Produksi rumput laut di NTT menunjukkan kinerja positif

July 2026 · 3 minute read

Produksi rumput laut di NTT menunjukkan kinerja positif

Selasa, 28 Juli 2026 14:31 WIB

Image Print

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro saat diwawancarai di Kupang, Selasa. ANTARA/Kornelis Kaha

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan kinerja produksi rumput laut di wilayah berbasis kepulauan itu selama enam tahun terakhir secara konsisten berada di atas satu juta ton.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro di Kupang, Selasa mengatakan berdasarkan data Portal Satu Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut NTT selama periode 2019-2025 terus berfluktuasi.

"Produksi tertinggi tercatat pada 2020 yang mencapai 2.158.886 ton. Pada periode 2021-2024, produksi rumput laut NTT berada pada kisaran 1,39 juta hingga 1,56 juta ton," katanya.

Hingga tahun 2025, berdasarkan data sementara, produksi rumput laut di NTT telah mencapai 1.248.126 ton.

Menurut Stefania, komoditi rumput laut merupakan salah satu komoditas strategis yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir sekaligus penopang sektor kelautan dan perikanan di NTT.

"NTT memiliki potensi sumber daya pesisir dan perairan yang sangat besar untuk pengembangan budidaya rumput laut. Potensi tersebut terus kami optimalkan melalui penguatan kawasan budidaya, peningkatan produktivitas, serta pengembangan hilirisasi agar nilai tambahnya dapat dinikmati oleh masyarakat di daerah," katanya.

Ia menjelaskan, pada 2023 NTT menempati peringkat kedua sebagai produsen rumput laut terbesar di Indonesia setelah Sulawesi Selatan. Capaian tersebut semakin memperkuat posisi NTT sebagai salah satu lumbung rumput laut nasional.

Menurut Stefania, sentra produksi rumput laut di NTT tersebar di sejumlah kabupaten, dengan Kabupaten Kupang sebagai penghasil terbesar, diikuti Kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Alor, Sumba Barat Daya, Lembata, Sumba Barat, Flores Timur, Ngada, dan Nagekeo.

Dia menambahkan untuk mempercepat pengembangan kawasan budidaya, Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan lima klaster pengembangan rumput laut, yakni Klaster Timor, Klaster Rote-Sabu, Klaster Flores Bagian Timur, Klaster Flores Bagian Tengah, dan Klaster Sumba.

"Pendekatan berbasis klaster ini dilakukan agar pengembangan budidaya lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit, produksi, pengolahan hingga pemasaran. Dengan demikian, rantai pasok menjadi lebih efisien dan mampu mendorong tumbuhnya industri pengolahan rumput laut di setiap kawasan," ujarnya.

Selain menjadi komoditas unggulan budidaya, rumput laut juga menjadi salah satu komoditas ekspor NTT. Dia mengatakan berdasarkan data Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Kupang, volume ekspor komoditas kelautan dan perikanan yang didominasi rumput laut kering mencapai 1.238 ton pada 2019, 926 ton pada 2020, 271 ton pada 2021, 822 ton pada 2022, meningkat menjadi 2.471 ton pada 2023, dan tercatat 91 ton pada 2024.

Stefania menambahkan, saat ini pemasaran rumput laut NTT masih didominasi dalam bentuk rumput laut kering yang dipasarkan ke industri pengolahan di dalam negeri sebelum diekspor ke berbagai negara.

"Kalau ekspor ke luar negeri salah satunya ke Timor Leste. Namun datanya masih belum dikumpulkan," tambah dia

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong hilirisasi industri rumput laut agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati di daerah.

"Hilirisasi menjadi salah satu fokus pemerintah daerah. Kami berharap ke depan semakin banyak industri pengolahan yang berkembang di NTT sehingga tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, dan memperkuat kontribusi sektor kelautan terhadap perekonomian daerah," kata Stefania

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.