TNI dorong inovasi pengolahan organik untuk cegah karhutla Kotim
Selasa, 15 September 2026 17:24 WIB
Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Brigadir Jenderal TNI (Mar) Citro Subono saat diwawancarai terkait karhutla di Kotim, Selasa (15/9/2026). ANTARA/Devita Maulina.
Sampit (ANTARA) - Tim Markas Besar TNI mendorong penerapan inovasi pengolahan sampah organik sebagai salah satu solusi mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
Sosialisasi dan edukasi perlu terus dilakukan demi mencegah tidak terjadi lagi kebakaran, kata Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Brigadir Jenderal TNI (Mar) Citro Subono, dalam rapat koordinasi pembahasan penanggulangan bencana karhutla dan kekeringan di lingkungan Pemkab Kotim di Sampit, Selasa.
Citro memimpin Tim penyuluh Mabes TNI tersebut ditugaskan di Kalimantan Tengah selama sekitar satu bulan hingga 26 September 2026, berkaitan dengan penanganan karhutla. Selain Kotim, tim juga melakukan sosialisasi di Kabupaten Seruyan dan Katingan.
Dia menyebutkan, pencegahan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman, tetapi harus dibarengi perubahan pola pengelolaan lahan oleh masyarakat. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan masyarakat adalah mengolah sampah organik menjadi pupuk sehingga tidak perlu dibakar saat membersihkan lahan.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar masih menjadi salah satu faktor pemicu karhutla.
"Teknologi tersebut memanfaatkan tumpukan daun dan bahan organik lainnya dengan bantuan EM4 serta molase untuk mempercepat proses pengomposan," jelasnya.
Dengan mengubah sampah organik menjadi bahan yang bermanfaat, masyarakat tidak hanya mengurangi potensi api, tetapi juga memperoleh pupuk yang dapat dimanfaatkan kembali.
Citro yang merupakan perwira tinggi Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan memiliki rekam jejak di bidang riset serta rekayasa teknologi alutsista menilai inovasi dalam penanggulangan bencana harus berjalan beriringan dengan edukasi kepada masyarakat.
Pengalamannya dalam pengembangan teknologi untuk kebutuhan operasi maupun penanggulangan bencana itulah yang menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman, termasuk karhutla.
"Jadi, jangan hanya berpikir bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana supaya api itu tidak muncul, yakni dengan pencegahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat," ujarnya.
Disisi lain, Citro mengapresiasi dukungan Pemkab Kotim yang telah menyediakan alat berat, termasuk ekskavator di setiap kecamatan. Sarana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat sekat atau batas lahan, embung, serta membantu penanganan apabila terjadi kebakaran.
Ia menilai keberadaan embung dan saluran air yang terhubung dengan Sungai Mentaya juga menjadi bagian penting dari kesiapan menghadapi karhutla karena dapat menyediakan sumber air saat kondisi darurat.
"Upaya Pemkab Kotim sudah cukup bagus. Setiap kecamatan ada ekskavator. Tinggal bagaimana pemanfaatannya di bawah, termasuk embung dan saluran air yang bisa digunakan untuk membantu memadamkan api," ucapnya.
Dari hasil pemantauan tim Mabes TNI pula, Citro menilai sinergi penanganan karhutla di Kotim berjalan cukup baik. Gerakan pemerintah daerah, aparat dan masyarakat dinilai relatif cepat dalam merespons munculnya titik kebakaran.
Namun, ia menekankan pentingnya memperluas edukasi hingga kelompok generasi muda. Menurutnya, generasi Z, milenial, maupun generasi Alpha perlu dilibatkan sebagai pelopor pencegahan karhutla agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
"Untuk penanganan di sini sudah cukup bagus. Kami dari Mabes TNI memantau, kemudian memberi pencerahan, pengarahan. Kemudian sosialisasi tentang membantu generasi muda, supaya mereka sebagai generasi penerus di kemudian hari tidak terjadi kebakaran yang berulang. Jadi tahun depan mungkin dia bisa sebagai pelopor mencegah karhutla," ujarnya.
Baca juga: Bea Cukai Sampit musnahkan BKC ilegal senilai Rp1,35 Miliar
Salah satu kendala yang ditemukan tim penyuluh adalah peserta sosialisasi yang hadir belum tentu berasal dari kelompok masyarakat yang berpotensi melakukan pembakaran lahan.
"Kami juga mendorong penggunaan media digital, agar pesan pencegahan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas," kata Citro.
Dirinya juga meminta dukungan media dan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk memperbanyak konten edukasi mengenai bahaya karhutla, keselamatan lingkungan, serta cara mengelola lahan tanpa membakar.
Terkait pembakaran yang dilakukan secara sengaja, Citro mengatakan penanganannya tetap perlu mengacu pada ketentuan hukum.
Ia mengingatkan masyarakat bahwa pembakaran pada musim kemarau memiliki risiko sangat besar karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali membesar ketika terkena angin.
"Secara kasat mata apinya memang sudah padam, tetapi di bawahnya bisa masih menyala. Ketika terkena angin, itu menjadi pemantik dan api bisa merambat ke mana-mana," sebutnya.
Citro menegaskan upaya menghadapi karhutla harus ditempatkan sebagai gerakan bersama dengan menggabungkan edukasi, inovasi pengelolaan lahan, kesiapan sarana prasarana, serta penegakan aturan.
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.