Denpasar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menandatangani kerja sama pengembangan transportasi massal trem listrik berbasis baterai rute Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu untuk mengatasi kemacetan dan mendukung kepariwisataan.
"Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga, keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali," kata Gubernur Bali Wayan Koster usai penandatanganan kerja sama di Denpasar, Selasa.
Koster menyampaikan bahwa penandatanganan kesepakatan yang dihadiri Bupati Badung, Dirut PT KAI, CEO Angkasa Pura, dan Sekda Badung ini merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian Bappenas dan Pemprov Bali.
Moda trem listrik sendiri dinilai semakin konkret menjadi solusi kemacetan di koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu yang mencatatkan mobilitas harian hingga 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan.
Ia memastikan selain mendukung kepariwisataan, nantinya jalur trem listrik sepanjang 12 kilometer akan memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek wisata, lingkungan, permukiman, hingga kehidupan masyarakat setempat.
Gubernur Koster sepakat pengembangan infrastruktur tidak boleh mengganggu ekosistem Bali.
"Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, Koster menjelaskan trem dirancang secara khusus agar berbeda dari kereta konvensional, yakni berukuran kecil bahkan lebih kecil dari bus dengan lebar dimensi 2 meter lebih, tidak berisik, ramah lingkungan, serta bebas kabel melayang karena berbasis baterai.
Sesuai kesepakatan, trem listrik diproyeksikan memiliki waktu tempuh 30 menit dengan interval keberangkatan 10 menit.
Moda ini ditargetkan mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari atau mengakomodasi 40 persen mobilitas kawasan.
Setelah penandatanganan ini, pihak Pemprov Bali bersama pemangku kepentingan akan segera menggelar studi teknis, sosialisasi, hingga pelibatan desa adat.
Tahap peletakan batu pertama (groundbreaking) rencananya berlangsung pada Maret 2027, kemudian trase pertama dapat mulai beroperasi pada 2028 dan seluruh jalur hingga Canggu rampung sepenuhnya pada 2029.
Dalam kerja sama ini, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menyatakan bahwa pihaknya akan menempatkan aspek budaya, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat Bali sebagai pertimbangan utama sejak awal perencanaan.
"Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali," ucap Bobby.
Pilihan pada teknologi berbasis baterai juga disepakati demi meminimalkan dampak lingkungan dan tingkat kebisingan, sekaligus menjaga kenyamanan warga lokal maupun wisatawan di Pulau Dewata.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.