Samuel Wattimena: Desain batik bisa menyesuaikan selera anak muda

September 2026 · 2 minute read

Samuel Wattimena: Desain batik bisa menyesuaikan selera anak muda

Minggu, 27 September 2026 06:07 WIB

Image Print

Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Kota Semarang yang digelar Kementerian Perindustrian, di Semarang, Sabtu (26/9/2026). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Semarang (ANTARA) - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Samuel Wattimena menyampaikan perlunya desain batik bisa terus berinovasi disesuaikan dengan selera anak muda.

"Motif-motif batik selama ini kan klasik ya. Nah, kalau kita ketemu anak-anak muda, mereka kemudian merasa kalau pakai batik kok kayak orang tua. Kira-kira salah enggak pendapat mereka?" katanya, di Semarang, Sabtu.

Hal tersebut disampaikannya saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Kota Semarang yang digelar Kementerian Perindustrian.

Menurut dia, anggapan anak muda seperti itu tidak salah karena mereka sudah melihat motif itu di batik dipakai ayahnya, pamannya, hingga gurunya yang merupakan orang tua.

"Apakah motif tua tidak baik? Tidak. Motif tua baik, motif klasik bagus. Tapi, kita menyadari saat ini pertumbuhan generasi muda itu besar sekali volumenya," katanya.

Jika generasi muda yang saat ini menjadi pasar potensial tidak menyukai batik karena desainnya yang itu-itu saja, kata dia, berarti para pengrajin batik bisa mencoba desain atau motif yang lebih modern.

Ia mengamati selama ini produk UMKM, termasuk batik seringkali terjebak pada persaingan harga untuk menjual produknya, justru bukan pada persaingan kreativitas.

"Kalau kita enggak memberikan gagasan baru, akhirnya persaingan kita bukan pada kreativitas tapi persaingan kita pada harga. Siapa yang ngasih harga batik lebih murah? Akhirnya terjebak di situ," katanya.

Ia mengusulkan agar batik mengaplikasikan desain, motif, atau gambar yang selama ini disablon pada kaos-kaos yang selama ini banyak dipakai anak-anak muda.

"Umumnya motif-motif sablon itu lebih muda kan. Saya bilang tadi, coba dong motif sablonnya kita batik. Jadi, batik menggunakan motif-motif yang diterapkan di sablon," katanya.

Pemilik Batik "Chilomita" Sri Suharti mengatakan bahwa pengaplikasian motif sablon untuk batik tidak masalah untuk mendekatkan ke pangsa pasar anak muda.

"Motif sablon diolah menjadi desain motif untuk batik, kalau menurut saya enggak masalah ya," kata Cici, sapaan akrabnya yang juga menjadi pelatih membatik pada bimtek tersebut.

Ia berharap pelatihan tersebut bisa berlangsung secara intens agar UMKM di Kota Semarang terus berdaya dan berdampak untuk kehidupan perekonomian keluarga, terutama kepada perempuan.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.