Bagikan:
TANGERANG — Bagi sebagian anak, bangku sekolah mungkin hanyalah rutinitas harian yang biasa. Namun, bagi puluhan ribu anak yang pernah terpaksa angkat kaki dari ruang kelas—atau bahkan belum pernah menginjakkan kaki di dalamnya—sebuah meja belajar adalah kemewahan yang sempat tak terjangkau.
Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti kawasan Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Minggu sore. Di tengah gelak tawa dan riuh peserta Persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 8, harapan-harapan yang sempat redup itu mulai dinyalakan kembali.
Di hadapan anak-anak yang membawa beragam latar belakang kisah perjuangan hidup, Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya menyapa mereka satu per satu. Ia mendengarkan tuturan jujur dari bibir mungil anak-anak yang sebelumnya terpinggirkan oleh keadaan.
"Sekolah Rakyat adalah cara Bapak Presiden agar seluruh anak-anak di Indonesia dapat bersekolah. Yang tidak bersekolah bisa bersekolah, yang putus sekolah bisa melanjutkan sekolah, yang tidak pernah sekolah sama sekali bisa sekolah," ujar Letkol Teddy, menatap hangat deretan wajah muda yang kini kembali mengenakan seragam.
Bagi Teddy, mengembalikan anak-anak ini ke ruang kelas bukan sekadar memberi mereka buku, pensil, dan tempat duduk. Ini adalah upaya memulihkan martabat dan memberikan mereka keberanian untuk kembali memeluk mimpi yang sempat terkubur.
“Agar yang dulunya belum punya mimpi, hingga dia nanti akhirnya bisa bermimpi dan bercita-cita besar,” tambahnya.
BACA JUGA:
Rumah Baru untuk Mengubah Takdir
Hadir mendampingi di lokasi, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyaksikan langsung tawa anak-anak yang kini siap memulai babak baru dalam hidup mereka.
Gus Ipul mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat lahir sebagai bentuk keberpihakan nyata dari gagasan Presiden Prabowo Subianto bagi keluarga terpinggirkan yang selama ini kerap terluput dari pemerataan pembangunan.
Agar anak-anak ini dapat fokus merajut cita-cita tanpa perlu mengkhawatirkan beban biaya harian atau keterbatasan ekonomi keluarga, Sekolah Rakyat dirancang dengan konsep berasrama. Di sini, seluruh kebutuhan hidup dan belajar anak dipenuhi secara penuh oleh negara.
Bagi Gus Ipul, tak ada anak yang pantas merasa kalah hanya karena keadaan lahirnya. Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan pemutus rantai masa depan.
“Setiap siswa berharga,” ucap Gus Ipul menegaskan.
Menjangkau Puluhan Ribu Mimpi
Kini, tak kurang dari 43 ribu anak di berbagai penjuru negeri telah tersentuh oleh program Sekolah Rakyat. Puluhan ribu anak yang tadinya mengira masa depan mereka telah tertutup, kini memiliki panggung yang sama untuk berdiri tegak dan bercita-cita menjadi apa saja yang mereka inginkan—entah menjadi tentara, menteri, dokter, atau pilot penerbangan.
Hari itu di Curug, di antara barisan anak-anak yang tersenyum malu-malu namun bertatap mata cerah, sebuah garis takdir baru sedang dituliskan. Mereka tidak lagi sekadar menjadi saksi pembangunan, melainkan menjadi pemilik masa depan Indonesia selanjutnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+