagai ukuran dan kemasan.
Mengapa Merek-Merek Tua Ini Bisa Bertahan Begitu Lama?
Jika 10 merek tersebut diperhatikan secara keseluruhan, terdapat pola yang cukup menarik.
Merek tua tidak bertahan hanya karena usianya.
Usia memang memberikan keuntungan berupa pengenalan nama dan warisan merek. Namun, sejarah Kecap Cap Istana, Kapal Api, Bango, Frisian Flag, dan Tolak Angin menunjukkan bahwa keberlangsungan membutuhkan kemampuan beradaptasi.
Setidaknya ada lima faktor yang terlihat dari perjalanan mereka.
1. Produk dekat dengan kehidupan sehari-hari
Kopi, kecap, susu, jamu, margarin, dan produk konsumsi lainnya memiliki peluang lebih besar menjadi bagian dari kebiasaan keluarga.
Seseorang mungkin mengenal sebuah merek dari orang tuanya, lalu mengenalkannya kembali kepada anak.
2. Regenerasi menjadi penting
Beberapa usaha dapat melewati pergantian generasi karena diteruskan oleh keluarga.
Peralihan tersebut memungkinkan pengalaman bisnis lama tetap dipertahankan sekaligus membuka ruang untuk perubahan.
3. Distribusi menentukan umur sebuah merek
Jamu Jago dan Bango memperlihatkan bagaimana perluasan pasar dapat mengubah bisnis lokal menjadi produk yang dikenal lebih luas.
Merek yang hanya bergantung pada satu wilayah akan sulit tumbuh ketika pasar berubah.
4. Adaptasi tidak sama dengan meninggalkan identitas
Kapal Api menjadi contoh menarik.
Penggunaan teknologi baru tidak berarti identitas lama harus dibuang. Merek tetap mempertahankan namanya sembari memperbesar kapasitas produksi dan distribusi.
5. Nama merek bisa menjadi aset lintas generasi
Bango tetap menggunakan namanya setelah diakuisisi Unilever.
Ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, nama merek memiliki nilai yang berbeda dari perusahaan pemiliknya.
Dari Kecap hingga Jamu, Mengapa Banyak Merek Tua Berasal dari Produk Sehari-hari?
Dari 10 nama di atas, sebagian besar bergerak di sektor yang sangat dekat dengan konsumsi rumah tangga.
Ada kecap, kopi, susu, jamu, margarin, minuman, dan rokok.
Hal ini bukan kebetulan sepenuhnya.
Produk yang digunakan berulang kali memiliki peluang membangun kebiasaan. Ketika sebuah keluarga membeli produk yang sama selama bertahun-tahun, nama merek tidak lagi sekadar identitas komersial.
Ia dapat berubah menjadi bagian dari memori keluarga.
Seorang anak mungkin mengenal aroma kopi dari dapur rumah. Seseorang lainnya mungkin mengenal kecap tertentu karena selalu digunakan orang tuanya saat memasak.
Di titik tersebut, brand heritage berubah menjadi pengalaman personal.
Merek Tertua di Indonesia dan Usianya pada 2026
Jika tahun dalam narasi digunakan sebagai penanda awal keberadaan merek di Indonesia, urutannya adalah:
Merek | Tahun | Usia pada 2026 | Kategori |
|---|---|---|---|
Kecap Cap Istana | 1882 | 144 tahun | Kecap |
Dji Sam Soe | 1913 | 113 tahun | Rokok |
Jamu Jago | 1918 | 108 tahun | Jamu |
Njonja Meneer | 1919 | 107 tahun | Jamu |
Frisian Flag | 1922 | 104 tahun | Susu |
Kapal Api | 1927 | 99 tahun | Kopi |
Bango | 1928 | 98 tahun | Kecap |
Tolak Angin | 1930 | 96 tahun | Jamu |
Bir Bintang | 1931 | 95 tahun | Minuman |
Blue Band | 1934 | 92 tahun | Margarin |
Namun, angka tersebut perlu dibaca sebagai usia berdasarkan tahun sejarah yang digunakan dalam daftar, bukan otomatis usia badan hukum atau perusahaan.
Perbedaan ini penting terutama untuk merek seperti Frisian Flag yang awalnya hadir melalui impor, serta merek yang mengalami perubahan struktur perusahaan sepanjang sejarahnya.
