Liputan6.com, Washington, DC - Para ilmuwan untuk pertama kalinya di dunia berhasil menciptakan virus yang seluruh kode genetiknya (genom) dirancang secara utuh oleh kecerdasan buatan (AI). Pencapaian revolusioner ini membuka peluang bagi pengembangan pengobatan baru, tetapi sekaligus memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan teknologi tersebut.
Virus yang dibuat dalam penelitian ini adalah bakteriofag, yakni jenis virus yang hanya menginfeksi bakteri. Bakteriofag telah digunakan di berbagai negara untuk menangani pasien dengan infeksi yang sulit disembuhkan.
Dalam uji laboratorium, campuran virus hasil rancangan AI mampu membunuh bakteri E. coli yang kebal terhadap bakteriofag alami.
Menurut laporan The Guardian, Brian Hie, insinyur kimia dari Stanford University di California, menggunakan model bahasa genom atau genome language models untuk merancang genom bakteriofag yang dapat berfungsi. Teknologi ini bekerja dengan prinsip yang mirip dengan model bahasa besar yang digunakan pada chatbot AI, tetapi diterapkan pada informasi genetik.
Virus hasil rancangan tersebut kemudian dibuat di laboratorium dan diuji terhadap bakteri E. coli.
Para peneliti menulis dalam jurnal Science bahwa kemampuan untuk merancang genom dengan cepat, menyesuaikannya agar dapat menyerang bakteri tertentu, serta mengatasi resistansi berpotensi "mengubah terapi fag" dan "memperluas perangkat bioteknologi".
Namun, di balik potensi tersebut, para ilmuwan mengingatkan bahwa penelitian ini memunculkan persoalan penting terkait keselamatan hayati, pencegahan agar organisme hasil rekayasa tidak lepas dari lingkungan terkendali, serta keamanan hayati.
Mereka meminta peneliti lain yang mengembangkan genom secara utuh untuk melibatkan ahli keselamatan dan keamanan selama penelitian berlangsung.
Peringatan serupa disampaikan Tom Inglesby dan Moritz Hanke dari Center for Health Security di Johns Hopkins University, Baltimore, dalam tulisan yang diterbitkan bersamaan dengan penelitian tersebut.
"Meski menjanjikan untuk berbagai penerapan dalam ilmu hayati, teknologi ini juga memunculkan pertanyaan mendesak mengenai keselamatan dan keamanan hayati. Kemampuan menyusun genom virus menggunakan AI generatif kini sudah ada, tetapi tata kelola untuk memastikan penggunaannya tetap aman belum tersedia," tulis mereka.