Ternyata Ini Alasan Kenapa di Jepang Minim Tempat Sampah

September 2026 ยท 3 minute read

Jakarta -

Wisatawan yang berlibur ke Jepang mungkin akan dibuat bingung oleh satu hal: sulit menemukan tempat sampah di ruang publik. Padahal, jalan-jalan di kota-kota Jepang dikenal bersih dan minim sampah berserakan.

Kondisi itu membuat wisatawan kerap harus membawa gelas kopi kosong, bungkus makanan dari minimarket, hingga sampah lainnya selama berkeliling.

Hal tersebut sudah banyak diperbincangkan oleh wisatawan di media sosial. Salah satunya pengalaman mereka saat mencari tempat sampah di kawasan Tokyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir BBC, Kamis (24/9/2026) Profesor Sejarah di Williams College sekaligus penulis buku 'Waste: Consuming Postwar Japan', Eiko Maruko Siniawer, menjelaskan minimnya tempat sampah di Jepang merupakan hasil dari berbagai faktor.

"Ini adalah perpaduan kompleks dari perkembangan sejarah, fenomena ekonomi, peristiwa politik, dan beragam dampaknya terhadap cara orang memutuskan untuk bertindak," katanya.

Salah satu peristiwa penting terjadi pada Maret 1995 ketika anggota kelompok Aum Shinrikyo menyebarkan gas sarin di tiga jalur kereta bawah tanah Tokyo saat jam sibuk. Serangan itu menewaskan 14 orang dan melukai ribuan lainnya.

Setelah kejadian tersebut, otoritas menutup atau menghilangkan sejumlah tempat sampah sebagai bagian dari upaya pencegahan terorisme.

Kebijakan itu kemudian bertahan, terlebih setelah sejumlah serangan teror terjadi di berbagai negara, termasuk serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Namun, faktor keamanan bukan satu-satunya alasan tempat sampah di ruang publik Jepang semakin jarang.

Sejak tahun 2000-an, sejumlah pemerintah daerah juga sengaja mengurangi tempat sampah di jalan untuk mendorong masyarakat membawa sampah mereka pulang.

Di sisi lain, Siniawer juga mengatakan sampah yang dihasilkan saat bepergian juga relatif sedikit, karena makan sambil berjalan atau di dalam kereta bukan kebiasaan umum di Jepang.

"Ada juga lebih sedikit kesempatan untuk menghasilkan sampah selama perjalanan, karena makan sambil berjalan atau saat naik kereta bukanlah hal yang umum di Jepang," ujarnya.

Adapun, Aya Yoshida dari National Institute for Environmental Studies mengatakan kebijakan itu juga berkaitan dengan biaya pengelolaan.

"Di Kyoto, misalnya, jumlah tempat sampah di jalan dipangkas lebih dari setengahnya sejak 2011, setelah masalah seperti sampah rumah tangga yang dibuang ke dalamnya dan sampah yang menumpuk di sekitarnya meningkatkan biaya pemeliharaan dan pengelolaan tempat sampah," ungkap Yoshida.

Menurut Yoshida, kondisi jalan yang bersih di Jepang bukan semata-mata karena masyarakatnya memiliki kebiasaan menjaga kebersihan. Pemerintah daerah telah menjalankan berbagai kebijakan selama bertahun-tahun.

"Selama beberapa dekade, pemerintah daerah telah berinvestasi dalam kampanye antibuang sampah sembarangan, edukasi publik, pembersihan jalan, serta berbagai langkah desain lingkungan yang bertujuan mencegah orang membuang sampah sembarangan," lanjut Yoshida.

Kebiasaan masyarakat juga ikut berperan. Konsep 'meiwaku o kakenai' atau menghindari merepotkan orang lain, membuat orang cenderung tidak meninggalkan sampah sembarangan.

Kemudian, pemandu wisata yang berbasis di Jepang, Junko Yokoo, mengatakan tamunya awalnya kerap mengeluhkan sulitnya menemukan tempat sampah.

"Awalnya, tamu saya sering mengeluhkan minimnya tempat sampah yang tersedia. Tetapi mereka juga menikmati jalanan yang tidak dipenuhi sampah dan akhirnya belajar menerima mentalitas 'ketika berada di Tokyo, ikuti kebiasaannya'," ujarnya.

Tempat sampah sebenarnya masih tersedia, terutama di stasiun kereta, termasuk tempat sampah transparan di dekat gerbang tiket yang diawasi petugas atau kamera keamanan. Pada September 2026, Stasiun Shinjuku bahkan mulai menguji coba robot tempat sampah yang berkeliling untuk mengumpulkan sampah.

Namun, sampai fasilitas seperti itu tersedia lebih luas, wisatawan di Jepang tetap perlu siap membawa sampahnya hingga menemukan tempat untuk membuangnya.

(upd/wsw)