Program revitalisasi sekolah tahap II di Temanggung Rp12,8 miliar
Kamis, 10 September 2026 16:30 WIB
Anggota DPRD Kabupaten Temanggung Sujarwo menunjukkan plafon di SDN Jombor, Kecamatan Jumo yang rusak. ANTARA/Heru Suyitno
Temanggung (ANTARA) - Program revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tahap kedua dengan alokasi anggaran Rp12,8 miliar untuk sembilan sekolah, setelah tahap pertama dengan dana sekitar Rp9,8 miliar untuk 14 sekolah.
Anggota DPRD Kabupaten Temanggung Sujarwo di Temanggung, Kamis, menyampaikan salah satu sekolah yang mendapat program tersebut, SDN Jombor, Kecamatan Jumo dengan nilai revitalisasi sekitar Rp1,5 miliar.
Program revitalisasi ini bagian dari upaya percepatan perbaikan sarana dan prasarana sekolah, khususnya bangunan yang dinilai sudah mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan.
"Ini ceritanya percepatan. Kita mengusulkan tahun ini, tahun ini juga harus direvitalisasi. Untuk sekolah negeri maupun swasta," katanya saat mengunjungi SDN Jombor, Kecamatan Jumo yang akan direvitalisasi.
Pada tahap kedua, sekolah yang masuk dalam program revitalisasi meliputi SMP Al Iman, SDN Wali Telon Utara, SDN Jombor, SDN 2 Kundisari, SDN 2 Muneng, TK Asli Peni Gondosuli, SDN 2 Karangwuni Pringsurat, SDN 2 Tegalrejo, dan SDN 2 Mranggen.
Secara keseluruhan, program revitalisasi di Jawa Tengah ditargetkan mampu menyasar 1.000 sekolah. Hingga saat ini, jumlah sekolah yang telah masuk dalam program tersebut masih sekitar 540 sekolah.
“Target Jawa Tengah itu 1.000 sekolah harus terevitalisasi. Sampai tahap ini baru 240, kemudian kemarin baru 300, sehingga baru 540,” ujarnya.
Untuk tahap ketiga, katanya, Temanggung telah mengusulkan sekitar 34 sekolah. Namun, jumlah tersebut masih dapat berubah berdasarkan hasil survei dan kondisi bangunan di lapangan.
Ia menyebut, masih terdapat sejumlah kecamatan yang belum sepenuhnya terjangkau dalam survei, seperti Tretep dan Wonoboyo.
Oleh karena itu, wilayah pinggiran akan menjadi salah satu prioritas dalam tahap berikutnya.
"Daerah-daerah pinggiran itu diutamakan, terutama daerah 3T (terpencil, terdepan, dan terluar)," katanya.
Ia mengatakan program ini bersifat revitalisasi dan bukan pembangunan sekolah baru dengan fokus memperbaiki serta memperkuat bangunan sekolah yang kondisinya sudah tidak layak atau mengalami kerusakan.
Ia mengatakan sejumlah bangunan yang menjadi sasaran memiliki konstruksi lama. Rata-rata bangunan kelas, terutama yang dibangun puluhan tahun lalu, belum menggunakan konstruksi besi secara memadai.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.