Siswa SMAN 2 Bondowoso tawarkan solusi penanganan bencana terintegrasi - ANTARA News Jawa Timur

August 2026 · 5 minute read

Bondowoso (ANTARA) - Karya tulis mengenai penanganan bencana terintegrasi mengantarkan kelompok dari siswa SMA Negeri 2 Bondowoso, Jawa Timur, sebagai juara 1 lomba menulis esai tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Pertahanan (Unhan) Republik Indonesia di Bogor.

"Alhamdulillah, kami menjadi juara dalam lomba jenis problem solving ini. Kami menulis esai tentang penanganan bencana," kata Wijdan Shafly Maysa Putra.

Pada lomba bergengsi tersebut, ketiga siswa SMA Negeri 2 Bondowoso (Smada), Wijdan Shafly Maysa Putra, Gareno Danadyaksa, dan Mochammad Abdy Faiza Bahary, membawakan esai berjudul "BENCANAKU: Aplikasi Crowdsourcing Terintegrasi Algoritme Prioritas Berbasis AI dan Sistem Komando Terpadu untuk Optimalisasi Respons Cepat Bencana Alam".

Dalam lomba tersebut awalnya mereka hanya mengirim abstrak esai yang juga diadu dengan kelompok mahasiswa. Karya esai itu dinyatakan lolos, hingga diadu di babak semifinal dan juga dinyatakan lolos.

Untuk maju ke babak final, mereka diwajibkan mengumpulkan esai lengkap, namun hanya diadu dengan kelompok sesama siswa SMA. Di babak final, siswa Smada itu harus melakukan presentasi di depan dewan juri.

Pada karya esai tersebut, mereka menawarkan solusi inovatif berbasis aplikasi mobile yang mengintegrasikan pelaporan partisipatif masyarakat dengan sistem komando terpadu.

Secara umum, para siswa yang sudah sering mengikuti lomba menulis ini memandang sistem penanggulangan bencana di Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang serius dari segi koordinasi lintas lembaga yang terfragmentasi, keterlambatan aliran informasi dari lokasi terdampak ke pusat komando, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam pelaporan kondisi pascabencana, meskipun berbagai kebijakan strategis telah digagas pemerintah.

Aplikasi yang ditawarkan para siswa itu memungkinkan warga melaporkan kondisi pascabencana melalui fitur multimedia dan status darurat. Laporan tersebut kemudian diproses oleh algoritma prioritas berbasis artificial intelligence atau AI yang mempertimbangkan variabel tingkat keparahan.

Sistem itu, secara otomatis mengalokasikan sumber daya terdekat dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan PMI melalui dashboard terpadu. Integrasi sistem ini berpotensi mempercepat waktu respons hingga 40 persen, meningkatkan akurasi targeting bantuan, serta mengoptimalkan koordinasi lintas sektor.

Esai BENCANAKU ini menghadirkan paradigma baru manajemen bencana yang partisipatif, adaptif, dan berbasis data guna memperkuat ketangguhan nasional serta berkontribusi pada Sustainable Development Goals poin ke-11, ke-13, dan ke-17.

Menurut mereka, salah satu inovasi yang pernah dikembangkan untuk mendeteksi dini dan memitigasi dampak bencana alam di Indonesia adalah pemanfaatan aplikasi 5 pelaporan berbasis crowdsourcing serta sistem informasi kebencanaan terpadu untuk pemantauan serta koordinasi respons darurat jarak jauh.

Berbagai platform ini dikembangkan secara kolaboratif oleh pemerintah daerah dan komunitas, seperti PetaBencana.id yang memanfaatkan kekuatan crowdsourcing melalui media sosial untuk membantu respons kemanusiaan dan pemulihan bencana (Petabencana, 2026), serta TiTaTu dari Pemerintah Kabupaten Bandung yang memungkinkan masyarakat melaporkan kejadian bencana secara real-time dari lokasi terdampak.

