Samarinda (ANTARA) - Perumda Air Minum Tirta Kencana Kota Samarinda, Kalimantan Timur mengoptimalkan pasokan air baku dari Sungai Mahakam guna memastikan distribusi air bersih ke pelanggan tetap lancar di tengah ancaman kekeringan.
Direktur Utama Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda Nor Wahid Hasyim di Samarinda, Jumat, menjelaskan pihaknya menyiapkan empat tahapan mitigasi yang meliputi strategi normal, strategi waspada, strategi siaga, dan strategi kritis.
"Untuk kondisi saat ini, posisi Kota Samarinda masih berada pada tingkat strategi normal," ujarnya.
Menanggapi situasi tersebut, Wali Kota Samarinda Andi Harun menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan selama 14 hari melalui keputusan wali kota.
Seluruh pembiayaan mitigasi krisis, termasuk mobilisasi bantuan armada tangki air bersih gratis bagi warga yang terdampak, dialokasikan langsung dari dana Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Kota Samarinda untuk menjaga stabilitas pasokan air di tengah penyusutan debit Sungai Mahakam.
Di sisi lain, ia menginstruksikan jajaran Perumda Tirta Kencana meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman intrusi air asin yang mulai mengganggu instalasi pengolahan air (IPA) di kawasan Palaran, Bantuas, Bukuan, dan Pulau Atas.
Ia menegaskan operasional penyedotan air baku (intake) wajib dihentikan sementara jika pengujian berkala menunjukkan kadar klorida garam melewati ambang batas aman kesehatan sebesar 250 parts per million (ppm).
Ia mengatakan sekitar lima hingga enam hari lalu Samarinda sempat memasuki fase waspada akibat fenomena arus sorong.
"Kondisi ini dipicu oleh pasang air laut yang tinggi yang bertepatan dengan fase bulan purnama," katanya.
Menurut dia, fenomena itu sempat mengganggu operasional dua instalasi dan menurunkan kapasitas produksi sementara. Namun, situasi berhasil diatasi dengan baik berkat dukungan curah hujan di wilayah hulu.
Terkait dengan sumber air baku, lebih dari 80 persen kebutuhan di Samarinda disuplai langsung oleh Sungai Mahakam.
Selain itu, Perumda Tirta Kencana memanfaatkan anak Sungai Mahakam, yaitu Sungai Karang Mumus dan Sungai Bengen yang berkapasitas lebih kecil, serta Waduk Benanga.
Hingga saat ini, seluruh sumber air baku tersebut terpantau relatif aman. Sumber dari Sungai Karang Mumus dinilai lebih terjamin karena aliran mengikuti pola pasang-surut Sungai Mahakam.
Kendati demikian, perhatian khusus kini diarahkan pada Waduk Benanga yang bergantung sepenuhnya pada curah hujan.
Volume aliran masuk di waduk penampung air hujan ini terpantau mulai menurun, sehingga menjadi titik pantau utama selama musim kemarau.
Dari sisi produksi, Nor Wahid memastikan belum ada pengurangan kapasitas secara masif akibat kemarau.
Dampak cuaca lebih terasa pada aspek kualitas air, di mana sekitar empat persen wilayah pelayanan mengalami peningkatan kadar zat besi dan mangan yang sempat memengaruhi kejernihan air.
"Kendala tersebut berhasil diatasi melalui penanganan khusus serta penambahan bahan kimia pengolah yang tepat,"'ucapnya.
Sembari menunggu suplai air tawar dari wilayah hulu, ia mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak, terutama di tengah kondisi kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang.
"Kami mengajak masyarakat untuk berhemat menggunakan air agar pasokan bisa merata untuk semua. Masyarakat juga diharapkan melakukan penampungan air secukupnya,” kata Nor Wahid.
Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.