PM Kanada sampaikan penangguhan negosiasi dagang dengan AS
Sabtu, 22 Agustus 2026 14:35 WIB
Arsip foto - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (kanan) bertemu dengan Presiden AS Donald Trump (kiri) di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat pada 7 Mei 2026. ANTARA/BRA Government / Ricardo Stuckert - Anadolu Agency /pri.
Istanbul (ANTARA) - Kanada memutuskan untuk menghentikan sementara perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat karena menilai kemajuan pembicaraan belum cukup memenuhi kepentingan negaranya, kata Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Carney mengatakan Ottawa sebelumnya berupaya mencapai "kesepakatan yang adil" untuk memberikan akses terbaik ke pasar AS serta kepastian lebih besar bagi pelaku usaha dan pekerja Kanada.
"Kami telah mencapai kemajuan penting untuk memperkuat posisi Kanada sebagai negara dengan kesepakatan terbaik di dunia dengan AS," kata Carney dalam pernyataan pada Jumat malam.
Menurut dia, kemajuan tersebut belum cukup untuk memenuhi tujuan masyarakat Kanada.
"Akibatnya, malam ini saya memutuskan untuk menangguhkan perundingan perdagangan dengan AS dan mengarahkan para perunding Kanada untuk kembali ke Ottawa," tambahnya.
Carney mengatakan para perunding Kanada telah bekerja keras dan dengan itikad baik untuk membela kepentingan negaranya hingga "menit terakhir".
Namun, perubahan yang dilakukan AS terhadap rancangan ketentuan kesepakatan pada tahap akhir dinilai tidak adil, tidak menguntungkan secara ekonomi, serta keandalan kesepakatan tersebut dipertanyakan.
Carney mengatakan AS berencana mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap sejumlah produk asal Kanada senilai sekitar 28 miliar dolar AS (sekitar Rp494,1 triliun) mulai tengah malam.
"Kanada akan menyamai tarif tersebut dolar demi dolar untuk melindungi pekerja dan dunia usaha kami," kata dia.
Perundingan perdagangan di Washington kembali berlangsung pada Jumat pagi menjelang batas waktu penerapan tarif 50 persen terhadap barang Kanada senilai 30 miliar dolar Kanada atau sekitar 22 miliar dolar AS (sekitar Rp388,2 triliun).
Kedua pihak sebelumnya mengatakan mereka hampir mencapai kesepakatan. Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim pada Rabu bahwa kesepakatan yang "sangat adil" telah tercapai.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026