Perbankan Optimistis Kualitas Aset Makin Sehat hingga Akhir Tahun, Ini Alasannya

July 2026 · 4 minute read

ILUSTRASI. Berdasarkan OJK, rasio LaR industri perbankan capai 8,72% pada Mei 2026, membaik dibandingkan April 2026 yang sebesar 8,82% (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas aset industri perbankan terus membaik. Hal ini tercermin dari rasio Loan at Risk (LaR) yang terus menurun hingga pertengahan tahun, seiring membaiknya kemampuan bayar debitur dan berkurangnya kredit restrukturisasi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio LaR industri perbankan tercatat sebesar 8,72% pada Mei 2026. Angka tersebut membaik dibandingkan April 2026 yang sebesar 8,82%, maupun posisi Mei 2025 yang mencapai 9,93%.

Perbaikan kualitas aset juga terlihat pada sejumlah bank yang telah merilis laporan keuangan semester I-2026.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) misalnya, mencatatkan rasio LaR turun menjadi 18,6% pada semester I-2026 dari 20,2% pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: YOII: Peningkatan Adopsi Kendaraan Listrik Berdampak Positif bagi Industri Asuransi

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) secara konsolidasi berhasil menurunkan LaR menjadi 5,83% per Juni 2026 dari 6,92% pada Juni 2025.

Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, penurunan LaR mencerminkan kualitas aset industri perbankan yang terus membaik.

Menurutnya, tren tersebut didorong oleh menurunnya porsi kredit restrukturisasi serta kemampuan bayar debitur yang masih terjaga.

"Penurunan LaR pada semester I menunjukkan kualitas aset perbankan terus membaik, didorong oleh menurunnya kredit restrukturisasi dan kemampuan bayar debitur yang masih terjaga," ujar Trioksa kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Ia memperkirakan, tren perbaikan tersebut masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun, meski lajunya kemungkinan melambat akibat dampak suku bunga tinggi terhadap permintaan kredit.

Menurut Trioksa, segmen yang masih perlu diwaspadai meliputi UMKM, kredit konsumsi tanpa agunan, serta sektor-sektor yang sensitif terhadap pelemahan daya beli seperti perdagangan, properti, dan industri padat karya.

"Hingga akhir tahun saya memperkirakan LaR masih cenderung turun tipis atau stabil di kisaran 8,5%-9,0%, dengan syarat kondisi ekonomi tetap terjaga," katanya.

Baca Juga: AAUI: Peningkatan Penjualan Kendaraan Listrik Bisa Berdampak Positif bagi Asuransi

Ia menambahkan, untuk menjaga tren tersebut bank perlu memperkuat early warning system, meningkatkan kualitas underwriting, melakukan restrukturisasi secara selektif, menjaga pencadangan yang memadai, serta memperketat pemantauan portofolio pada sektor-sektor yang lebih berisiko.

Adapun Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, penurunan LaR pada semester I-2026 menunjukkan efektivitas transformasi manajemen risiko yang dijalankan perseroan.

Menurutnya, perbaikan kualitas aset didorong oleh meningkatnya kualitas origination kredit baru melalui loan factory, percepatan penyelesaian kredit bermasalah, serta membaiknya performa debitur hasil restrukturisasi.

"Penurunan Loan at Risk pada Semester I 2026 mencerminkan semakin membaiknya kualitas aset BTN seiring efektivitas transformasi manajemen risiko dan penguatan proses kredit," ujarnya.

BTN optimistis, tren tersebut masih akan berlanjut meski tetap mewaspadai dinamika suku bunga dan kondisi ekonomi.

Perseroan akan memperkuat underwriting berbasis risiko, meningkatkan early warning system, memperketat pemantauan portofolio, serta mempercepat restrukturisasi dan pemulihan kredit bermasalah.

Setiyo mengakui, perhatian perseroan masih tertuju pada debitur di sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi, terutama segmen komersial, konstruksi tertentu, serta debitur konsumsi yang mengalami penurunan pendapatan.

Namun, hingga kini kualitas portofolio masih berada dalam batas risk appetite BTN.

BTN menargetkan, rasio LaR dapat terus membaik hingga berada di bawah 17% pada akhir 2026.

Baca Juga: Tawarkan Kupon Hingga 7%, Begini Cara Investasi ORI030 di BRImo

Di sisi lain, Bank Mandiri juga berhasil memperbaiki kualitas aset di tengah ekspansi kredit yang masih kuat.

Selain menurunkan rasio LaR menjadi 5,83%, Bank Mandiri juga mencatat rasio kredit bermasalah (gross NPL) bank only membaik menjadi 0,98%, atau turun 10 basis poin dibandingkan tahun lalu.

Pada saat yang sama, cost of credit (CoC) turun menjadi 0,52% per Juni 2026, sementara NPL coverage ratio mencapai 242%, mencerminkan pencadangan yang kuat untuk mengantisipasi potensi risiko kredit.

Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro mengatakan, seluruh ekspansi kredit dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

"Kami memastikan pertumbuhan kredit selalu berjalan beriringan dengan kualitas aset yang terjaga. Prinsip kehati-hatian inilah yang menjaga akselerasi bisnis tetap sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Danis.

Menurutnya, kualitas aset yang terjaga memberikan ruang bagi Bank Mandiri untuk terus mendukung pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah tanpa mengorbankan profil risiko.

Baca Juga: Hasil Investasi Asuransi Syariah Tergerus, Ini Penyebabnya

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan juga menyebut kualitas aset CIMB Niaga masih berada pada level yang sangat baik.

Hingga semester I-2026, rasio LaR CIMB Niaga tercatat sekitar 6,4% apabila memasukkan sisa kredit restrukturisasi pandemi Covid-19. Sementara jika tidak memasukkan portofolio tersebut, rasio LaR berada di kisaran 5,2%.

"Saat ini overall asset quality kami dari semua segmen sangat baik. Posisi LaR sekitar 6,4% jika termasuk sisa Covid, sedangkan di luar itu sekitar 5,2%. Secara year on year juga terus menurun," ujar Lani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag