
- Penulis, Tim investigasi BBC Eye
Telah diterbitkan sejam yang lalu
Waktu membaca: 11 menit
Mereka adalah para santri muda yang haus ilmu dan pengalaman, serta sangat menghormati dan menaati guru mereka. Namun ketika dugaan pelecehan seksual muncul di pesantren mereka sendiri, mereka mulai mengumpulkan bukti. Di tengah intimidasi, ancaman kehilangan berkah, dan berbagai upaya untuk membungkam mereka, perjuangan mencari keadilan pun dimulai.
Peringatan: Artikel ini memuat rincian kekerasan seksual yang dapat mengganggu kenyamanan Anda.
"Tutup aib gurunya nanda. Tutup aib gurunya nanda….Walau salah tak apa. Yang penting guru nanda selamat."
Suara itu terdengar lirih. Sesekali terputus oleh isak tangis.
Di ujung telepon lain, Moch Yusron Azzahidi hanya terdiam. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Dia membiarkan laki-laki di seberang sana berbicara, sambil diam-diam menekan tombol rekam di telepon selulernya.
Laki-laki yang memohon itu adalah sosok yang ia "hormati" dan dipanggil dengan sebutan "abah" alias bapak.
Ahmad Imanuddin Sumar, yang dipanggil santri dengan sebutan 'abah' atau bapak adalah figur yang selama bertahun-tahun sangat dihormati Yusron selama ia mondok selama hampir tiga tahun.
Dia adalah pendiri pondok pesantren di Lombok Tengah. Belakangan abah menemukan bahwa Yusron dan teman-temannya mengumpulkan kesaksian beberapa santri yang mengklaim dirinya melecehkan mereka.

Kekerasan seksual di pesantren-pesantren digambarkan telah mencapai kondisi darurat oleh Komisi Nasional Perempuan. Namun para pakar hukum mengatakan banyak pelaku yang tidak dapat diminta pertanggungjawaban karena para korban diintimidasi untuk menarik tuduhan mereka atau dibungkam.
Dan abah, menelpon Yusron, menyampaikan permintaan itu.
"Akan dihancurkan pondok ini, nak. abah akan masuk penjara karena tulisan nanda. Sudah dari dulu abah bertobat. Salat tasbih. Dosa abah sudah diampuni..."
Yusron mendengarkan tanpa memotong.
Dia mengatakan "sempat merasa iba karena tidak pernah mendengar abah menangis." Ketika gurunya berhenti berbicara, Yusron pelan bertanya,
"Apakah kejadian itu benar atau tidak abah?" Yusron tak mendapat jawaban jelas.
Jawaban berikutnya justru membuat dilema itu semakin berat.
"Bilang itu tulisan dari anak-anak yang dipecat,.."
Satu hal yang tidak disadari Imanuddin adalah Yusron merekam setiap perkataannya. Kontak telepon ini terjadi pada Juni 2023.
Kurang dari dua bulan sebelumnya, Yusron bersama sejumlah mantan santri menyusun sebuah dokumen tujuh halaman, berisi nama, kronologi singkat dan kesaksian lima santriwati yang menuduh guru mereka melakukan pelecehan seksual.
'Siap abah biayai ke Mesir'
Di benaknya muncul wajah teman-teman perempuan yang menceritakan pengalaman mereka.
Sementara di telinganya terdengar suara sang guru yang memohon agar pesantrennya diselamatkan.
Tak lama kemudian, muncul pula tawaran dari abah.
Jika Yusron bersedia menarik dokumen itu, "Demi Allah, abah bantu nanda sekolah di Mesir."
Bagi banyak santri, kesempatan belajar di Mesir adalah impian besar.
Namun bagi Yusron, ini dilema.
Apa yang harus dilakukan seorang santri ketika orang yang ia hormati dituduh menyakiti murid-muridnya sendiri?



Sebelum menyusun dokumen itu, Yusron sudah lebih dulu meminta nasihat kepada seorang tuan guru lain.
Dia menelepon sebuah program tanya jawab di Radio Hamzanwadi menggunakan nama samaran dan mengaku berasal dari kota lain.
