Ubah sampah jadi BBM, masyarakat berdaya di Bukit Imogiri Bantul

July 2026 · 2 minute read
Di tangan masyarakat yang memiliki kemauan untuk berinovasi, limbah yang semula dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sumber energi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi lingkungan sekitarnya.

Yogyakarta (ANTARA) - Deru mobil bak terbuka pengangkut sampah silih berganti memecah kesunyian perbukitan Imogiri, Kabupaten Bantul. Satu per satu kendaraan memasuki halaman Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah. Dari bak kendaraan, berkilo-kilogram sampah diturunkan untuk kemudian dipilah dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai.

Di area pengolahan, aktivitas berlangsung nyaris tanpa henti. Sejumlah pekerja memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sebagian lainnya menurunkan muatan dari truk, sementara yang lain mondar-mandir memanggul karung berisi sampah plastik. Masing-masing bekerja sesuai tugasnya, membentuk mata rantai pengelolaan sampah yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Di bagian belakang bangunan, kepulan asap tipis keluar dari sebuah tungku berukuran besar. Di sanalah mesin pirolisis bekerja mengolah sampah plastik menjadi Petasol, bahan bakar alternatif yang menjadi inovasi terbaru KSM Pilah Berkah.

Perjalanan kelompok ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak berdiri pada 2017, KSM Pilah Berkah terus berupaya menjadi bagian dari solusi atas persoalan sampah di Bantul. Kini, perjuangan tersebut tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekaligus menghadirkan energi alternatif dari limbah plastik.

Berawal dari keresahan

KSM Pilah Berkah didirikan pada 2017 dengan mengusung konsep pengelolaan sampah berbasis rukun tetangga (RT) melalui program sedekah sampah. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 2021, kelompok tersebut mulai bertransformasi dengan menitikberatkan pada penguatan manajemen pengelolaan sampah.

Perubahan itu dilatarbelakangi banyaknya kelompok pengelola sampah yang berhenti beroperasi akibat tata kelola yang belum tertata dengan baik.

“Di KSM Pilah Berkah, saya menerapkan tata kelola pengelolaan sampah, baik untuk kawasan berbasis masyarakat maupun industri,” kata Konsultan Program Daur Ulang Sampah KSM Pilah Berkah, Arif Sholikin, Jumat (24/7).

Pada masa awal berdiri, kelompok tersebut hanya beranggotakan empat orang. Pemasukan pun nyaris belum ada sehingga para pengurus harus berjuang untuk mempertahankan keberlangsungan organisasi. Mitra pertama mereka hanya berada di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri. Kini, jaringan kemitraan tersebut telah berkembang hingga mencakup 10 kalurahan.

Selama bertahun-tahun, Arif bersama tim melakukan pendampingan secara intensif, mulai dari sosialisasi, pelatihan praktik pengelolaan sampah, pembentukan kelembagaan, hingga penyusunan sistem kerja. Seluruh upaya itu dilakukan untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Baca juga: Pemkab Bantul terus bahas pengelolaan sampah sistem waste to energy

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.