Depok (ANTARA) - Kajian Klinik Digital menemukan vaping telah berkembang dari persoalan produk menjadi ekosistem sosial-digital.
“Tantangan terbesar bukan ketika anak muda sudah menggunakan, tetapi ketika sebuah risiko kehilangan kesan sebagai risiko. Sesuatu yang terus terlihat, dibicarakan dan hadir dalam pergaulan dapat perlahan terasa biasa,” ujar Devie, yang pernah memberikan kuliah umum di Swansea University, UK tentang Landscape Game Online Di ASEAN, Jumat.
Studi dilakukan melalui web scraping, dengan pengumpulan data dari internet secara terarah berdasarkan topik dan kriteria yang telah ditentukan; evidence synthesis dan triangulasi lintas sumber untuk memetakan bagaimana produk, konten digital, teman sebaya, akses dan perilaku saling terhubung.
Vaping ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan seseorang memilih menggunakan atau tidak menggunakan sebuah produk.
Riset independen Klinik Digital yang dipimpin Associate Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS dari Program Vokasi Universitas Indonesia, Jumat menemukan bahwa vaping di Indonesia telah berkembang menjadi ekosistem sosial-digital, tempat produk, konten, teman sebaya, keluarga, gaya hidup, retail dan platform digital saling berinteraksi.
Temuan utamanya menunjukkan bahwa perlu diwaspadai bukan hanya produknya, tetapi juga proses yang membuat penggunaan vaping perlahan terasa normal.
Klinik Digital, yang merupakan bagian dari Ruang Karya Berdampak (RKD) Foundation melakukan purposive web scraping terhadap 41 temuan awal, yang kemudian disaring berdasarkan kriteria kajian hingga diperoleh 39 sumber digital unik yang relevan dan tidak berulang, lalu melakukan evidence synthesis, yaitu menggabungkan dan menelaah berbagai bukti untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Temuan juga diperiksa melalui triangulasi, dengan membandingkan informasi dari beberapa jenis sumber, dan cross-validation, berupa pengecekan silang untuk memastikan bahwa temuan yang diperoleh konsisten dan dapat dipercaya.
Proses tersebut menggunakan berbagai sumber, antara lain dengan data surveilans atau data pemantauan secara berkala; penelitian peer-reviewed atau penelitian ilmiah yang telah ditelaah para ahli sebelum diterbitkan; monitoring pemasaran digital atau pemantauan promosi di media dan platform digital; studi perilaku pemuda; audit retail atau pemeriksaan kondisi penjualan di tingkat toko dan pasar;analisis kemasan produk; serta dokumen pemerintah serta regulasi.
Analisis kemudian dilakukan secara bertahap dengan melihat beberapa aspek yang saling berkaitan, mulai dari epidemiologi, yaitu gambaran mengenai seberapa luas penggunaan vaping dan kelompok masyarakat yang terdampak; produk, yaitu karakteristik dan jenis produk yang beredar; digital exposure, yaitu seberapa sering masyarakat terpapar konten, promosi, atau informasi vaping di ruang digital; peer dan keluarga, yaitu pengaruh teman sebaya dan lingkungan keluarga; retail, yaitu ketersediaan dan akses terhadap produk di pasar; regulasi, yaitu aturan yang mengatur produk dan peredarannya; hingga evaluasi pencegahan, yaitu penilaian terhadap efektivitas upaya untuk mencegah penggunaan vaping.
Rangkaian proses analisis secara bertahap dapat digambarkan sebagai proses : Epidemiologi → produk → digital exposure → peer dan keluarga → retail → regulasi → evaluasipencegahan.
Hasil akhirnya berupa pemetaan mekanisme bagaimana normalisasi terhadap vaping dapat terbentuk.
Klinik Digital menemukan pola yang disebut Mesin Normalisasi Digital yaitu PRODUK → KONTEN → PEER → AKSES → PENGGUNAAN → KONTEN.
Pola tersebut menggambarkan siklus yang saling menguatkan, produk menarik perhatian, konten, membangun familiaritas, teman dan komunitas memberikan legitimasi sosial, akses digital mempermudah pembelian, penggunaan kemudian menghasilkan percakapan atau konten baru, dan konten tersebut kembali memperluas paparan.
“Produk menciptakan daya tarik. Konten membangun familiaritas. Teman dan komunitas menciptakan social proof. Akses digital memperpendek jarak antara rasa ingin tahu dan transaksi. Penggunaan kemudian kembali menghasilkan percakapan dan konten. Oleh karena itu, penelitian menyimpulkan bahwa vaping tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor, namun, berada di persimpangan kesehatan publik, pemasaran digital, budaya teman sebaya, retail dan regulasi platform.