Pertanyaannya ,"Apa yang harus dilakukan seorang santri jika mengetahui temannya menjadi korban pelecehan seksual?"
Sang tuan guru langsung menjawab singkat, "bertindak, laporkan."
'Setelah ini kita tobat bareng'
Yusron mulai menyelidiki abah setahun sebelumnya, terpicu cerita adik kelas di pondoknya, Ziadatur Rahmah. Mereka adalah santri bintang.
Yusron melanjutkan studi di pondok pesantren di luar Jakarta, sementara Zia di Kairo, Mesir.
Satu malam Zia bercerita kepada Yusron bahwa abah melakukan pelecehan seksual pada tahun terakhirnya di pondok.
Saat itu, Zia izin ke toilet. Ketika akan kembali ke kelas, abah memanggilnya dengan alasan akan menyampaikan sesuatu dan meminta Zia ke rumahnya. Begitu di rumah, abah mengatakan ia mencintainya. Itulah awal cerita Zia.
Zia menceritakan kepada BBC lebih rinci apa yang dilakukan abah.
"Pipi aku dicium, mulut aku, aku giniin, aku enggak mau dicium…Tapi beliau tuh cium semuanya," kata Zia mengatupkan bibirnya, menunjukkan upayanya menolak dicium.
"Badan aku diraba, semuanya, diraba, tapi aku giniin karena aku enggak mau," tambahnya sambil menyekap dadanya.
"Beliau bilang: 'Nanda, kalau sayang sama abah, lakukan apa yang abah lakukan ke nanda'…Dia bisikin aku: 'Nanti setelah melakukan ini kita bertobat bareng, kalau udah kelar enggak ada masalah lagi'"
Saat itu, kata Zia, salah seorang anak abah mengetuk pintu yang terkunci dan abah panik. Abah meminta Zia untuk keluar lewat pintu belakang.
"Saya merasa dunia kaya berhenti, hidup saya hancur banget, terus kaya jadi kotor banget."
"Orang yang saya percaya, saya cuma bilang, ya Allah."
Mendengar cerita Zia, Yusron tak yakin, apa yang harus ia lakukan.
Mereka mengingat moto yang selalu mereka pegang, 'Sami'na wa ata'na, kami dengar dan kami taat'.

Sumber gambar, Yusron Azzahidi
Namun, cerita Zia, tak bisa hilang dari pikirannya.
Dia lantas mengusulkan membentuk grup WhatsApp bersama mantan santri lainnya, Wanda Hamidah dan Mahima Eka Supianingsih.
Lalu mereka mulai mengontak rekan-rekan santri lain, dan sejumlah kesaksian muncul.
'Wajah abah berkeringat'
Salah satu yang paling mereka ingat adalah cerita dari teman Wanda. Temannya ini mengingat ada santriwati menangis pada malam hari di kamar mandi pesantren.
Abah sempat mencari santriwati itu, dan "wajahnya merah dan berkeringat seperti tengah mengejar sesuatu," demikian cerita Wanda yang malam itu tertidur di musala dan dibangunkan abah.
Santriwati itu adalah Sukmawati Rohana Fajar. Saat itu, dia masih tinggal di pondok. Dia menuturkan kepada BBC apa yang ia alami.
Saat ia berusia 17 tahun. Pada malam tahun baru, abah memintanya untuk datang ke rumahnya, menjanjikan "amalan khusus".
"Abah terus bicara dan mengatakan kalau lihat Sukma, ia enggak tahan," ceritanya.
"Abah berdiri dan dia bilang: 'Lihat Sukma, aku buka celana'…Aku enggak lihat…Tapi dia percobaan perkosaan," kata Sukma lagi. Air matanya berlinang.
Sukma mengatakan pada satu momen ia menendang abah di perutnya, dan abah jatuh ke pinggir. Kesempatannya untuk lari.
"Untungnya aku dapat kunci yang disembunyikan," katanya.
Saat ia lari, ia melihat ke belakang dan melihat abah mencoba mengejarnya, dengan senter.

