REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR, – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Makassar pada Jumat. Langkah ini merupakan upaya konkret untuk menekan dampak kenaikan harga cabai sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Camat Tallo ini dirangkaikan dengan edukasi transaksi digital QRIS serta edukasi hilirisasi komoditas cabai. Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, Muh. Ilyas, menyampaikan bahwa sinergi ini penting untuk merespons dinamika harga pangan.
Camat Tallo Andi Husni dan Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Oki Hermawan turut hadir dan mengapresiasi antusiasme masyarakat setempat yang menyambut meriah kegiatan ini.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menegaskan bahwa GPM merupakan wujud sinergi antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia. Tujuannya adalah menjaga stabilitas harga pangan serta mempertahankan daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi.
Prinsip 4T dan Fokus pada Komoditas Cabai
Pelaksanaan GPM ini menerapkan prinsip 4T, yaitu tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas. Prinsip ini diutamakan untuk komoditas pangan yang sedang mengalami tekanan harga, salah satunya cabai.
Berdasarkan data per 25 September 2026, harga cabai rawit merah di Kota Makassar tercatat mencapai Rp71.250 per kilogram. Angka ini berada jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang berkisar antara Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.
Untuk meringankan beban masyarakat, panitia menyiapkan sebanyak 250 paket tebus murah cabai dengan harga hanya Rp17.500 per paket. Setiap paket berisi cabai merah 200 gram, cabai rawit 200 gram, dan cabai keriting 200 gram.
Pembelian paket cabai tersebut dilakukan secara nontunai menggunakan QRIS. Selain mendapatkan harga yang lebih terjangkau, masyarakat juga diperkenalkan pada kemudahan, kecepatan, dan efisiensi transaksi pembayaran digital.
Integrasi Hilirisasi dan Digitalisasi
Selain cabai, GPM juga menyediakan berbagai kebutuhan pangan pokok lainnya. Masyarakat dapat membeli beras, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging sapi, telur ayam ras, tepung terigu, aneka sayuran, buah segar, hingga produk olahan.
Bank Indonesia menilai bahwa pengendalian inflasi pangan tidak cukup hanya melalui intervensi harga. Upaya ini perlu diperkuat dengan digitalisasi pembayaran dan pengembangan nilai tambah komoditas.
Oleh karena itu, rangkaian GPM juga menghadirkan edukasi hilirisasi cabai. Produk olahan cabai dari UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel turut dipamerkan. Pengolahan cabai menjadi produk bernilai tambah dinilai mampu memperluas potensi pasar, memperpanjang umur simpan, serta membuka peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.
Integrasi antara GPM, digitalisasi pembayaran, dan hilirisasi cabai ini menjadi bagian dari pendekatan strategis TPID Sulsel dalam merespons tekanan harga pangan. Langkah ini sekaligus bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara