Wagub NTB: Sekolah harus jadi ruang aman cegah kekerasan anak

September 2026 · 2 minute read

Mataram (ANTARA) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Indah Dhamayanti Putri menekankan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak untuk mencegah kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, hingga pernikahan usia anak.

"Sekolah didorong bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman bagi anak untuk tumbuh, berprestasi, dan membangun masa depan," ujarnya pada sosialisasi dan dialog bersama siswa-siswi SMAN 1 Terara, Kabupaten Lombok Timur, melalui keterangan yang diterima di Mataram, Kamis.

Ia menegaskan bahwa tingginya persoalan kekerasan dan masalah sosial di NTB harus menjadi perhatian bersama.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin agar kasus tidak terus bertambah dan sekolah benar-benar menjadi lingkungan yang memberikan rasa aman kepada anak dan orang tua.

"Hari ini kita semua sadari, NTB kita memiliki angka yang cukup tinggi. Angka ini tidak boleh bertambah dan harus berhenti pada titik ini," tegas Umi Dinda sapaan Wagub NTB.

Baca juga: KemenPPPA menyoroti perlindungan dan keamanan korban kekerasan seksual

Ia berharap tidak ada lagi orang tua yang merasa khawatir ketika melepas anaknya pergi ke sekolah atau ragu menitipkan anak kepada lembaga pendidikan.

Karena itu, ia meminta tenaga pendidik tidak hanya menjalankan fungsi pengajaran, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu mengayomi dan membangun lingkungan sekolah yang sehat.

Wagub mengingatkan para siswa agar perbedaan latar belakang sosial tidak menjadi alasan untuk merendahkan atau melakukan perundungan terhadap teman.

"Para siswa hadir di sini (sekolah) untuk mengikat tali persaudaraan, persahabatan, dan menjadi satu kekuatan untuk menunjukkan prestasi yang membanggakan," ucap Wagub NTB.

Baca juga: Kemenag NTB mendorong APH tindak pelaku pelecehan seksual

Selain kekerasan dan perundungan, Wagub memberi perhatian khusus terhadap pencegahan pernikahan usia anak. Menurutnya, masa sekolah harus dimanfaatkan untuk membangun pengetahuan, karakter dan prestasi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

Ia mengajak para siswa menjaga diri dan pergaulan serta menjadi bagian dari gerakan pencegahan di lingkungan masing-masing.

"Jaga diri, jaga pergaulan, dan yakinkan bahwa siswa harus menunjukkan prestasi sebelum menuju ke jenjang rumah tangga. Mari kita semua berkomitmen menjadi duta untuk menolak setiap bentuk kekerasan dan membatasi usia pernikahan," katanya.

Sementara Kepala SMAN 1 Terara Halid menyambut baik penguatan edukasi tersebut. Dengan jumlah warga sekolah yang besar, menurutnya, tanggung jawab sekolah tidak berhenti pada pencapaian akademik dan non-akademik, tetapi juga memastikan setiap siswa belajar dalam lingkungan yang aman dan nyaman.

Baca juga: Makan bergizi saja tidak cukup, sekolah perlu mengajarkan literasi gizi