Kesaksian Sukma dan penuturan santriwati-santriwati lainnya dikumpulkan Yusron dalam satu catatan khusus di buku berwarna hitamnya.
Dia mengetik dokumen tujuh halaman berisi kesaksian pelecehan yang dialami Sukma, Zia, dan tiga mantan santri lain.
'Janji NWDI'
Di Kairo, Wanda mengatur pertemuan dengan perwakilan dari Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI)—organisasi yang menaungi ratusan pondok pesantren— dan juga membantu banyak santri melanjutkan studi ke Mesir.
Pertemuan berjalan lancar—kata para mantan santri itu—dan perwakilan NWDI berjanji akan membantu mereka membawa kasus ini ke polisi.
"Kita dikasih tahu pilihan, mau dikasih saksi abahnya, terus damai atau mau dipenjarain aja gitu karena korbannya bukan satu dua. NWDI bakal sediain kayak pendamping lah, gini-gini segala macem dari segi hukum, dari segi buat korban. Pokoknya banyak lah dijanjiin sama mereka," papar Zia.
Namun tiga minggu kemudian, Yusron menerima pesan WhatsApp dari kakaknya yang memintanya untuk mencari tempat aman.
Di ujung telepon, ternyata abah yang berbicara. Dia tengah berada di rumah orang tua Yusron.
Jelas bahwa NWDI menyerahkan dokumen yang disusun Yusron kepada abah.
"'Kalau sudah sampai ke media begini kan hancur sudah abah nak, hancur lebur abah, hancur pondok rusak, NWDI nanda. Bukan begitu caranya. Sayang ke abah nak," kata abah seperti terdengar dari rekaman itu.
Dia juga meminta Yusron untuk berbohong dan menyusun serangkaian alur cerita untuk menarik dokumennya itu.

Sumber gambar, Abu Barokat Facebook
Abah kemudian menelpon Zia di Kairo dan melakukan tekanan yang sama. Seperti Yusron, Zia merekam percakapannya.
Dalam rekaman percakapan itu, abah mengakui melecehkan Zia tapi memintanya untuk tidak menganggapnya sebagai pelecehan.
"Iya dicium anggap aja antara bapak dengan anak nanda. Anggap aja antara bapak dengan anak supaya nanda enggak bohong," kata abah.
Zia langsung menanggapinya dengan mengatakan," Itu sudah masuk kebohongan itu abah, soalnya niat awalnya berbeda."
"Ya Allah malu TGB (Muhammad Zainul Majdi) nanti nanda," kata abah, terus menekan Zia.
Namun mantan santri berusia 22 tahun ini langsung membalas, "Sekiranya abah tahu TGB bakalan malu, pasti berpikiran seribu kali untuk melakukan hal itu."
"Iya, maka itu khilaf nanda, abah tobat nanda," kata Imanuddin lagi.
Zia langsung menjawab, "Itu sudah beberapa kali, jadinya kalau sekedar khilaf, mungkin satu kali bisa dimaafkan tapi kalau sudah sampai segitunya."
Tekanan itu bahkan sampai pada orang tua Yusron yang diterbangkan abah ke Jakarta untuk mencarinya.
Mereka tidak berhasil menemukan Yusron—yang bersembunyi di penginapan.
Tapi tekanan tersebut terlalu berat bagi ibu Yusron yang memintanya untuk memilih "antara membantu teman atau ibu meninggal."
Dengan berat hati, Yusron akhirnya menghentikan penyelidikannya pada pertengahan 2023 lalu.
Sementara itu, pada periode yang sama, Sukma mengatakan ia dipanggil ke rumah abah. Di sana sudah menunggu dua polisi dan seorang pengacara NWDI.
Mereka memaksanya menandatangani dokumen yang menyebutkan hubungan dengan abah sebatas antara guru dan murid.
Umi: 'Yang terjadi itu adalah dari Allah'
Lebih dari tiga tahun setelah tekanan itu, Sukma—dengan bantuan BBC Eye— mencoba mencari dan bertanya ke abah dengan kamera tersembunyi.
