Jadi intinya...
- Karina Ranau masih trauma dan cemas setelah dugaan penganiayaan di kantinnya.
- Ia merasa takut jalan sendiri, sering menoleh ke belakang, dan belum tenang.
- Pelaku diduga mengira Karina hanya pegawai, bukan pemilik kantin saat kejadian.
Liputan6.com, Jakarta - Karina Ranau masih berupaya memulihkan kondisi psikologisnya setelah menjadi korban dugaan penganiayaan di kantin miliknya. Peristiwa tersebut meninggalkan rasa takut yang hingga kini masih dirasakannya, terutama saat harus beraktivitas seorang diri.
Saat ditemui di Polsek Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026), Karina mengaku rasa cemas masih muncul dalam kesehariannya. Ia bahkan mengaku sering menoleh ke belakang ketika berjalan karena merasa khawatir terhadap keadaan di sekitarnya.
"Rasa was-was masih menghantui, ada. Sampai saat ini saya tuh trauma, takut jalan sendiri, tapi ya untuk ke psikologis saya sih, jadi kalau jalan harus nengok ke belakang, ada suara apa sedikit saya takut. Heeh," ujar Karina Ranau.
Masih Terbayang Kejadian di Kantin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293759/original/013766600_1783748492-IMG-20260707-WA0016.jpg)
Perbesar
Karina mengatakan dirinya belum pernah kembali bertemu dengan terduga pelaku sejak insiden penganiayaan itu terjadi. Pertemuan terakhir mereka hanya berlangsung saat peristiwa tersebut terjadi di kantin miliknya.
Menurut Karina, pengalaman itu masih terus teringat sehingga membuatnya belum bisa benar-benar merasa tenang. Ia mengaku kejadian tersebut masih membekas dalam pikirannya.
"Ketemu terakhir waktu di warung gitu karena saya masih trauma, masih apa ya, keguncangan saya masih ada di depan mata saya," tuturnya.
Menunda Bertemu Psikolog untuk Memulihkan Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293760/original/029774500_1783748492-IMG-20260707-WA0019.jpg)
Perbesar
Karina sempat mempertimbangkan untuk kembali menjalani pendampingan psikolog. Namun, untuk sementara waktu ia memilih mencoba memulihkan kondisi mentalnya secara perlahan.
Ia mengingat pernah menjalani konsultasi psikolog ketika suaminya, Epy Kusnandar, meninggal dunia. Pengalaman tersebut membuatnya ingin terlebih dahulu berusaha mengatasi trauma yang kini dialami sebelum memutuskan kembali mencari bantuan profesional.
"Tadinya saya sempat mau ke psikolog cuman saya masih mengerem diri karena pada saat almarhum suami meninggal saya pernah ke psikolog juga untuk bangkit dan sembuh dan saya sudah sembuh. Saya menghindari untuk pergi ke psikolog itu tapi jika memang itu nantinya saya perlukan mungkin saya akan pergi ke sana," ungkap Karina.
Pelaku Diduga Mengira Karina Hanya Pegawai Kantin
Selain menceritakan kondisi psikologisnya, Karina juga mengungkap informasi yang ia terima mengenai alasan pelaku melakukan tindakan tersebut. Menurutnya, pelaku diduga tidak mengetahui bahwa dirinya merupakan pemilik kantin.
Saat kejadian berlangsung, Karina tengah membersihkan area depan warung sehingga pelaku diduga mengira dirinya hanya bertugas menjaga tempat tersebut.
"Yang saya dengar katanya kata pelaku itu pada saat kejadian dia tidak tahu kalau saya itu owner-nya dia bilang dikiranya saya itu ibu-ibu yang kerja di warung itu yang jaga warung itu dia bilang gitu. Kiranya dia gak tahu saya owner-nya karena pada saat itu saya lagi nyapu, saya sambil nyapu di depan warung sambil beres-beres," jelas Karina.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
12 Film Komedi Misteri Barat, Humor dan Ketegangan dalam Satu Layar