Pemkab Manokwari replikasi program Ekspedisi Patriot wujudkan ekonomi mandiri - ANTARA News Papua Tengah

September 2026 · 3 minute read

Manokwari (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari, Papua Barat, berkomitmen mereplikasi penyelenggaraan program Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi (Kementrans) sebagai upaya mewujudkan kemandirian perekonomian masyarakat lokal.

Bupati Manokwari Hermus Indou di Manokwari, Sabtu, mengatakan pengembangan komoditas pangan lokal menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi harus dilakukan secara berkelanjutan agar berdampak pada kesejahteraan masyarakat setempat.

"Program Ekspedisi Patriot Kementrans yang dilaksanakan tim dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dua bulan lagi berakhir, dan kami akan lanjutkan," ujar Hermus.

Menurut dia, pelaksanaan riset, kajian, sosialisasi serta pelatihan keterampilan bagi masyarakat di kawasan transmigrasi yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot Unair merupakan modal penting mengoptimalkan pengembangan produk pangan lokal.

Penetapan empat distrik oleh pemerintah pusat sebagai lokasi Ekspedisi Patriot 2026 bukan tanpa alasan, tetapi merujuk pada data potensi sumber daya alam (SDA) yang belum dikelola maksimal, baik di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan lainnya.

"Jadi mulai dari hulunya kami akan perkuat tetapi tentu pemerintah daerah juga butuh dukungan pemerintah pusat agar bisa maksimal," ucap Hermus.

Sebelum mereplikasi, kata dia, pemerintah daerah terlebih dahulu melakukan indentifikasi terhadap kebutuhan modal untuk pengembangan usaha, serta sarana dan prasarana dalam menunjang kegiatan produksi pangan lokal menjadi produk turunan.

Pendampingan yang dilakukan secara berkesinambungan tidak hanya berdampak pada peningkatan kapasitas masyarakat menjadi pengusaha lokal, tetapi turut mendukung menciptakan kawasan transmigrasi sebagai pusat ekonomi baru di Kabupaten Manokwari.

"Kami akan bantu kesulitan masyarakat memperoleh modal usaha maupun sarana prasarana produksi," ujar Hermus.

Dosen Unair Surabaya Zamal Nasution menyebut, pihaknya fokus melakukan pengembangan buah matoa dengan sejumlah produk turunan seperti dodol, selai, es krim, stik renyah, kacang, teh herbal hingga sambal bercita rasa pedas manis.

Program pemberdayaan tersebut melibatkan 18 orang mama-mama Suku Arfak di Kampung Dindey, Distrik Warmare, Manokwari yang selama ini hanya menjual hasil panen buah matoa dengan rata-rata pendapatan per bulan kurang lebih sebanyak Rp700 ribu.

"Melalui pengolahan matoa menjadi produk turunan, kami proyeksi pendapatan per bulan bisa mencapai Rp2,4 juta," ucap Zainal.

Selain itu, kata dia, Tim Ekspedisi Patriot Unair juga memberikan pelatihan bagi generasi muda di Kampung Dindey agar dapat memanfaatkan kanal media sosial sebagai sarana dalam memperluas pemasaran produk turunan hasil pengolahan buah matoa.

Hal ini sejalan dengan penguatan kapasitas produksi dengan kemasan yang sesuai standar, fasilitasi penerbitan nomor induk berusaha (NIB), sembari melengkapi syarat dan ketentuan untuk memperoleh izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

"Hilirisasi sederhana di tingkat kampung mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan. Sekarang, ada satu toko ritel modern di Manokwari yang siap menerima produk olahan matoa," ucap Zainal.

Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.