Wali Kota Yogyakarta: Hari Kebaya Nasional perkuat pelestarian budaya

July 2026 · 3 minute read

Wali Kota Yogyakarta: Hari Kebaya Nasional perkuat pelestarian budaya

Jumat, 24 Juli 2026 23:05 WIB

Image Print

Model memperagakan busana kebaya saat peragaan busana untuk merayakan Hari Kebaya Nasional 2026 di Plaza Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, DI Yogyakarta, Jumat (24/6/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana

Yogyakarta (ANTARA) - Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyebut Hari Kebaya Nasional menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya dan kecintaan terhadap kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia.

"Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk melestarikan kain dan kebaya sebagai warisan budaya bangsa Indonesia," kata Hasto dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati pada peringatan Hari Kebaya Nasional di Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta, Jumat malam.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mempromosikan kain dan kebaya kepada generasi muda dan dunia internasional, serta memakai kain dan kebaya dalam berbagai kegiatan formal dan informal.

"Kebaya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perempuan Indonesia serta memiliki nilai historis dan filosofis yang tinggi," katanya.

Menurut dia pengakuan UNESCO terhadap kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian sekaligus mengenalkan kebaya kepada masyarakat dunia.

"Menjadi cita-cita kita bersama agar kebaya semakin populer, dipakai kapan saja, di mana saja, semakin berkembang. Bahkan semakin mendunia di mancanegara," katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan regenerasi menjadi tantangan terbesar dalam upaya melestarikan kebaya.

Menurut dia, pengakuan UNESCO terhadap kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan bukan menjadi akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

"Regenerasi bukan berarti mengubah nilai kebaya, melainkan menghadirkan kebaya dalam bahasa zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya," katanya.

Ia mengatakan generasi muda perlu diberi ruang untuk mencintai kebaya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman agar mampu menjadi duta budaya Indonesia di panggung dunia.

"Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk mencintai kebaya melalui cara-cara yang sesuai dengan dunianya. Mereka akan menjadi duta budaya Indonesia yang mampu membawa pesona kebaya ke panggung dunia," katanya.

Sedangkan pelestari budaya Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam mengatakan Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan gerakan budaya untuk menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap kebaya sebagai identitas bangsa dan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat untuk memastikan kebaya tetap lestari.

"Melalui kegiatan ini, kita berharap kebaya akan semakin membumi dan mendapatkan tempat istimewa di ruang-ruang publik modern," kata GKBRAA Paku Alam yang juga merupakan permaisuri dari KGPAA Paku Alam X.

Peringatan Hari Kebaya Nasional Ke-3 digelar di Museum Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, dengan mengusung tema "Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia".

Kegiatan tersebut diisi berbagai pertunjukan seni dan budaya, penampilan 600 pemain angklung berkebaya, serta dihadiri pegiat budaya, komunitas kebaya, pelaku UMKM, dan masyarakat dari berbagai daerah sebagai bentuk komitmen bersama melestarikan kebaya sebagai warisan budaya Indonesia.

Pewarta : V001 dan Wening Caya Ing Tyas
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026