Liputan6.com, Singapura - Sebuah tas berbentuk labu hasil kolaborasi Louis Vuitton dan Yayoi Kusama terjual dengan harga fantastis dalam lelang barang sitaan kasus pencucian uang senilai S$ 3 miliar di Singapura.
Dikutip dari Channel News Asia, Senin (21/9/2026), tas berbahan kulit bermotif monogram berwarna kuning tersebut akhirnya terjual seharga S$ 87.000 atau sekitar Rp 1,2 miliar (kurs 13.971 per S$) pada Minggu malam, 20 September.
Harga tersebut melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan perkiraan awal rumah lelang, yakni antara S$ 12.000 hingga S$ 16.000.
Lonjakan harga terjadi setelah 42 penawaran masuk pada menit-menit terakhir. Secara keseluruhan, perang penawaran untuk tas langka tersebut berlangsung sekitar 30 menit.
Tas tersebut merupakan edisi terbatas hasil kolaborasi rumah mode mewah Louis Vuitton dengan seniman Jepang Yayoi Kusama, yang baru-baru ini meninggal dunia pada usia 97 tahun.
337 Barang Mewah Ludes Terjual
Lelang yang digelar rumah lelang Hotlotz tersebut merupakan tahap pertama penjualan barang-barang yang disita dalam kasus pencucian uang tersebut.
Sebanyak 337 tas tangan dan aksesori dilelang dan seluruhnya berhasil terjual. Total hasil penjualan mencapai lebih dari S$ 1,1 juta.
Tas Louis Vuitton x Yayoi Kusama bukan satu-satunya barang yang mendapat perhatian besar dari peserta lelang.
Sejumlah perhiasan dari Chrome Hearts, termasuk kalung, gelang, dan cincin, sebagian besar mendapatkan 30 penawaran atau lebih. Harga akhirnya juga beberapa kali lipat dari perkiraan awal.
Salah satu yang mencolok adalah kalung liontin berlian berbentuk double cross. Barang tersebut terjual seharga S$ 11.000, sekitar 10 kali lipat dari perkiraan awal yang berada di kisaran S$ 1.000 hingga S$ 1.500.
Hotlotz juga menggelar lelang lain untuk 286 perhiasan mewah yang disita dalam kasus yang sama. Lelang tersebut masih berlangsung hingga 27 September.
Jika digabungkan, kedua lelang itu diperkirakan menghasilkan antara S$ 2,9 juta hingga S$ 3,9 juta.
Kontras dengan Properti Mewah
Tingginya antusiasme terhadap tas dan perhiasan kontras dengan respons terhadap properti mewah yang juga berkaitan dengan jaringan ilegal yang sama.
Ketika properti-properti tersebut dilelang pada 17 September, tidak satu pun properti sitaan berhasil menemukan pembeli.
Sementara itu, barang-barang dengan merek ikonik justru mendapat persaingan ketat dari para peserta lelang.
Tas Chanel menjadi bagian terbesar dari koleksi tas mewah yang dilelang dan termasuk barang yang paling banyak diminati, bersama dengan perhiasan Chrome Hearts.
Salah satunya adalah tas mini flap Chanel berbahan kulit kambing berwarna krem yang dihiasi rhinestone. Tas tersebut terjual seharga S$ 15.000. Sekitar sepertiga dari total 28 penawaran untuk barang itu masuk pada Minggu.
Elaine Fung, pendiri Loveholic yang perusahaannya bergerak dalam pengadaan barang mewah, mengatakan model-model ikonik seperti Chanel classic flap dan Lady Dior memang diperkirakan akan menarik minat tinggi.
Menurutnya, model-model tersebut mudah dikenali, bahkan oleh orang yang tidak biasa mengikuti dunia fesyen mewah.
"Kami juga memperkirakan harga akan sedikit di atas tingkat penjualan kembali normal karena publisitas seputar lelang ini. Namun, beberapa penawaran ternyata jauh lebih tinggi dari perkiraan," kata Fung.
Salah satu contohnya adalah Chanel classic flap berbahan kulit caviar yang terjual seharga S$ 13.000. Menurut Fung, barang bekas dengan spesifikasi sebanding biasanya dijual di bawah S$ 10.000.
"Minat yang kuat tidak mengejutkan kami. Besarnya nilai penawaranlah yang mengejutkan. Publisitas dan suasana kompetitif mungkin mendorong orang untuk menawar lebih agresif," ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian peserta lelang mungkin juga belum mengetahui harga ritel dan harga jual kembali barang-barang tersebut saat ini.
Aturan Lelang Buat Persaingan Semakin Panjang
Hotlotz mengenakan buyer's premium sebesar 20 persen di atas harga penawaran terakhir. Biaya tersebut sudah termasuk pajak barang dan jasa Singapura, yang dapat dibebaskan bagi pembeli dari luar negeri.
Mekanisme lelang juga memungkinkan perang penawaran terus berlanjut melewati waktu penutupan yang telah dijadwalkan.
Jika sebuah penawaran masuk dalam lima menit terakhir sebelum suatu barang ditutup, waktu lelang untuk barang tersebut akan diperpanjang lima menit lagi.
Proses itu terus berulang sampai tidak ada penawaran baru selama lima menit penuh.
Hotlotz menjelaskan mekanisme tersebut di situsnya. Karena itu, barang-barang dalam sebuah lelang biasanya baru benar-benar ditutup beberapa jam setelah waktu penutupan yang telah dijadwalkan.
Bagian dari 15 Lelang Barang Sitaan
Lelang yang berakhir pada Minggu merupakan bagian dari rangkaian 15 lelang online untuk menjual barang-barang yang disita dalam kasus pencucian uang senilai S$ 3 miliar.
Rangkaian lelang tersebut dijadwalkan berlangsung mulai September tahun ini hingga Mei 2027.
Aset-aset yang berasal dari kasus tersebut diserahkan kepolisian kepada perusahaan audit Deloitte untuk dilikuidasi pada Agustus tahun lalu.
Hasil penjualan akan disetorkan ke dana konsolidasi pemerintah, yang berfungsi serupa dengan rekening bank milik pemerintah.
Menurut situs parlemen Singapura, pendapatan negara disetorkan ke dana tersebut dan dana itu juga digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah.