Jakarta (ANTARA) - Founder Atelier of Minds Chatrine Siswoyo menilai bahwa sekolah perlu mempersiapkan guru dan sistem pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan anak neurodivergen agar mereka dapat belajar dan berkembang sesuai potensinya.
"Guru-guru itu sangat penting sekali karena mereka, selain orang tua, yang membersamai anak-anak kita," kata Chatrine dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Chatrine mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan sekolah adalah memahami bahwa anak neurodivergen memiliki cara kerja otak yang berbeda sehingga pendekatan pembelajarannya tidak dapat disamakan dengan anak neurotipikal.
Pemahaman tersebut perlu dibarengi dengan pelatihan bagi guru dan pendidik agar memiliki kemampuan dalam menghadapi anak dengan kebutuhan yang berbeda.
Chatrine mencontohkan seorang anak berusia sembilan tahun dengan autism spectrum disorder (ASD) yang belum pernah bersekolah karena kesulitan mendapatkan sekolah yang sesuai di Jakarta.
Anak tersebut mengalami kesulitan ketika diminta belajar atau berbicara. Namun, ketika mengikuti kegiatan robotik di Atelier of Minds, termasuk belajar coding dan membuat proyek robot, anak tersebut dapat menangkap pembelajaran dengan cepat.
Baca juga: Orang tua anak neurodivergen diminta cermat pilah informasi di medsos
Menurut Chatrine, anak tersebut dapat mengikuti pembelajaran ketika instruksi diberikan secara bertahap atau step by step.
"Jadi bukan tidak mampu, kadang memang caranya itu harus berbeda," ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan inklusif bukan berarti menurunkan standar bagi anak neurodivergen, melainkan memberikan bantuan yang diperlukan agar anak dapat mencapai standar yang berlaku di masyarakat, meskipun membutuhkan waktu yang berbeda.
"Yang penting adalah bagaimana kita memberikan bantuan supaya anak itu bisa mencapai milestone sesuai dengan anak-anak pada umumnya," katanya.
Lead Psychologist Atelier of Minds Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog menambahkan bahwa orang tua perlu lebih selektif dalam memilih sekolah bagi anak neurodivergen.
Menurut dia, banyak sekolah menggunakan label sekolah inklusi sehingga orang tua perlu melihat apakah sistem tersebut benar-benar diterapkan.
Salah satu indikatornya dapat dilihat dari kondisi anak setelah mengikuti kegiatan di sekolah. Orang tua dapat memperhatikan apakah anak merasa bahagia ketika bersekolah atau justru menunjukkan penolakan, pulang dalam kondisi suasana hati yang tidak baik, atau menjadi lebih pendiam.
Selain itu, kesiapan sekolah juga perlu dilihat dari kemampuannya memenuhi kebutuhan anak secara detail, termasuk memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan aktivitas yang membantu mengatur atau melepaskan energinya.
Erna mencontohkan penerapan yang dilakukan di Atelier of Minds dengan memberikan waktu bagi anak untuk melakukan re-time ketika mulai terlihat membutuhkan jeda. Anak dapat menggunakan timer sehingga mengetahui kapan waktu untuk beristirahat dan kapan harus kembali mengikuti kegiatan.
Baca juga: 76 persen orang tua anak neurodivergen menyadari anak mereka berbeda
Pola pembelajaran juga perlu diperhatikan. Sekolah tidak hanya memberikan informasi secara satu arah, tetapi juga melibatkan anak dalam proses berpikir, misalnya melalui proyek dan pemberian kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
"Jadi enggak cuma anak menerima informasi doang, tapi anak juga dibenarkan," katanya.
Erna juga menilai komunikasi antara sekolah dan orang tua penting dalam mendukung kebutuhan anak. Sekolah dapat memberikan umpan balik mengenai kegiatan dan kondisi anak selama berada di sekolah sehingga orang tua dapat memperoleh informasi yang bisa diterapkan di rumah.
Founder Komunitas Berspektrum Nadira Saraswati menambahkan, persoalan lain yang dihadapi orang tua adalah masih adanya anak neurodivergen yang dikeluarkan dari sekolah setelah baru beberapa hari mengikuti kegiatan belajar.
Ia mengatakan hal tersebut antara lain diketahui dari cerita para orang tua yang dibagikan setelah anak mereka mulai bersekolah. Anak yang sebelumnya sudah diketahui memiliki kondisi seperti ADHD atau ASD ternyata mengalami kesulitan ketika berada di sekolah umum.
Nadira menilai informasi mengenai sekolah yang dapat menerima dan mendampingi anak neurodivergen perlu dihimpun dengan lebih baik. Selama ini, menurut dia, orang tua banyak mendapatkan informasi melalui cerita dan saling berbagi pengalaman mengenai sekolah.
Baca juga: Bermain gawai bukan penyebab anak alami ADHD dan autisme
Baca juga: Kenali ADHD pada anak dan ketahui terapinya
Baca juga: Dokter: Pahami ciri-ciri anak berkebutuhan khusus sejak dini
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.