Siapa pernah naik ke atas Gedung Sate? - ANTARA News Jawa Barat

August 2026 · 3 minute read
Tusuk Sate berjumlah enam. Menandakan biaya Gedung Sate sebesar Enam Juta Gulden

Bandung (ANTARA) - Orange: Tusuk Sate berjumlah enam. Menandakan biaya Gedung Sate sebesar Enam Juta Gulden (mata uang Belanda saat itu). 

Haryoto Kunto dalam Buku "Semerbak Bunga Di Bandung Raya" (1986), menyebutkan, sesungguhnya bukan "tusuk Gedung Sate" namun itu adalah Jambu. Karena di area pembangunan saat itu, banyak pohon Jambu. Selain itu, banyak juga penjual yang menjualnya. 

Waktu Saya Sekolah Dasar (SD) disebutnya "Hebe." Mungkin Ejaan dari GB (Gouvernements Bedrijven) alias Gedung Pemerintahan. Ya maklum "urang Sunda", kadang penyebutan lidah suka susah. Sejak lama memang, pelataran Gedung Sate, halamannya yang luas alias Gasibu, dijadikan pusat jogging, terutama pagi hari di weekend. 

Hijau: Tiga Umpak diambil dari kekuatan Kerajaan Islam, diadopsi dari Masjid Agung Demak. Menandakan 1. Iman, 2. Islam, dan 3. Ihsan.  Semua Masjid Agung, bahkan mesjid pada umumnya, dibangun dengan umpak tiga.

Di Jabar, yang masih asli dan alami peninggalan kedigdayaan Kerajaan Islam Demak, dilanjutkan oleh Kerajaaan Islam Mataram, seperti di Masjid Agung Sumedang atau Masjid Agung Sukapura (Manonjaya) Kabupaten Tasikmalaya. Termasuk, Masjid Agung Bandung, Garut dan Cianjur. Hanya tiga masjid disebutkan terakhir, sudah dipugar. 

Masjid yang disebut di atas terkadang biasa disebut "Bale Nyungcung". Bale itu tempat, nyungcung itu ke tas. Bahkan, "Masjid Pancasila", masjid yang dibangun Presiden Soeharto sebanyak 999 masjid melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, seluruh masjidnya berumpak tiga.  

Kuning: Jika kita masuk ke bagian atas Gedung Sate, persis di bawahnya, ada tempat luas diperuntukkan untuk menjamu tamu-tamu kenegaraan. Disajikan Teh, dengan melihat pemandangan sepenuhnya ke arah Gunung Tangkuban Parahu nan Hijau. 

Merah: Menandakan Piramida yang banyak ditemukan di Thailand. Pembuat Gedung Sate, J. Gerber lama tinggal di Thailand, sehingga salah satunya banyak dipengaruh keberagaman Budha-Hindu.  Bisa dibaca juga "Balai Agung Di Kota Bandung", Haryoto Kunto, 1996. 

Biru: Terinspirasi dari kompleks istana dan benteng megah peninggalan Dinasti Nasrid, Kerajaan Islam terakhir di Spanyol, tepatnya di Granada. Nama istananya, Al-Hambra, artinya Merah. Karena sekelilingnya berwarna merah. 

Abaikan ya, ada hotel di Singaparna-Kabupaten Tasikmalaya,  yang bernama Al-Hambra. Semua merah juga warnanya, adopsi dari sana. Tapi tak ada hubungannya dengan Gedung Sate.

Untuk jelasnya ada buku yang "Tales of the Alhambra", karya Washington Irving, 1832. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia tahun 2024, diterbitkan Gramedia. Saya baca terjemahannya ya!.

Putih: Tempat prasasti, bukti pembuatan Gedung Sate 1920-1924, tadinya ada di situ. Namun sekarang belum tahu dipindah kemana. Coba nanti mau dilacak ya, atau ada yang tahu.

Pembangunan Gedung Sate ini, dibangun dengan menggunakan bebatuan berasal dari Arcamanik. Arca itu Batu, Manik itu Karang. Batu dari Arcamanik adalah batu terbaik di zamannya.

Tak heran, kalau di Bandung Arcamanik itu bisa masuk dari Jalan Sindanglaya atau Jalan Pasir Impun ke atas, merupakan kaki Gunung Manglayang dan masuk Sesar (Patahan) Lembang. Di sana banyak ditemukan batuan, seperti Batu Templek atau Oray Tapa (batu berbentuk Ular). Sekarang jadi objek Wisata, masuk Wilayah Kabupaten Bandung. 

Tadi banyak tamu undangan yang menggunakan baju ada daerah. Saya mencari dari Minangkabau, bukan mau tanya Nasi Padang. Sayang tidak Saya temukan. Sekadar hanya ingin difoto dan berbagi saja.

Jika Gelar Pahlawan Nasional Pertama diberikan Negara kepada Abdul Muis oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959. Dan aslinya orang Minangkabau dan lama hidup di Bandung, sampai meninggal.

Tak heran, semua trayek angkot (dulu) di Bandung, pasti ada nama Abdul Muis. Trayeknya, Abdul Muis-Cicaheum, Abdul Muis-Cicaheum via Aceh, Abdul Muis-Dago, Abdul Muis Ledeng, dan banyak lagi. Silahkan sebut ada yg masih ingat.

Welll... Sambil dengar pidato Kemerdekaan Gubernur, yang menyinggung juga para kuli bangunan, pahlawan yang pernah terlibat membuat Gedung Sate. 

Wilujeung Merdeka...!!! 

Depan Gedung Sate (+Candi Bentar New), 17 Agustus 2026


Zaini Shofari (Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar)

Pewarta: Zaini Shofari (*)
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.