Sukma ingin tahu mengapa ia diminta tanda tangan surat pernyataan, yang menurut dirinya, "tidak sesuai dengan yang terjadi."
Ketika mendekati pintu gerbang halaman rumah, tiba-tiba pintu terbuka dan abah muncul.
"Saya ingin bicara dengan abah", kata Sukma. Namun abah langsung pergi.
Istrinya, Hurmiati, yang biasa dipanggil para santri "umi", menjumpainya.
Menjawab pertanyaan Sukma, umi mengatakan arti tanda tangan adalah "sudah tidak ada masalah lagi, antara nanda, aman sudah tidak ada masalah. Pihak di sini juga aman tidak ada masalah, hanya itu."
"Nanda sudah berjanji, sudah di depan pengacara, bahwa 'saya maafkan yang ini, saya maafkan yang di sana, apapun kejadian yang sudah terjadi itu sudah saya maafkan'. Kan itu isinya tanda tangan itu," tambah Umi.
"Dan masak nanda akan berat-beratkan juga toh juga apa namanya, nama baik nanda akan rusak begitu?"
Sukma masih mengejar dan mengatakan, "kenapa rusak nama Sukma? Kan Sukma jadi korbannya, umi."
"Makanya supaya aman Nanda. Mau enggak sampai tua enggak akan laku?" kata Umi lagi.
Sukma masih terus mengejar, "kenapa umi urus nama baik doang?"
"Itu sebabnya saya enggak mau bicara, karena sudah ada perjanjian. Stop, saya tidak mau bicara lagi," kata umi sambil terus mencoba membungkam Sukma.
"Kehendak itu adalah dari Allah. Yang terjadi itu adalah dari Allah dan kita terima dengan…," kata umi sebelum Sukma memotong dengan mengatakan, "Korbannya itu dari Allah juga? Abah lakuin hal-hal tak pantas dari Allah?"
"Jangan berbicara sekarang, jangan berbicara sekarang, di perjanjian itu nanda enggak bilang apa-apa," tutup umi sambil berjalan masuk ke pintu beranda rumahnya.
Sukma masih berusaha menjawab, "Saya terpaksa umi," dan umi hanya bergumam, "Nah itu sebabnya. Terpaksa itulah."
Pengacara yang disebut Hurmiati dan Sukma tadi juga terekam dalam kamera tersembunyi.
Husnan Wadi—pengacara Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah—terekam mengatakan mengakui bahwa dirinya hadir ketika Sukma diminta menandatangani pernyataan pada Juni 2023.
"Tanda tangan itu buat apa namanya pernyataan untuk berubah saja," kata Husnan.
Dia menambahkan bahwa "pas kejadian, (abah) dilarang ketemu santriwati sama TGB," mengacu pada Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, Ketua Umum NWDI.
Kami menghubungi abah, umi dan NWDI terkait tuduhan terhadap mereka. Abah dan umi tidak memberikan tanggapan.
Sementara NWDI mengatakan masih melakukan pendalaman dan penelaahan secara internal serta membantah pernah berupaya menutupi dugaan pelecehan seksual.
NWDI mengatakan pihaknya "berkewajiban menjaga kehormatan dan nama baik pondok pesantren serta lembaga pendidikan agar tidak dirusak oleh perbuatan oknum-oknum tersebut".
Di tengah upaya penyelidikan yang dilakukan sejak 2023, Yusron dan Zia perlahan semakin dekat. Persahabatan mereka berkembang menjadi hubungan jarak jauh, dan mereka rutin berbicara melalui telepon.
"Dan saya bisa melihat dia benar-benar kesulitan… Dia sering bilang, 'Kenapa saya terus memikirkan apa yang [abah] lakukan?'"
Yusron berada dalam dilema antara membantu perempuan yang mulai dicintainya dan menepati janji yang telah ia buat kepada ibunya.
Santri detektif kembali bergerak
Delapan bulan kemudian, Yusron mendengar tentang sebuah kelompok yang dibentuk untuk meningkatkan kesadaran mengenai kekerasan seksual di pesantren.
