Istanbul (ANTARA) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu mengatakan bahwa komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, saat ini “sangat sulit” dan menggambarkan kehadirannya sebagai “sumber kekuatan yang sangat besar” bagi negara.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran untuk memperingati dua tahun pelantikannya, Pezeshkian mengatakan bahwa semakin terbuka para pejabat menyampaikan berbagai persoalan kepada pemimpin tertinggi, makan semakin mudah pula tercapai saling pengertian.
Ia menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang “luar biasa”, seraya mengatakan bahwa dirinya terkesan dengan etika, kerendahan hati, dan cara berpikirnya.
Pezeshkian juga menuduh sejumlah pihak berupaya “menciptakan perpecahan” di dalam negeri dengan memanfaatkan pesan pemimpin tertinggi mengenai nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.
Kerangka kerja yang terdiri atas 14 poin tersebut ditandatangani pada 17 Juni 2026 oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk meresmikan gencatan senjata, mencabut blokade laut, dan mengakhiri operasi militer aktif.
Khamenei secara terbuka mendukung nota kesepahaman tersebut meskipun pada awalnya menyampaikan sejumlah keberatan.
Presiden Iran itu mengatakan bahwa para musuh Iran terus meningkatkan tekanan melalui sanksi dan konfrontasi militer dengan tujuan memicu ketidakpuasan publik serta mendorong terjadinya aksi protes. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai masa paling sulit sejak Revolusi Islam 1979.
Adapun Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari.
Pergantian kepemimpinan tersebut terjadi ketika Iran terlibat dalam konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat menyusul ofensif gabungan AS-Israel. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April, kemudian menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni dengan tujuan mengakhiri konflik militer dan mencapai perjanjian perdamaian yang bersifat jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut gagal pada bulan lalu, ketika belah pihak kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan sebelum Presiden Donald Trump secara tiba-tiba menghentikan pemboman di tengah laporan mengenai pembicaraan untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Presiden Iran sebut komunikasi dengan Motjaba Khamenei sangat sulit
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.