Algoritma tidak bekerja sendirian, tetapi ada teman, keluarga, produk, komunitas dan lingkungan sosial. Persoalan digital pada akhirnya tetap merupakan persoalan manusia,” ujar Wiratri Anindhita, peneliti Klinik Digital.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi Klinik Digital untuk melihat kembali kebutuhan pencegahan dan keterkaitannya dengan jejaring sosial yang telah dimiliki BNN.
Klinik Digital terlebih dahulu memetakan persoalan vaping. Setelah struktur masalah terbentuk, penelitian justru menemukan bahwa arah pencegahan BNN hari ini, relevan dengan karakter risiko yang ditemukan.
BNN memiliki modal penting ketika ancaman semakin kompleks yaitu pengalaman pencegahan, jejaring masyarakat, sekolah dan komunitas, perhatian terhadap generasi muda, serta kapasitas kolaborasi lintas sektor.
Klinik Digital menyebut modal tersebut sebagai SOCIAL PREVENTION ARCHITECTURE. Istilah Social Prevention Architecture digunakan Klinik Digital untuk menggambarkan fondasi pencegahan yang bertumpu pada pengalaman, jejaring masyarakat, sekolah dan komunitas, perhatian terhadap generasi muda, serta kolaborasi lintas sektor.
Kekuatan ini relevan, karena riset menemukan perilaku generasi muda tidak dibentuk oleh media sosial sendirian, tetapi oleh interaksi antara individu, teman, keluarga, komunitas dan lingkungan digital.
Rilis penelitian juga mencatat kekuatan jaringan pencegahan BNN pada masyarakat, sekolah dan komunitas.
“Kami memetakan masalahnya terlebih dahulu. Justru setelah peta itu terbentuk, terlihat bahwa kekuatan pencegahan sosial yang selama ini dibangun BNN semakin relevan dengan tantangan generasi muda hari ini,” ujar Andhita Yukihana, peneliti Klinik Digital.
“Institusi yang kuat bukan hanya mampu menghadapi ancaman yang sudah terlihat, namun, yang mampu membaca perubahan sebelum perubahan itu menjadi jauh lebih besar,” imbuh Yukihana, yang juga peneliti dari Vokasi UI.
Bagi Klinik Digital, capaian 1.910 Remaja Teman Sebaya Anti Narkotika mempunyai makna strategis, angka tersebut ditempatkan dalam kerangka temuan penelitian bahwa teman sebaya bukan hanya menjadi jalut penyebaran norma perilaku, tetapi juga dapat diarahkan sebagai jalur perlindungan. Jika peer dapat menjadi jalur normalisasi perilaku, maka peer jugadapat menjadi jalur perlindungan.
Tidak hanya itu, jika ruang digital dapat mempercepat penyebaran norma, jaringan anak muda juga dapat mempercepat penyebaran norma yang sehat.
Ketika lingkungan sosial ikut menentukan bagaimana generasi muda mengambil keputusan, keberadaan 214 Desa/Kelurahan Bersinar menunjukkan bahwa pencegahan BNN telah bergerak hingga lingkungan tempat norma sosial sehari-hari dibentuk.
Keberadaan jejaring tersebut menjadi relevan karena penelitian menempatkan lingkungan sosial sebagai salah satu ruang terbentuknya norma perilaku generasi muda.
“Inilah yang menarik dari BNN. Ketika banyak orang melihat teknologi sebagai jawabannya, BNN ternyata telah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma, yaitu manusia, teman sebaya dan komunitas. Dalam era digital, justru jaringan sosial nyata seperti inilah yang semakin berharga,” tambah Wiratri, yang juga pengurus Yayasan RKD.
Klinik Digital juga mengapresiasi konsistensi BNN menempatkan pencegahan sebagai prioritas, melalui penguatan strategi War on Drugs for Humanity melalui Ananda Bersinar, transformasi digital, dan pemberantasan narkotika terintegrasi.
Bagi Klinik Digital, pilihan tersebut penting, mengingat pemberantasan menangani ancaman yang telah terjadi. Pencegahan berusaha memastikan ancaman itu tidak pernah sempat tumbuh.
Kajian Klinik Digital karena itu memberikan kesimpulan bahwa BNN tidak memulai dari nol. Fondasi pencegahannya sudah ada, dan temuan ilmiah menunjukkan fondasi tersebut semakin relevan untuk menghadapi perubahan lanskap risiko generasi muda.
“Kemenangan terbesar pencegahan bukan hanya ketika kita berhasil menghentikan sesuatu yang berbahaya, tetapi ketika satu generasi tidak pernah merasa perlu untuk memulainya.” Seru Devie.
“Kesimpulan kajian ini adalah pemetaan mekanisme normalisasi vaping, yaitu gambaran tentang bagaimana paparan yang terus menerus terhadap produk, promosi, lingkungan sosial, dan kemudahan akses, dapat membuat vaping secara perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau wajar di masyarakat,” tutup Devie.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.