Lebih dari Sekadar Merek Lama
Ada alasan mengapa daftar merek tertua di Indonesia menarik untuk dibicarakan. Merek-merek tersebut bukan hanya nama yang tercetak pada kemasan.
Di belakangnya terdapat cerita tentang pedagang, keluarga, pekerja, pabrik, pasar, distribusi, perang, teknologi, dan perubahan kebiasaan konsumen.
Ada merek yang berhasil beradaptasi dan tetap hadir sampai sekarang. Ada pula yang menjadi legenda setelah akhirnya berhenti beroperasi, seperti Njonja Meneer.
Justru di situlah pelajaran terbesarnya: umur panjang tidak otomatis membuat sebuah merek abadi.
Merek yang mampu bertahan harus terus menemukan alasan bagi generasi baru untuk mengenalnya.
Jika sebuah merek yang lahir pada abad ke-19 masih dapat dikenali konsumen pada 2026, berarti ia telah melewati jauh lebih banyak perubahan daripada sekadar pergantian desain kemasan.
Mungkin yang paling menarik bukan hanya pertanyaan “berapa tua merek tersebut?”, tetapi “berapa banyak perubahan Indonesia yang telah mereka lewati?”
Baca Juga: FiberCreme Raih Top Brand Award 2026, Perkuat Posisi sebagai Krimer Tinggi Serat di Indonesia
Baca Juga: Merek Perang Teknologi Keamanan Otonom di GIIAS 2026, Bosch Ungkap 3 Tren Baru Ini
FAQ
Apa merek tertua di Indonesia?
Berdasarkan daftar dalam narasi ini, Kecap Cap Istana menjadi merek dengan tahun awal keberadaan paling tua, yakni 1882. Merek kecap yang berasal dari Tangerang tersebut telah memiliki sejarah sekitar 144 tahun jika dihitung hingga 2026.
Merek apa saja yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda?
Beberapa merek dalam daftar memiliki sejarah yang bermula pada masa Hindia Belanda, termasuk Kecap Cap Istana, Dji Sam Soe, Jamu Jago, Njonja Meneer, Frisian Flag, Kapal Api, Bango, Tolak Angin, Bir Bintang, dan Blue Band. Namun, konteks tahunnya berbeda karena ada yang merupakan tahun pendirian usaha dan ada pula yang menjadi penanda awal kehadiran merek di Indonesia.
Apa merek Indonesia yang sudah berusia lebih dari 100 tahun?
Dalam daftar ini terdapat Kecap Cap Istana, Dji Sam Soe, Jamu Jago, Njonja Meneer, dan Frisian Flag yang memiliki tahun awal keberadaan setidaknya satu abad sebelum 2026. Usia tersebut dihitung berdasarkan tahun yang digunakan sebagai penanda sejarah masing-masing merek.
Mengapa merek lama bisa bertahan hingga puluhan tahun?
Merek lama dapat bertahan karena kombinasi beberapa faktor, seperti produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, distribusi yang luas, regenerasi bisnis, kemampuan beradaptasi, serta kekuatan nama merek. Sejarah Kapal Api dan Bango menunjukkan bahwa perubahan teknologi, distribusi, dan kepemilikan tidak selalu harus menghilangkan identitas sebuah merek.
Apakah semua merek tertua di Indonesia berasal dari perusahaan lokal?
Tidak. Salah satu contohnya adalah Frisian Flag yang awal perjalanan mereknya di Indonesia terjadi pada 1922 melalui produk yang diimpor dari Belanda. Seiring waktu, merek tersebut kemudian berkembang dengan kegiatan produksi di Indonesia.
Apakah Njonja Meneer masih beroperasi sampai sekarang?
Tidak. Njonja Meneer memang termasuk salah satu merek jamu tertua dan paling legendaris dalam sejarah Indonesia, tetapi perusahaan tersebut berhenti beroperasi pada 2017. Karena itu, Njonja Meneer lebih tepat dimasukkan sebagai contoh warisan merek lama, bukan merek yang masih aktif beroperasi pada 2026.
Apa saja produk legendaris Indonesia yang masih dikenal sampai sekarang?
Beberapa contoh dari daftar ini adalah Kecap Cap Istana, Dji Sam Soe, Jamu Jago, Frisian Flag, Kapal Api, Bango, Tolak Angin, Bir Bintang, dan Blue Band. Masing-masing memiliki sejarah yang berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bagaimana sebuah nama produk dapat melewati banyak generasi konsumen.