Pasar Futures Kripto RI Makin Berkembang, Investor Perlu Pahami Peluang dan Risikonya |Republika Online

September 2026 · 3 minute read

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perdagangan derivatif menjadi salah satu segmen penting dalam pasar aset kripto global, sementara pasar Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang seiring bertambahnya jumlah konsumen aset keuangan digital. Perkembangan futures kripto tersebut juga meningkatkan kebutuhan edukasi agar investor memahami mekanisme perdagangan, penggunaan leverage, volatilitas, serta risiko likuidasi.

Berdasarkan data yang diamati pada 3 September 2026 pagi, sebanyak 73,44 persen akun berada pada posisi long kontrak ETHUSDT perpetual, sedangkan 26,56 persen berada pada posisi short, dengan long/short ratio 2,77. Pada BTCUSDT perpetual, posisi long tercatat 54,8 persen dan short 45,2 persen.

Data tersebut menunjukkan posisi long lebih dominan pada Ethereum dibandingkan Bitcoin pada saat pengamatan. Namun, long/short ratio hanya menggambarkan posisi pasar pada waktu tertentu dan dapat berubah cepat sehingga tidak dapat menjadi kepastian mengenai arah harga aset.

Secara global, perdagangan derivatif juga memiliki porsi besar dalam aktivitas pasar aset kripto. Data dan riset CoinMarketCap menunjukkan perdagangan derivatif pada periode tertentu menyumbang sekitar 79 persen dari total volume perdagangan aset kripto global.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital mencapai 22,93 juta akun. Jumlah tersebut menunjukkan basis konsumen yang dapat menjadi ruang pertumbuhan perdagangan aset keuangan digital, termasuk futures.

Di tengah perkembangan tersebut, pemahaman mengenai karakteristik futures menjadi penting karena instrumen ini memiliki mekanisme berbeda dengan perdagangan spot. Futures memungkinkan pengguna mengambil posisi long maupun short, sementara penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian.

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan edukasi diperlukan agar investor memahami karakteristik setiap instrumen sebelum melakukan transaksi.

“Futures memberikan fleksibilitas untuk mengambil posisi ketika pasar bergerak naik maupun turun. Namun, peluang tersebut harus diikuti pemahaman yang baik mengenai mekanisme dan risiko futures,” ujar Ryan, Kamis (3/9/2026).

Volatilitas harga dapat membuat nilai posisi berubah dalam waktu singkat. Ketika margin tidak lagi mencukupi, posisi juga dapat mengalami likuidasi, sehingga ukuran posisi, tingkat leverage, kondisi pasar, dan kemampuan menanggung risiko menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sebelum bertransaksi.

Kebutuhan edukasi tersebut sejalan dengan upaya OJK melalui penerbitan Buku Saku Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto 2.0. Materi tersebut mencakup ekosistem aset digital, regulasi, risiko, perlindungan konsumen, perkembangan industri, dan inovasi.

Bittime mengangkat isu perkembangan futures dan edukasi investor dalam Bittime Alpha Gala Night yang menjadi rangkaian Coinfest Asia pada Agustus 2026. Aktivitas perdagangan juga tercermin dari data internal Bittime yang mencatat BTCUSDT-PERP, HYPEUSDT-PERP, dan PUMPUSDT-PERP sebagai tiga top tokens di Bittime Futures dalam periode tujuh hari terakhir.

“Kami melihat peluang Bittime Futures di Indonesia masih terbuka. Karena itu, pengembangan produk perlu berjalan bersama edukasi agar pengguna dapat memahami peluang sekaligus mengelola risiko sesuai profilnya,” kata Ryan.

Dari sisi pelaku pasar, senior trader sekaligus pendiri komunitas trader Theory of Whaless, Lely Marthadinata, menilai perkembangan futures perlu diikuti peningkatan pemahaman investor. Karakteristik futures yang memungkinkan trader mengambil posisi ketika pasar naik maupun turun membuat pemahaman terhadap mekanisme dan risiko menjadi semakin penting.

“Perkembangan futures di Indonesia memiliki potensi besar, tetapi pertumbuhan tersebut perlu diikuti edukasi yang memadai. Trader perlu memahami mekanisme futures, termasuk risiko leverage dan volatilitas, agar dapat mengambil keputusan secara lebih terukur,” ujar Lely.

Perkembangan futures di Indonesia tidak hanya bergantung pada pertumbuhan aktivitas transaksi, tetapi juga kemampuan pelaku pasar memahami risiko instrumen tersebut. Pertumbuhan basis konsumen aset digital dan meningkatnya aktivitas derivatif akan membuat literasi mengenai leverage, volatilitas, dan manajemen risiko semakin relevan bagi perkembangan pasar.