Pangkalpinang (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), membentuk sekat bakar dengan membersihkan batas Kebun Raya Tua Tunu dengan lahan masyarakat, guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau ekstrem.
"Kita sudah membuat sekat antara lahan kebun raya dengan lahan warga untuk memutus jalur api jika terjadi kebakaran," kata Ketua Tim Kebun Raya Tua Tunu Kota Pangkalpinang Sugiantoro di Pangkalpinang, Jumat.
Ia mengatakan Hutan Wisata Tua Tunu Kota Pangkalpinang ini memiliki luas 60,8 hektare dan ditumbuhi berbagai tanaman endemik Pulau Bangka Belitung, seperti pohon manggis kelabang, rambutan hutan, kecapi, pelawan, seruk, puspa, anggrek, dan tanaman khas daerah lainnya.
Selain itu Kebun Raya Tua Tunu Kota Pangkalpinang ini menjadi salah satu pusat penelitian dari peneliti dari BRIN, akademisi, dan mahasiswa, untuk meneliti tanaman endemik Pulau Bangka Belitung yang terancam punah karena pembukaan lahan perkebunan, pertambangan, dan pemukiman.
"Sepanjang batas kebun raya dengan lahan warga sudah dibersihkan dari semak belukar, ilalang, daun kering, kayu-kayu kering, dan material yang mudah terbakar lainnya untuk melindungi hutan konservasi ini dari kebakaran," ujarnya.
Menurut dia, potensi karhutla selama musim kemarau ekstrem ini cukup tinggi, apalagi dengan adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar.
"Alhamdulillah, hingga saat ini belum ada terjadi kebakaran lahan di sekitar kebun raya ini dan diharapkan masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau ekstrem ini," ujar Sugiantoro.
Ia mengimbau masyarakat yang memiliki lahan di kawasan kebun raya ini tidak melakukan pembakaran, karena potensi terjadinya kebakaran yang lebih besar sangat tinggi.
"Kami sudah menyosialisasikan bahaya karhutla ini kepada warga dan diharapkan masyarakat saling menjaga dan mengantisipasi karhutla ini," katanya.
Pewarta: Aprionis
Uploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.