Padang (ANTARA) - Sumatera Barat (Sumbar) mewaspadai dampak dari asap kiriman dari yang masuk ke provinsi setempat dari provinsi tetangga, kata Gubernur Sumbar Mahyeldi di Padang, Jumat.
"Kabut asap ini harus diwaspadai untuk mengantisipasi dampak yang lebih serius terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat," kata Gubernur.
Ia mengatakan dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Padang yang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus.
Kondisi kualitas udara itu perlu menjadi perhatian bersama, dan masyarakat diimbau agar meningkatkan kewaspadaan dan membatasi aktivitas di luar ruangan di tengah kabut asap.
“Masyarakat kami imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, kalau memang harus beraktivitas di luar gunakan masker sebagai perlindungan," katanya.
Himbauan itu terutama ia tujukan kepada anak-anak, lanjut usia, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Mahyeldi juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, demi mencegah munculnya sumber asap baru di dalam provinsi yang dapat memperburuk kondisi kualitas udara.
Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar Kuartini Deti Putri menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB, tercatat sebanyak 19 titik hotspot di wilayah Sumbar.
Hotspot tersebut tersebar di Kabupaten Dharmasraya sebanyak lima titik, Lima Puluh Kota satu titik, Pasaman tiga titik, Pesisir Selatan lima titik, dan Sijunjung lima titik.
Selain hotspot yang terpantau di wilayah Sumbar, juga terdapat titik panas dalam jumlah cukup signifikan di sejumlah provinsi tetangga yang berpotensi menjadi sumber asap dan turut mempengaruhi kualitas udara di Sumbar.
Berdasarkan data SIPONGI yang dihimpun pada periode 1–3 September hingga pukul 14.00 WIB, tercatat 301 titik panas di Provinsi Jambi, 229 titik di Riau, 13 titik di Bengkulu, 46 titik di Sumatera Utara, serta 2.422 titik di Sumatera Selatan.
Keberadaan hotspot di wilayah sekitar tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai karena asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat terbawa oleh kondisi angin dan atmosfer menuju wilayah lain termasuk Sumatera Barat.
Namun pengaruhnya terhadap kualitas udara sangat bergantung pada dinamika cuaca, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer pada saat kejadian.
Sementara itu hasil pemantauan kualitas udara melalui Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Padang Pasir di kawasan Kantor Gubernur Sumbar menunjukkan kondisi udara dalam kategori sedang.
Pemerintah Sumbar berharap penanganan kebakaran hutan dan lahan terpadu yang tengah berlangsung di provinsi tetangga bisa memberikan hasil terbaik, sehingga api bisa dipadamkan.