Kelompok itu didirikan oleh seorang mantan santri bernama Ayu Masruroh, yang sebelumnya membantu teman-temannya mendapatkan keadilan setelah mengalami kekerasan seksual di pesantren lain oleh seorang anak kyai di Jombang bernama Moch Subchi Azal Tsani alias Bechi.
Baca juga:
- Kasus pemerkosaan santriwati: Bechi anak Kiai Jombang divonis tujuh tahun penjara
Ayu aktif menggunakan media sosial untuk mendorong para korban agar berani bersuara.
Hal itu menginspirasi Zia untuk membuat unggahan di Instagram, meminta siapa pun di kalangan santri Indonesia yang pernah mengalami kekerasan untuk menghubunginya.
Dari unggahan ini, Zia dapat kabar dari seorang santri yang masih berada di pesantren, bahwa abah "melecehkannya", bertentangan dengan ucapan abah yang menyebutkan dia "sudah tobat".
'Saya ingin keadilan'
Dugaan pelecehan itu terjadi hampir setahun setelah abah berjanji tidak mengulangi perbuatannya.
"Itu membuat saya sadar bahwa [abah] sebenarnya sama sekali tidak berubah… semua yang dia katakan tentang akan berhenti… semuanya hanya bohong," kata Zia.
Dia langsung mengontak Yusron.
Namun kali ini, mereka memutuskan untuk menempuh cara yang berbeda. Mereka menghubungi Ayu, dan sarannya tegas: cari pengacara.
Ayu memperkenalkan mereka kepada seorang pengacara yang berpengalaman mendampingi penyintas kekerasan seksual, Joko Jumadi.
Mereka memutuskan untuk mengangkat kasus Sukma karena dianggap paling kuat.
Dengan didampingi oleh Joko Jumadi, Sukma melaporkan kasusnya ke Polres Lombok Tengah pada Februari 2025. Namun saat ini, masih belum ada tindak lanjut dari polisi.
Dan abah serta kegiatan pesantren masih berlanjut seperti biasa.
"Saya tidak ingin apa yang terjadi pada saya terjadi pada santri lain. Saya ingin keadilan," kata Sukma kepada BBC.
Sementara Yusron dan Zia semakin dekat. Setelah tiga tahun saling berkirim pesan dan berbicara secara online, Yusron juga memutuskan meneruskan studi di Kairo, dan bertemu Zia secara langsung.

"Akhirnya dengan kondisi yang udah cukup lelah juga di Jakarta, cukup intens juga karena yang urus kasus juga itu.. Jadinya di saat nyampe ke Kairo, kayak sedikit ada obat lah."
Zia mengatakan ia "senang banget" melihat usaha Yusron menemuinya.
"Dia ada perjuangannya. Jadi aku yakin orang ini tuh benar-benar, gitu, karena dia sampai rela ke Mesir demi aku," kata Zia.
Kepercayaan di antara mereka, sebagian, tumbuh dari perjuangan bersama untuk mencari keadilan. September ini mereka melakukan selamatan pernikahan mereka di Kairo.
Namun di Lombok, kata Yusron, "pergerakan membantu teman-teman santri di lapangan, dibantu" oleh rekannya, Syaidina Ali.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Abdul Latief Apriaman
Joko Jumadi, yang juga Ketua Laboratorium Hukum FHISIP, Universitas Mataram, mengatakan ia terkesan dengan keberanian dan kegigihan para santri tersebut.
Menurut Joko, rekaman-rekaman yang mereka kumpulkan secara diam-diam menangkap secara langsung tekanan yang mereka alami untuk tetap bungkam, sehingga memiliki nilai pembuktian yang sangat penting.
"Beberapa korban disebutkan — dan diakui oleh orang yang bersangkutan sendiri. Ini merupakan bukti-bukti penting," kata Joko kepada BBC.
Joko dan timnya telah menangani 23 kasus kekerasan seksual yang di berbagai pesantren di Provinsi Nusa Tenggara Barat selama tiga tahun terakhir. Ia meyakini kasus-kasus yang terungkap ini "hanyalah puncak gunung es".