Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota Surabaya membekali petugas penerima panggilan darurat (call taker) layanan Command Center 112 Surabaya kemampuan untuk menghadapi laporan krisis psikologis supaya bisa ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya Linda Novanti di Surabaya, Selasa, mengatakan layanan Command Center 112 Surabaya tidak hanya mengandalkan kecepatan dalam menerima laporan warga.
"Call taker memiliki peran penting sejak laporan pertama kali diterima. Mereka tidak hanya mencatat informasi dari warga, tetapi juga melakukan asesmen awal untuk mengetahui kondisi dan menentukan langkah penanganan selanjutnya," katanya.
Ia mengatakan, call taker sudah dibekali Psychological First Aid (PFA) atau penanganan psikologis. Sehingga, ketika menerima laporan bisa melakukan asesmen awal, menimbang kondisinya, kemudian menentukan langkah berikutnya.
Menurut dia, call taker juga berkoordinasi dengan petugas teknis dan pos terdekat agar laporan dapat segera ditindaklanjuti. Saat menerima laporan, petugas akan menggali kondisi yang dialami warga sekaligus memastikan lokasi kejadian agar petugas lapangan dapat segera menuju titik yang tepat.
Ia menjelaskan, pendampingan terhadap warga yang menghubungi Command Center 112 juga diperkuat dengan keberadaan tenaga medis di ruang layanan. Tenaga kesehatan dapat memberikan arahan awal kepada warga mengenai tindakan yang perlu dilakukan sambil menunggu petugas datang ke lokasi.
"Tenaga nakes yang dapat memandu warga. Karena kadang warga tidak tahu harus melakukan apa. Jadi bisa diarahkan dulu, jangan panik, kemudian diberikan langkah awal sambil menunggu tenaga medis datang," tuturnya.
Command Center 112 juga mendapat dukungan psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya. Psikolog tersebut ditempatkan di ruang Command Center 112 dan bersiaga dalam tiga shift untuk membantu ketika terdapat laporan yang membutuhkan pendampingan psikologis.
"Juga ada satu orang dari DP3APPKB yang merupakan seorang psikolog. Mereka standby," ujarnya.
Keberadaan psikolog tersebut menjadi bagian dari upaya Command Center 112 memberikan penanganan yang lebih menyeluruh. Sebab, tidak semua laporan darurat hanya membutuhkan respons fisik atau pengiriman petugas ke lokasi.
"Dalam situasi tertentu, warga juga membutuhkan pendampingan dan komunikasi yang tepat agar kondisi dapat ditangani dengan tenang," katanya.
Pewarta: Indra Setiawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.