Penerbangan Bandara Singkawang satu bulan terhenti dampak kabut asap karhutla - ANTARA News Kalimantan Barat

September 2026 · 3 minute read

Singkawang (ANTARA) - Kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menyebabkan operasional penerbangan di Bandara Singkawang terhenti hingga kini sudah satu bulan, sehingga pemerintah kota bersama pihak terkait mencari alternatif pengaturan jadwal penerbangan.

Kepala Satuan Pelayanan Bandara Singkawang Ilham Hafizi di Singkawang, Jumat, mengatakan penerbangan di bandara tersebut hingga Jumat ini belum kembali beroperasi karena kondisi kabut asap yang masih tebal.

“Iya, genap sebulan. Hal itu dikarenakan kabut asap hingga kini masih tebal,” katanya.

Sebelumnya, Ilham Hafizi menyebutkan bahwa penerbangan terakhir yang beroperasi di Bandara Singkawang pada 17 Agustus 2026. Setelah itu, seluruh jadwal penerbangan belum dapat diberangkatkan hingga saat ini.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Pemerintah Kota Singkawang karena terganggunya konektivitas udara berdampak terhadap mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan bandara.

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan pemerintah kota mendorong adanya alternatif pengaturan jadwal penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi jarak pandang, salah satunya melalui penerbangan pada pagi hari.

“Jarak pandang pada pagi hari relatif lebih baik dibandingkan sore hari yang cenderung mengalami penurunan akibat kabut asap,” katanya.

Hal tersebut disampaikan Tjhai Chui Mie dalam rapat kerja bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Singkawang serta perwakilan maskapai penerbangan di Kantor Wali Kota Singkawang.

Ia mengatakan usulan penerbangan pagi tetap harus menyesuaikan hasil pemantauan kondisi cuaca dan ketentuan keselamatan penerbangan.

“Upaya ini penting untuk menjaga mobilitas masyarakat serta mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan Bandara Singkawang yang turut terdampak akibat berkurangnya aktivitas penerbangan,” ujarnya.

Pemerintah Kota Singkawang, kata dia, akan terus berkoordinasi dengan BMKG, pengelola bandara, Lanud Supadio dan pihak maskapai untuk melihat kemungkinan pengaturan jadwal penerbangan yang disesuaikan dengan kondisi jarak pandang.

Menurut dia, upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga konektivitas udara sekaligus menggerakkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha, pedagang, pengemudi dan sektor jasa yang bergantung pada aktivitas penumpang bandara.

Sementara itu, perwakilan maskapai TransNusa, Adji Jallu Wicaksono mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan kondisi udara di Singkawang.

Ia mengatakan keselamatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keberangkatan pesawat. Apabila penerbangan dibatalkan, maskapai juga akan memenuhi hak penumpang sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami memberikan tenggat waktu penggantian selama tujuh hari ke depan kepada penumpang yang terdampak,” katanya.

Terkait usulan penerbangan pagi, Adji mengatakan pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan manajemen pusat untuk memastikan kemungkinan pengaturan jadwal tersebut.

“Kalau dilihat dari kondisi udara pada pagi hari untuk di Singkawang memang lebih memungkinkan,” ujarnya.

Adji juga meminta agen perjalanan atau travel yang menjual tiket penerbangan untuk menyampaikan informasi sesuai dengan status penerbangan yang telah ditetapkan maskapai.

Jika maskapai telah menutup jadwal penerbangan, pihak penjual tiket diharapkan tidak memberikan informasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman kepada calon penumpang.

“Jangan memberikan harapan kepada penumpang sehingga terjadi miskomunikasi,” katanya.

Pewarta: Narwati
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.