Jakarta -
Final Soekarno Cup 2026 bukan sekadar menjadi panggung para talenta pesepakbola muda. Momen ini sekaligus memperkuat semangat gotong royong di kalangan generasi muda.
Final Soekarno Cup 2026 mempertemukan Banteng Jabar U-17 melawan Banteng Bali U-17 di Gelora Bung Tomo Surabaya, Senin (24/8/2026). Adapun perebutan peringkat ketiga mempertemukan Banteng Jatim U-17 melawan Banteng Papua U-17.
Perhelatan ini ditutup dengan penyerahan dana gotong royong kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini sekaligus penegasan bahwa sepakbola tidak semata-mata berbicara tentang pertandingan, kemenangan, dan prestasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Soekarno Cup yang telah rutin digelar sejak 2023 di Jakarta, 2025 di Bali, 2026 di Jawa Timur, dan ke depan terus kami gelar, diikhtiarkan untuk mencari talenta muda akar rumput dari berbagai pelosok Tanah Air sekaligus membangun karakter generasi muda bahwa sepak bola harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan memberi manfaat bagi masyarakat," Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, dalam rilis yang diterima detikSport.
Pengumpulan dana solidaritas untuk NTT merupakan bentuk nyata dari semangat gotong royong. Nilainya tidak hanya diukur dari jumlah uang yang terkumpul, tetapi dari pesan bahwa perasaan senasib sepenanggungan harus terus tumbuh di kalangan generasi muda.
"Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami bencana, kita semua harus merasa terpanggil untuk membantu. Inilah makna gotong royong yang sesungguhnya. Bersama-sama meringankan beban saudara kita tanpa melihat perbedaan daerah dan latar belakang," sambungnya.
Juru Bicara Soekarno Cup dan legenda Timnas Indonesia, Anang Maruf, menilai perpaduan antara pembinaan sepakbola dan aksi kemanusiaan memberikan pesan penting bagi para pemain muda. Dia merasa 400 pemain dari 16 provinsi yang mengikuti Soekarno Cup tidak hanya membawa mimpi menjadi pesepakbola profesional.
"Anak-anak ini belajar bahwa menjadi pemain sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknik. Ada nilai tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian. Ketika mereka ikut bergotong royong membantu korban gempa di NTT, mereka sedang belajar menjadi manusia Indonesia yang sesungguhnya," kata Anang.
"Dari 16 provinsi mereka datang sebagai anak-anak daerah, tetapi di lapangan mereka menjadi satu sebagai anak Indonesia. Semangat yang sama kemudian kita bawa keluar lapangan melalui aksi kemanusiaan ini."
"Soekarno Cup pun menempatkan sepak bola sebagai ruang pembentukan karakter. Kompetisi menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar tentang sportivitas, disiplin, persatuan, sekaligus kepedulian sosial," pungkas Anang Maruf.
(ran/bay)