AKURAT.CO Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang perlu diwaspadai. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak selalu menunjukkan kondisi yang sama pada setiap orang.
Secara umum, infeksi TBC dapat berada dalam kondisi laten atau berkembang menjadi TBC aktif.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan bakteri penyebab TBC, tetapi memiliki perbedaan penting, terutama dari sisi gejala, kemampuan menular, dan penanganannya.
Memahami perbedaan TBC laten dan TBC aktif penting agar infeksi dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Apa Itu TBC Laten?
TBC laten terjadi ketika seseorang terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, tetapi sistem kekebalan tubuh mampu menahan bakteri tersebut sehingga tidak berkembang menjadi penyakit aktif.
Orang dengan TBC laten umumnya tidak mengalami gejala. Mereka juga tidak menularkan TBC kepada orang lain.
Meski demikian, kondisi laten tidak berarti infeksi dapat diabaikan. Pada sebagian orang, bakteri dapat kembali aktif ketika daya tahan tubuh menurun. Karena itu, kelompok tertentu dengan risiko lebih tinggi dapat dianjurkan menjalani pengobatan pencegahan sesuai penilaian dokter.
Bagaimana dengan TBC Aktif?
Berbeda dengan TBC laten, TBC aktif terjadi ketika bakteri berkembang dan menyebabkan penyakit. TBC aktif paling sering menyerang paru-paru, meski dapat pula mengenai organ tubuh lainnya.
Jika menyerang paru-paru, TBC aktif dapat menimbulkan gejala seperti:
Gejala dapat muncul secara bertahap. Karena itu, keluhan yang berlangsung lama sebaiknya tidak dianggap hanya sebagai flu atau kelelahan biasa.
Apakah TBC Laten Bisa Menular?
Salah satu perbedaan paling penting adalah kemampuan menularkan penyakit.
TBC laten tidak menular, karena bakteri berada dalam kondisi yang dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh.
Sebaliknya, TBC aktif pada paru-paru dapat menular melalui udara, terutama ketika penderita batuk, bersin, berbicara, atau melakukan aktivitas lain yang menghasilkan partikel udara yang mengandung bakteri.
Risiko penularan dapat meningkat pada kondisi seperti kontak dekat dalam waktu lama, tinggal di tempat dengan kepadatan tinggi, serta berada di ruangan yang memiliki ventilasi buruk.
Baca Juga: PATRIN Buka Suara Terkait Isu Atlet Tunarungu Galang Donasi untuk Kejuaraan Dunia