Transisi Energi, Jerman Target Tak Lagi Pakai Bahan Bakar Fosil 2045

September 2026 · 3 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Jerman menargetkan untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap pada tahun 2045. Rencana ini tertuang dalam peta jalan yang diterbitkan pada Rabu (23/9).

Dalam peta jalan tersebut, pemerintah Jerman berjanji untuk berhenti menggunakan bahan bakar fosil. Sebelumnya, negara hanya berjanji untuk menyeimbangkan emisi karbon.

Rencana ini mencakup peningkatan porsi energi terbarukan dari 55 persen menjadi 80 persen pada tahun 2030, ditambah dengan 12GW tenaga angin darat (onshore) dan target 215GW energi surya pada tahun 2030.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Jerman memastikan untuk menjalankan komitmen sebelumnya, yaitu mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap dalam 10 tahun ke depan dan ditargetkan untuk berhenti total pada tahun 2038.

Selain itu, pemerintah Jerman juga membuka kemungkinan bahwa target dapat tercapai lebih cepat, yaitu dimajukan ke tahun 2035.

Rencana ini juga mencakup pemangkasan emisi metana sebesar 30 persen pada tahun 2030. Metana merupakan gas rumah kaca yang diklaim 80 kali lipat lebih berbahaya daripada karbon dioksida.

Mengutip The Guardian, langkah ini sejalan dengan komitmen metana global yang ditandatangani pada tahun 2021. Rencana ini juga disambut baik oleh para aktivis lingkungan.

Menurut Andreas Sieber selaku kepala strategi politik global dari 350.org, rencana ini merupakan sebuah perubahan penting sebab menjadikan penghapusan bahan bakar fosil sebagai tujuan kebijakan yang tegas.

Namun demikian, Andreas turut mengingatkan bahwa Kementerian Urusan Ekonomi dan Energi Jerman masih sangat mendorong peningkatan penggunaan gas.

"Kementerian ekonomi terus menghambat transisi untuk meninggalkan bahan bakar fosil," ungkap Andreas, Rabu (23/9).

Ia menegaskan tahun ini menunjukkan ketergantungan pada bahan bakar fosil menjadi risiko bagi semua pihak. Ketergantungan ini membuat rumah tangga dan pelaku usaha di Jerman maupun negara lain rentan terhadap lonjakan harga, ketidakstabilan pasar hingga ketidakpastian geopolitik.

Jennifer Morgan selaku mantan utusan iklim di Jerman turut membuka suara. Menurutnya, pemerintah harus lebih berusaha dalam mengelektrifikasi sektor transportasi dan pemanas.

"Mempercepat peralihan dari batu bara, minyak, dan gas ke energi bersih terbarukan akan memperkuat kemandirian energi dan melindungi konsumen dari lonjakan harga di saat-saat kritis ini. Namun, peta jalan ini baru menjadi garis awalnya," katanya.

Ia menambahkan bahwa strategi ini harus dibarengi dengan penerapan elektrifikasi ramah lingkungan yang lebih cepat dan terencana.

Jerman merupakan negara maju ketiga yang merilis peta jalan semacam ini setelah Prancis dan Belanda. Langkah ini menyusul konferensi internasional besar di Kolombia pada bulan April lalu.

Dalam konferensi tersebut, seluruh peserta berjanji untuk menyusun rencana penghapusan bahan bakar fosil secara menyeluruh.

[Gambas:Video CNN]

Pengumuman rencana penghentian menggunakan bahan bakar fosil ini menyusul perdebatan beberapa negara terkait cara meningkatkan upaya penanganan krisis iklim pada Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Sebelumnya, Jerman berencana mendorong penggunaan pompa panas (heat pumps) untuk menggantikan pemanas gas. Namun, rencana ini ditolak keras oleh sayap kanan ekstrem perpolitikan Jerman.

Hal ini terjadi setelah disahkannya undang-undang pemanas pada tahun 2023 yang berencana melarang sebagian besar instalasi pemanas berbahan bakar minyak dan gas.

(nad/dmi)