Serangan Drone ke Pelabuhan Mesir Jadi Peringatan Iran

July 2026 · 2 minute read

Bagikan:

JAKARTA - Serangan pesawat nirawak (drone) yang menyasar pelabuhan Damietta, Mesir pada Rabu dianggap bisa jadi merupakan peringatan dari Iran konflik mereka dengan Amerika Serikat dapat meluas jauh melampaui wilayah pertempuran saat ini.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, dan tidak ada laporan mengenai korban luka maupun jiwa.

H.A. Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI) menyebut ada kemungkinan serangan itu dilakukan oleh salah satu milisi proksi Teheran, bukan oleh Iran secara langsung.

"Hal ini bisa menjadi upaya Iran untuk mengirimkan pesan mereka memiliki kemampuan untuk menjangkau jauh melampaui perbatasan mereka sendiri," katanya kepada CNN, Kamis, 30 Juli.

Menurutnya, Teheran kemungkinan ingin menunjukkan kemampuannya dalam memanfaatkan "sekutu lain dalam poros perlawanan" untuk memperluas konflik.

Serangan itu terjadi saat berlangsungnya kegiatan bongkar muat kargo di sebuah terminal gas alam cair (LNG).

Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, menyatakan penilaian awal mengindikasikan adanya serangan terhadap fasilitas penyimpanan LNG terapung—yang dimiliki dan dioperasikan oleh pihak AS serta berbendera Kepulauan Marshall.

Sejumlah sumber industri mengidentifikasi kapal tersebut sebagai Energos Winter dan menyebutkan dugaan serangan drone memicu kebakaran yang kemudian merembet ke kapal kedua.

Ini adalah kali pertama Kairo terseret secara langsung ke dalam konflik regional yang sedang berlangsung, meskipun sebelumnya Mesir berperan sebagai salah satu saluran diplomatik bagi pihak-pihak yang bertikai dalam upaya mediasi awal tahun ini.

Selama perang berlangsung, Mesir telah mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Teluk sekaligus secara terbuka mendesak Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang.

BACA JUGA:


Namun, Mesir tidak memihak kubu mana pun, catat Hellyer. Jika seperti ini cara Iran merespons, tambahnya, "hal itu tidaklah menguntungkan dalam upaya menjaga agar Mesir tidak berbalik memusuhi mereka."

Meski demikian, kecil kemungkinannya Kairo akan melakukan serangan balasan. "Mesir sangat berhati-hati dalam melakukan tindakan ofensif,” kata Hellyerr.

Hubungan antara Iran dan Mesir sempat terputus setelah revolusi Iran tahun 1979, yang menandai awal dari salah satu kerenggangan diplomatik terlama antara Teheran dan sebuah negara Arab.

Namun, komunikasi antara menteri luar negeri kedua negara sempat meningkat intensitasnya selama masa konflik AS-Israel melawan Iran.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+