Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
26 July 2026 19:55
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan global diperkirakan bergerak lebih dinamis pada pekan depan seiring padatnya agenda ekonomi dari Amerika Serikat, China, dan Eropa.
Perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), data inflasi yang menjadi acuan utama The Federal Reserve (The Fed), hingga sinyal kebijakan ekonomi dari China.
Rangkaian agenda tersebut akan menjadi petunjuk baru mengenai arah suku bunga global, prospek pertumbuhan ekonomi, serta sentimen terhadap aset berisiko, termasuk di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Senin, Pesanan Barang Tahan Lama AS & Pertemuan Politbiro China
Pekan dibuka dengan dua agenda penting dari dua ekonomi terbesar dunia, yakni data durable goods orders Amerika Serikat dan pertemuan Politburo China.
Dari Amerika Serikat, pasar akan mencermati pesanan barang tahan lama (durable goods orders) periode Juni. Pada Mei, indikator ini anjlok 4,5% secara bulanan, berbalik dari lonjakan 8,5% pada April. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Juni 2025 dan terutama dipicu merosotnya permintaan pesawat komersial serta peralatan transportasi.
Meski demikian, komponen yang mencerminkan belanja modal dunia usaha masih menunjukkan ketahanan. Pesanan non-defense capital goods excluding aircraft, yang kerap dijadikan indikator investasi korporasi, justru tumbuh 1,6% setelah bulan sebelumnya terkontraksi. Kondisi ini menunjukkan perusahaan-perusahaan AS masih agresif melakukan ekspansi, terutama investasi yang berkaitan dengan pembangunan pusat data (data center) dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Untuk Juni, Trading Economics memperkirakan durable goods orders kembali tumbuh 1,8%. Jika realisasi sesuai atau bahkan lebih tinggi dari proyeksi, hal itu memperkuat pandangan bahwa aktivitas manufaktur AS tetap solid meski suku bunga masih berada di level tinggi.
Pada hari yang sama, investor juga menunggu hasil pertemuan Politbiro China, forum yang menjadi penentu arah kebijakan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada semester kedua tahun ini.
Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas langkah lanjutan untuk menopang konsumsi domestik, sektor properti, hingga dukungan terhadap industri manufaktur dan ekspor. Pasar juga akan mencari sinyal mengenai tambahan stimulus fiskal maupun moneter setelah pemulihan ekonomi China masih berjalan tidak merata.
Bagi Indonesia, hasil pertemuan Politbiro penting karena China merupakan mitra dagang terbesar. Kebijakan stimulus yang lebih agresif berpotensi meningkatkan permintaan berbagai komoditas ekspor Indonesia, mulai dari batu bara, nikel hingga minyak sawit.
Kamis, Hari Terpenting Pekan Ini, Semua Mata Tertuju ke The Fed
Agenda paling dinantikan pasar jatuh pada Kamis dini hari ketika Federal Reserve mengumumkan hasil rapat kebijakan moneternya.
Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%. Fokus investor bukan lagi pada keputusan suku bunga, melainkan pesan yang akan disampaikan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers setelah rapat.
Sebelumnya, Warsh menegaskan bahwa bank sentral masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama. Ia menyebut inflasi yang tinggi selama lima tahun terakhir harus benar-benar dikembalikan menuju target, sembari menilai ekonomi Amerika masih berada dalam kondisi yang kuat.
Menurut Warsh, konsumsi rumah tangga tetap tumbuh moderat, sektor manufaktur terus berekspansi, sementara investasi dunia usaha menjadi motor utama pertumbuhan, terutama pembangunan pusat data dan tingginya permintaan perangkat keras maupun perangkat lunak berbasis AI. Di sisi ketenagakerjaan, penciptaan lapangan kerja dinilai masih mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja dengan tingkat pengangguran yang tetap rendah.
Nada pernyataan Warsh akan menjadi petunjuk penting apakah The Fed masih akan mempertahankan sikap ketat lebih lama atau mulai membuka ruang pelonggaran kebijakan pada sisa tahun ini.
Beberapa jam setelah keputusan The Fed, pasar kembali menghadapi banjir data ekonomi Amerika.
Indikator yang paling diperhatikan adalah Core PCE Price Index, ukuran inflasi favorit The Fed. Pada Mei, inflasi inti PCE meningkat 0,3% secara bulanan, sama seperti April, sementara secara tahunan mencapai 3,4%, level tertinggi sejak Oktober 2023 dan masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.
Untuk Juni, inflasi inti diperkirakan melambat menjadi 0,1%. Apabila realisasi kembali berada di atas perkiraan, peluang penurunan suku bunga berpotensi semakin mundur.
Di hari yang sama, pemerintah AS juga merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal II. Setelah ekonomi tumbuh 2,1% pada kuartal pertama, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 2,2%.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat dan inflasi yang belum kembali ke target dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Sementara itu, Zona Euro juga merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal II.
Sebelumnya, ekonomi kawasan euro tercatat mengalami kontraksi 0,2% secara kuartalan, menjadi penurunan pertama sejak 2022. Secara tahunan, pertumbuhan melambat menjadi hanya 0,3%, jauh di bawah laju pada akhir 2025.
Untuk kuartal II, pasar memperkirakan ekonomi mulai pulih dengan pertumbuhan 0,1% secara kuartalan dan 0,7% secara tahunan. Angka tersebut akan menjadi gambaran apakah ekonomi Eropa mulai keluar dari tekanan akibat mahalnya energi dan lemahnya investasi.
Jumat, China dan Eropa Tutup Pekan
Sentimen global ditutup oleh dua data penting dari Asia dan Eropa.
China akan merilis PMI Manufaktur NBS periode Juli. Pada Juni, indeks ini naik menjadi 50,3, menandai bulan ketiga berturut-turut sektor manufaktur berada di zona ekspansi.
Perbaikan didukung meningkatnya pesanan baru serta ekspor produk-produk teknologi tinggi yang masih memperoleh manfaat dari booming investasi kecerdasan buatan. Untuk Juli, Trading Economics memperkirakan PMI kembali berada di 50,4, yang mengindikasikan aktivitas industri China masih bertahan di zona ekspansi.
Dari Eropa, investor menunggu inflasi kilat Juli. Inflasi tahunan diperkirakan naik tipis menjadi 3,0% dari 2,8% pada Juni. Jika tekanan harga kembali meningkat, ruang bagi European Central Bank untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas.
Secara keseluruhan, perhatian pasar global sepanjang pekan akan bertumpu pada kombinasi arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi AS, kesehatan ekonomi Amerika, prospek pemulihan China, serta laju ekonomi Eropa. Kelima faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, harga komoditas, hingga arus modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google