Selain itu, BNPB juga telah meluncurkan aplikasi untuk pelaporan degradasi lingkungan guna memperkuat sistem informasi kebencanaan nasional. Hanya saja, pendekatan ini masih beroperasi dalam paradigma pelaporan yang bersifat parsial dan belum terintegrasi secara menyeluruh dengan sistem komando terpadu.

Karena itu, semua aplikasi tersebut belum menjawab tantangan multidimensi penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk koordinasi lintas lembaga yang terfragmentasi, keterbatasan akses masyarakat di daerah terpencil terhadap platform pelaporan digital yang terintegrasi, tingginya kompleksitas koordinasi antarpemangku kepentingan yang seringkali menyebabkan bantuan tidak mencapai masyarakat yang membutuhkan, serta belum terintegrasikannya algoritma prioritas berbasis kecerdasan buatan yang dapat menganalisis tingkat keparahan dan mengalokasikan sumber daya secara real-time.

Oleh karena itu, pendekatan baru yang lebih holistik dan berbasis sistem komando terpadu menjadi penting untuk menjawab tantangan tersebut. Integrasi pelaporan partisipatif, algoritma prioritas berbasis AI, serta dasbord pusat komando virtual dalam sistem BENCANAKU dapat menghadirkan beberapa keuntungan.

Pertama, deteksi dini dan verifikasi laporan bencana melalui pemantauan multimedia (foto, video, dan status darurat) serta filtrasi otomatis menggunakan Natural Language Processing dan Computer Vision, membantu pengambil keputusan dan tim respons mengetahui kondisi aktual di lapangan serta menentukan prioritas intervensi berbasis bukti ilmiah terukur.

Kedua, prioritasan dan alokasi sumber daya secara otomatis melalui algoritma yang mempertimbangkan variabel tingkat keparahan, kepadatan penduduk terdampak, keberadaan kelompok rentan, serta aksesibilitas lokasi, yang secara dinamis diperbarui ketika data baru masuk dari lapangan.

Ketiga, simulasi tekno-ekonomi potensi percepatan waktu respons dan optimalisasi distribusi bantuan beserta 6 proyeksi manfaat ekonomi bagi sistem penanggulangan bencana nasional melalui pengurangan korban jiwa dan penurunan kerugian ekonomi.

Meskipun demikian, integrasi crowdsourcing, AI, dan sistem komando terpadu bukanlah solusi tunggal.

Keberhasilan sistem seperti BENCANAKU tetap bergantung pada investasi pendidikan literasi kebencanaan dan literasi digital bagi masyarakat dan petugas di tingkat daerah, ketersediaan infrastruktur teknologi informasi yang menjamin aksesibilitas tanpa ketergantungan pada koneksi internet berat di wilayah 3T, serta komitmen pemerintah dalam memperkuat regulasi pemanfaatan teknologi kebencanaan berbasis kecerdasan buatan dan crowdsourcing melalui peraturan menteri dan penguatan kelembagaan yang ditargetkan dapat mengakomodasi inovasi-inovasi baru di bidang deteksi dini dan respons cepat bencana alam.

Dengan kombinasi antara akurasi ilmiah berbasis algoritma prioritas AI, efisiensi operasional melalui arsitektur sistem terintegrasi, dan keadilan akses terhadap pelaporan bencana yang partisipatif, BENCANAKU menawarkan paradigma baru penanggulangan bencana di Indonesia yang lebih adaptif, inklusif, dan mampu mentransformasikan krisis kebencanaan menjadi peluang peningkatan ketangguhan nasional dan kapasitas adaptasi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso Holifaf Nurazizah, MPd menyatakan bahwa prestasi anak-anak didiknya ini menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, kerja keras, dan konsistensi tidak pernah mengkhianati proses. Ia mengutip pepatah Arab, Man jadda wajada yang berarti "Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan menuai hasil" dapat menjadi pegangan anak-anak didiknya untuk terus tekun dan giat berusaha atau belajar.

Meskipun demikian, ia berharap kepada anak-anak didiknya itu tetap rendah hati dan terus mengasah kemampuannya untuk mengukir prestasi yang lebih tinggi. "Anak-anak ini bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi dan luas lagi, hingga kancah internasional," katanya.

Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.