Kuliah Satu SKS untuk Pembela Pemerintah
SAYA pernah berada dalam posisi yang hampir selalu harus menjawab kritik terhadap Pemprov DKI Jakarta.
Saya berhadapan dengan politisi, dengan orang-orang yang mengaku aktivis media sosial tetapi afiliasi dan keberpihakannya terlalu jelas untuk disembunyikan.
Saya juga pernah berhadapan dengan intelektual bayaran pengamat perkotaan, dosen di universitas swasta yang persepsinya bisa berubah mengikuti siapa yang sedang berkuasa.
Ketika diberi ruang oleh gubernur DKI Jakarta sebelum Anies Baswedan, bicaranya lain. Memuji. Begitu Anies menjadi gubernur, hampir semua hal mendadak salah.
Saya hadapi mereka dengan data. Beradu argumen, membongkar logikanya, dan kalau perlu meledek atribut yang mereka sematkan sendiri: “ Pengamat perkotaan.”
Tetapi ada kelompok yang saya perlakukan berbeda: WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).
Ketika berhadapan dengan WALHI, saya tidak sibuk membantah. Saya tidak mengeluarkan semua data yang saya punya untuk mencari pembenaran. Saya justru meminta mereka mengkritik Pemprov DKI lebih tajam lagi.
Kenapa?
Karena saya tahu kritik seperti apa yang perlu dijawab dan kritik seperti apa yang justru harus didengarkan.
Tidak semua orang yang mengkritik pemerintah adalah musuh. Dan tidak semua orang yang membela pemerintah sedang melakukan sesuatu yang terhormat.
Ada kritik yang lahir dari kepedulian. Ada kritik yang tujuannya memperbaiki kebijakan. Ada kritik yang membuat pemerintah dipaksa bekerja lebih baik.
Tetapi ada juga kritik yang sejak awal memang hanya ingin menghancurkan reputasi. Data tidak terlalu penting. Konsistensi tidak penting. Yang penting adalah narasi dan kesimpulan sudah ditentukan sejak awal.
Begitu pula sebaliknya.
Membela pemerintah bukan berarti setiap kritik harus dibantah. Apalagi kalau yang dipertontonkan justru ketidaksiapan menghadapi argumen.
Karena itu saya merasa malu melihat video diskusi antara aktivis Greenpeace dengan si tukang monolog yang selalu mengambil posisi membela pemerintah.
Bukan karena saya menganggap aktivis selalu benar.
Bukan juga karena pemerintah tidak boleh dibela.
Tetapi karena dalam sebuah diskusi, orang yang datang untuk membela pemerintah seharusnya membawa argumen, data, dan kemampuan menguji balik kritik. Bukan sekadar membawa keyakinan bahwa pemerintah pasti benar.
Yang saya lihat justru seperti orang yang belum selesai memahami pertanyaan, tetapi sudah buru-buru ingin memenangkan jawaban.
Dan akhirnya yang terlihat bukan seorang pembela pemerintah.
Yang terlihat adalah seseorang yang sedang dikuliahi.
Satu SKS.
Dan dosennya bahkan tidak perlu meninggikan suara.
Ini linknya dengarkan saja sendiri.
https://vt.tiktok.com/ZS4sm5TwD/
Geisz Chalifah
Pegiat demokrasi
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.